Renungan Hari Minggu II Prapaskah: “Doa Memancarkan Kebahagiaan Bagi Orang Lain”

Bacaan: Kej. 22:1-2, 9a. 10-13, 15-18; Rm.8:31b – 34; Mrk 9: 2-10.

Kisah Injil di hari minggu kedua pra-paskah ini tentang Yesus berubah rupa di depan para murid-Nya di puncak Tabor ketika Elia dan Musa sedang berbicara dengan Yesus disaksikan oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes, membawa suatu sukacita rohani yang sungguh luar biasa. Bahkan Petrus mewakili teman-temannya mengungkapkan sukacita itu dengan berkata, “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini, Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia”. Peristiwa yang sangat istimewa itu terjadi sebelum peristiwa salib di bukit Golgota. Hal ini mau menunjukkan bahwa Yesus dimaklumkan dan dimuliakan baik di Tabor, juga di Golgota. Ini adalah peristiwa Yesus dimuliakan.

Kisah Tabor adalah kisah perjumpaan Yesus dengan tokoh-tokoh Perjanjian Lama dan perjumpaan-Nya dengan Bapa dalam keheningan doa. Yesus selalu memberi waktu khusus di tengah kesibukan-Nya untuk masuk dalam keheningan doa. Dalam keheningan doa itulah, Ia memperoleh kekuatan dalam perjumpaan dengan Bapa. Keheningan doa bukan menjadi sebuah pelarian bagi Yesus, tetapi menjadi moment istimewa mengalami sukacita rohani, sukacita iman. Sukacita perjumpaan dengan Bapa. Dalam doa, Yesus dimampukan untuk menghadapi penderitaan, salib dan kematian-Nya.

Dari pengalaman Yesus ini, di masa pra-paskah ini kitapun boleh belajar dari semangat dan teladan yang Yesus tunjukan. Bagi kita, salah satu bentuk pertobatan dan matiraga selama masa penuh rahmat ini adalah meningkatkan kualitas dan kwantitas doa kita. Doa harus memampukan kita untuk berubah; terlebih berubah sikap dan cara hidup yang sebelumnya jauh dari Allah, yang sebelumnya selalu mengandalkan kemampuan diri, kita kembali menjadi lebih dekat dengan Allah, lebih mengandalkan Allah. Hanya dengan ketekunan dan kesetiaan dalam dan melalui doa, kita dimampukan untuk menjalani hidup yang penuh tantangan dan berat ini. Seperti Yesus, doa kita pun memancarkan kemuliaan dan kesucian yang membawa kita untuk menjadi lebih beriman, menjadi semakin matang dan dewasa serta memancarkan kesucian hidup kita. Orang yang dalam hidupnya selalu berdoa dan mengandalkan Tuhan akan mengalami kegembiraan, sukacita, di tengah tantangan dan penderitaan.

Doa juga membuat orang tetap bersemangat dan penuh pengharapan. Dalam doa-Nya Yesus berjumpa dengan Musa dan Elia. Hal ini menegaskan visi hidup Yesus untuk menyelamatkan manusia. Itulah kehendak Allah. Kehendak Allah menjadi arah dan pedoman hidup kita. Doa-doa yang kita panjatkan tidak sebatas untuk kepentingan diri sendiri, tapi doa juga membuat kita memancarkan kebahagiaan bagi orang lain. Kebahagiaan dan sukacita luar biasa yang dialami oleh Petrus dan kawan-kawan adalah karena Yesus berdoa. Artinya, doa itu berdampak pada kebahagiaan orang lain, berdampak bagi Petrus dkk. Doa telah membuahkan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati dan menjadi daya/kekuatan, ketika kita harus menghadapi tantangan, persoalan, beban dan derita.

Karena itu, pada masa yang istimewa ini mengajak kita untuk semakin meningkatkan semangat doa kita. Semakin sungguh-sungguh menghayati kembali keheningan doa-doa kita, entah doa pribadi, doa keluarga, doa bersama dalam komunitas kita; juga sebagai satu jemaat beriman, akan membawa kedamaian, kebahagiaan serta berkat bagi sesama. Sebab, “Buah dari keheningan adalah doa, buah doa adalah iman. Buah iman adalah cinta, buah cinta adalah pelayanan dan buah pelayanan adalah damai” (Mother Teresa dari Kalkuta). Dengan demikian kita pun sungguh menjadi putera-putri kesayangan Bapa. ***

  

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komkat KWI.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *