“Gereja Sinodal: Berjalan Bersama Menyembuhkan Dunia”

Kiri ke Kanan Rm. Brendan CM, sebagai Moderator, Mgr. Senno Ngutra Ketua KOMKAT KWI, Mgr Sunarko Pemateri pertama 04-08-2026. (Gambar: Dokumentasi KOMSOS KWI)

Disarikan dari paparan “Gereja Sinodal: Berjalan Bersama Menyembuhkan Dunia” oleh Mgr. Adrianus Sunarko, OFM. dalam Kegiatan PKKI Ke 13, Komisi Kateketik KWI

“Berjalan Bersama”: Ketika Gereja Belajar Menyembuhkan Dunia

Ada satu gambar sederhana yang sering muncul kembali setiap kali orang membicarakan sinodalitas: sekelompok murid menebar jala di Danau Tiberias. Masing-masing punya tugasnya sendiri, tidak sama, tapi bergerak dalam koordinasi. Tidak ada yang bekerja sendirian, dan justru dari situlah hasil yang berlimpah datang.

Gambar itu bukan sekadar ilustrasi indah. Bagi Gereja Katolik hari ini, ia adalah cermin dari sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak 2021 dan belum selesai: Sinode tentang Sinodalitas.

Perjalanan yang Belum Usai

Banyak orang mengira Sinode sudah “tamat” setelah Sidang Umum sesi kedua di Vatikan pada Oktober 2024 menghasilkan Dokumen Akhir. Padahal itu baru satu babak. Sejak Juni 2025, Gereja memasuki tahap implementasi—masa di mana gagasan besar tentang “berjalan bersama” diuji di lapangan: di keuskupan, di paroki, di komunitas basis. Proses evaluasi akan berlanjut hingga 2027 dan 2028, sebelum akhirnya bermuara pada sidang gerejawi universal berikutnya di Vatikan.

Dengan kata lain, sinodalitas bukan proyek yang selesai ditandatangani lalu disimpan di rak. Ia sedang berjalan, dan setiap orang beriman—entah disadari atau tidak—ikut menapakinya.

Tiga Kata yang Menopang Segalanya: Komunio, Partisipasi, Misi

Kalau harus meringkas ratusan halaman Dokumen Akhir Sinode ke dalam satu kalimat, jawabannya mungkin ini: Gereja hanya bisa dipercaya mewartakan Injil kalau ia sendiri hidup dalam persekutuan yang tulus—dan persekutuan itu hanya bermakna kalau semua orang, bukan segelintir, ikut ambil bagian di dalamnya.

Bukan hierarki semata yang menjadi subjek Gereja sinodal, melainkan seluruh Umat Allah: awam, religius, diakon, imam, uskup, hingga Paus. Setiap orang yang dibaptis, kata dokumen itu, dipanggil menjadi “pelaku utama misi.” Pelayan tertahbis tetap punya peran khas—menjaga kesatuan dan ciri apostolik pewartaan—tetapi peran itu dijalankan di tengah, bukan di atas, umat.

Yang menarik, dokumen ini juga secara eksplisit mendorong pengakuan yang lebih penuh terhadap peran perempuan dalam hidup Gereja—mulai dari ruang kepemimpinan hingga cara kotbah dan katekese menghadirkan sosok-sosok perempuan kudus dan teolog perempuan yang selama ini kerap luput disebut.

Mendengarkan sebagai Cara Beriman

Salah satu istilah yang paling sering muncul dalam dokumen ini adalah ecclesial discernment—penilaian rohani bersama. Ini bukan teknik rapat organisasi biasa, melainkan sebuah laku spiritual: butuh kerendahan hati, kesediaan mendengar, dan keterbukaan pada kejutan Roh Kudus.

Prinsipnya sederhana tapi radikal: keputusan dalam Gereja idealnya lahir dari “keputusan Roh Kudus dan keputusan kami bersama” (bdk. Kis 15:28). Otoritas para uskup tetap dihormati sebagai bagian dari struktur yang didirikan Kristus sendiri, tetapi otoritas itu dipanggil untuk tidak mengabaikan buah-buah konsultasi umat tanpa alasan yang jelas. Transparansi dan akuntabilitas, tegas dokumen ini, bukan pilihan tambahan—ketiadaannya justru menyuburkan klerikalisme.

Misi di Tengah Dunia yang Berubah Cepat

Gereja sinodal tidak dipanggil untuk berpusat pada dirinya sendiri. Ia diutus ke kota-kota besar yang haus kreativitas pastoral baru, ke desa-desa yang jangan sampai terlupakan, ke jalur-jalur migrasi manusia yang makin ramai, dan—tidak kalah penting—ke dunia digital yang mengubah total cara orang muda mengalami ruang, waktu, dan relasi.

Dokumen Bangkok dari FABC (Federasi Konferensi-konferensi Uskup se-Asia) tahun 2023 menegaskan hal serupa dengan bahasa yang sangat konkret: mendampingi migran dan pengungsi, memberi ruang kepemimpinan lebih luas bagi perempuan di Gereja Asia, merawat kaum muda, hingga mendorong pemanfaatan teknologi digital secara efektif untuk pewartaan.

Jembatan, Bukan Tembok

Dari sekian banyak kata kunci dalam materi ini, satu metafora terasa paling menyentuh: jembatan. Dalam Pesan Sidang Pleno FABC, Gereja Asia menggambarkan dirinya sebagai jembatan kepercayaan di tengah kecurigaan, jembatan damai di tengah konflik, jembatan kasih sayang bagi mereka yang miskin dan terpinggirkan, serta jembatan harapan bagi generasi muda yang gelisah menghadapi perubahan zaman.

Dan Indonesia punya simbolnya sendiri. Para peserta FABC menyebut pengalaman berjalan di Terowongan Silaturahmi—lorong yang menghubungkan Katedral Jakarta dengan Masjid Istiqlal—sebagai gambaran hidup dari panggilan itu: iman yang membangun jembatan, bukan penghalang.

Suara Paus Leo XIV: Rangkulan yang Membebaskan

Dalam beberapa homili terbarunya, Paus Leo XIV mengajak Gereja untuk membiarkan Roh Kudus memurnikan ketegangan-ketegangan yang wajar terjadi—antara kesatuan dan keragaman, tradisi dan pembaruan, otoritas dan partisipasi—alih-alih membiarkannya jatuh menjadi polarisasi yang saling menghancurkan.

“Kasih Kristus merangkul kita,” katanya, “dan rangkulan itu membebaskan, bukan memiliki.” Kepada para imam khususnya, Paus Leo XIV menitipkan sebuah seruan sederhana namun berat maknanya: jadilah pembangun persatuan dan perdamaian, bukan dengan mendominasi, melainkan dengan melayani.

Bukan Dokumen untuk Rak Buku

Di ujung semua istilah teknis—sinodalitas, discernment, differentiated co-responsibility—ada satu pesan yang sebetulnya sangat manusiawi: Gereja ingin belajar berjalan dengan cara yang membuat tak seorang pun merasa tersisih. Entah dia orang miskin, perempuan, kaum muda, difabel, migran, atau siapa pun yang selama ini merasa berada di pinggiran.

Rangkuman dari seluruh perjalanan ini barangkali bisa dipadatkan dalam tiga hal: dijiwai relasi Allah Tritunggal, hidup dalam kebhinekaan yang harmonis, dan berjalan bersama mewartakan sukacita Injil—dengan perhatian istimewa pada mereka yang menderita, serta pada bumi yang menjadi rumah bersama.

Perjalanan Sinode memang belum tamat. Tapi barangkali justru di situlah letak kabar baiknya: selama Gereja masih mau berjalan bersama, selalu ada ruang untuk terus disembuhkan dan menyembuhkan.

Disarikan dari paparan “Gereja Sinodal: Berjalan Bersama Menyembuhkan Dunia” oleh Mgr. Adrianus Sunarko, OFM.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *