Renungan Natal Fajar: “Marilah kita pergi ke Betlehem…”

Bacaan: Yes. 62:11-12; Tit. 3:4-7; Luk. 2:15-20.

Para gembala di padang belantara Yudea, telah mendapat berita besar, warta gembira tentang lahirnya sang Juruselamat yaitu Kristus Tuhan di kota Daud. Para gembala itu saling mengajak, “Marilah kita pergi ke Bethlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”.  Para gembala itu bergegas. Sikap ingin tahu dan kerelasediaan untuk segera pergi, bergegas. Dan mereka bertemu, menyakskan apa yang terjadi seperti yang diwartakan malaekat itu. Di sana mereka menjumpai: Maria, Yosef dan bayi itu, dalam kesederhanaan berbaring dalam palungan. Hanya itu!

Mungkin dalam hati kecil mereka saling bertanya, “Mengapa bisa terjadi seperti ini?”, atau mereka cuma diam membisu. Mereka menjadi saksi bisu dalam keheningan gua Betlehem. Tidak ada hal yang luar biasa, tidak ada yang hebat, Cuma sebuah keluarga miskin dengan seorang bayi mungil yang baru dilahirkan. Kehadiran sang bayi itu memberi harapan masa depan, bayi itu berbaring tenang tapi memancarkan kedamaian dan melahirkan kegembiraan dan sukacita yang sungguh luar biasa. Kelahiran setiap bayi selalu membawa kegembiraan dan sukacita. Inilah yang menjadi pengalaman para gembala pada perjumpaan yang membahagiakan itu. Pengalaman itu, tidak bisa membungkam dan membendung sukacita yang luar biasa, yang sedang bergelora dalam hati. Karena itu, pengalaman perjumpaan itu menggerakkan mereka untuk mewartakan. Kegembiraan yang dibagi-bagi dan diwartakan menjadi semakin gembira dan sukacita. Suatu kegembiraan dan sukacita yang meluap, suatu kedamaian sejati yang menggetarkan, dan iman akan Allah membuat mereka berkobar-kobar.  Mereka menyaksikan dan mengalami seperti yang disampaikan Tuhan kepada mereka. Di sana sebuah keluarga sederhana, miskin yang senasib dengan mereka, dan dalam diri sang bayi itulah tumpuan segala harapan, cita-cita, sukacita dan kedamaian mereka. Para gembala itu kembali dengan semangat baru, dengan hati penuh sukacita dan berkobar. Perjumpaan dengan bayi natal membawa sukacita dan semangat baru.

Kepergian para gembala ke Betlehem secara tegas dan nyata dapat menggambarkan suatu ziarah hidup iman yang sesungguhnya. Bahwa sejak dari semula Tuhan yang telah memberikan kita kabar sukacita tentang kelahiran-Nya senantiasa mengharapkan agar kita bersedia meluangkan waktu, memberi diri untuk sebuah perjumpaan, berjumpa dengan Dia. Dia yang dalam kesederhanaan dan kemiskinan, tidak hanya lahir di kandang hina dan dibaringkan dalam palungan hewan, tetapi Sang damai sejati itu lahir dan dibaringkan juga dalam setiap hati yang mau datang dan berjumpa. Hati yang mau menyapa, hati yang sesudah perjumpaan itu lalu bersukacita dan berkobar mewartakan bahwa telah lahir baginya Kristus Tuhan.

Maka kitapun boleh berjumpa dengan Maria, Yosef dan Yesus itu tidak harus jauh-jauh karena mereka hadir dalam keluarga-keluarga kita, hadir dalam hidup kita; asalkan kita mau mengalami perjumpaan itu. Mau meninggalkan kesibukan dan kesenangan pribadi untuk merasakan  hangatnya Ia terbaring dalam hati yang damai dan penuh kasih, hati yang dihiasi pengampunan dan persaudaraan, yang merasa senasib dengan kita. Pengalaman perjumpaan itu harus memberanikan kita untuk mewarta kabar keselamatan, kabar sukacita, bahwa Ia telah menjadi manusia dan tinggal bersama kita.

Kini Betlehem adalah sebuah hati, dan sebuah perjumpaan dengan Maria, Yusuf dan sang bayi natal, Yesus sang Juruselamat kita, sehingga kita patut bersukur dan gembira merayakannya. Betlehem itu adalah keluarga-keluarga kita yang mengalami juga kelahiran-Nya yang membawa sukacita. Atau mungkin Betlehem hati dan keluarga kita saat ini masih terlalu sarat dengan berbagai kekayaan harta duniawi, harga diri, kuasa,  sikap ingat diri, hati dan hidup kita masih dipenuhi dengan berbagai hiasan kesombongan, iri hati, dendam, permusuhan, jauh dari rasa damai, tak ada tempat bagi Maria, Yusuf dan bayi Yesus. Atau yang sedang kita cari adalah kekayaan duniawi, pingin punya segalanya, daripada punya Yesus yang tak punya apa-apa.

Betlehem adalah sebuah hati.. Mari kita pergi dan melihat apa yang terjadi di sana. Di hati kita. Natal adalah saat rahmat untuk mengalami perjumpaan dengan sang Juruselamat yang lahir, dan memberikan kita sukacita dan keberanian seperti para gembala kembali dengan sukacita besar, dengan semangat baru dan hidup baru. Betlehem adalah keluarga kita. Betlehem adalah hati kita. Maka, pantas di hari penuh sukacita dan damai ini, kita saling berucap: Selamat merayakan pesta natal dengan sukacita dan menjadi manusia baru dalam damai sejahtera. Dan dengan kerendahan hati bersyukur dan menyembah-Nya, kini dan sepanjang masa. Amin ***

 

 

Rm. Frans Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *