Renungan Hari Minggu Biasa XXXII: “Kehidupan Bersama Allah”

Bacaan: 2Mak 7:1-2. 9-14; 2Tes 2:16’3:5; Luk 20: 27-38 (Luk 20:27.34-38)

Allah adalah Allah orang hidup. Allah peduli dengan hidup kita. Karena itu kebahagiaan di dunia ini juga perlu, sehingga kita dapat mengalami secara nyata kasih Allah.  Kebahagiaan sekarang ini menjadi gambaran kebahagiaan di surga, yang akan disempurnakan Tuhan, kelak. Tetapi kebahagiaan yang kita terima ini, bukan kita terima untuk diri kita sendiri saja. Kita adalah saksi dan utusan Allah untuk mewartakan bahwa Allah itu peduli pada hidup kita sekarang ini. Karena itu kita dipanggil dan diutus untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa Allah juga peduli kepada mereka. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi lebih-lebih dengan tindakan kita yang rela berbagi kebahagiaan dengan mereka, lebih-lebih yang kekurangan dan menderita.

Kita tidak punya masalah tentang kebangkitan orang mati. Kita percaya bahwa hidup tidak berhenti dengan kematian, tetapi masih ada kelanjutannya. Pada tingkat pribadi-pribadi, roh kita hidup terus bersama Allah (atau masuk neraka?) dan pada akhir jaman, semua orang hidup baru, sesuai dengan keadaannya waktu meninggal: bahagia bersama Allah atau menderita di neraka, hidup tanpa Allah. Masalah kita bukan masalah ajaran, tetapi sikap hidup. Kematian dan hidup sesudahnya, seringkali jauh dari hidup kita sehari-hari. Dan paham kita tentang hidup, seringkali secara praktis tidak jauh berbeda dari pandangan orang Saduki.

Sebenarnya pertanyaan dari contoh kasus yang dikemukakan oleh orang Saduki ini bukanlah dalam hal keingintahuan mereka tentang kehidupan setelah kematian. Tetapi justru itu adalah sebuah argumentasi pemahaman mereka yang dibalut dengan pertanyaan. Mereka ingin mencobai Yesus kalau mereka bisa mempermalukan Yesus. Jawaban yang diberikan Yesus atas pertanyaan mereka jelas menolak bahkan ingin mengkoreksi pemahaman mereka. Sebab pada saatNya tiba, Yesus sendirilah yang akan menjadi jawaban atas pemahaman mereka yang tidak mengakui kebangkitan, bahwa Yesus akan mati dan bangkit dari antara orang mati.

Tentang kehidupan setelah kabangkitan, Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa situasi dan kondisi akan sangat jauh berbeda. Jika manusia di dunia ini kawin, maka itu adalah untuk kelangsungan hidup manusia di dunia. Namun orang yang dibangkitkan itu dan yang layak menerima kehidupan kekal tidak akan ada lagi kematian, maka perkawinan tidak lagi diperlukan. Selanjutnya Yesus juga mengatakan bahwa mereka yang dibangkitkan itu “sama” seperti malaikat-malaikat, dalam arti bahwa mereka tidak lagi sama seperti tubuh manusia di bumi yang fana.

Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, Artinya di situ bahwa Allah itu bukan hanya Allah Abraham, Ishak dan Yakub selama hidup, tetapi hubungan mereka dengan Allah tidak akan terputus oleh karena kematian. Hal ini menjelaskan ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa dalam semak duri yang menyala-nyala itu memperkenalkan diriNya sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub yang ketika itu mereka telah lama meninggal ketika Tuhan memperkenalkan diriNya kepada Musa. Bagi manusia, kematian sudah memisahkan kita dengan orang yang sudah meninggal namun bagi Allah mereka tetaplah hidup sebagai anak-anak Allah. Dalam arti bahwa manusia itu sudah mati, maka dia itu tidak akan lenyap begitu saja. Sebab kita diciptakan berbeda dengan binatang maupun tumbuh-tumbuhan.

Maka yang menjadi pertanyaan: “Apakah kita mempercayai kebangkitan orang mati?”; “Apakah kita mempercayai adanya kehidupan setelah kematian?” Sebab: Pemahaman ataupun kepercayaan kita tentang kebangkitan akan menentukan bagaimana kita menjalani kehidupan ini.***

 Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *