Renungan Hari Minggu Biasa XXI: “Berjuang Melalui Pintu Yang Sempit”

Bacaan: Yes 66:18-21; Ibr. 12:5-7, 11-13; Luk 13:22-30.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Tuhan Yesus dalam perjalanan menuju ke Yerusalem untuk menggenapi perutusanNya di dunia ini dengan menderita, wafat dan bangkit mulia. Dalam perjalananNya kali ini, ada seorang tanpa nama, datang dan berkata kepadaNya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Pertanyaan kepada “Tuhan” ini memang sangat lazim bagi orang-orang Yahudi saat itu. Pertanyaan orang ini mungkin masih berkaitan dengan perumpamaan tentang biji sesawi (Luk 13:19) dan perumpamaan tentang ragi (Luk 13:21) yang mengatakan tentang Kerajaan Allah berkembang dan mengubah hidup banyak orang. Kerajaan Allah itu dimulai dengan sebuah kawanan kecil (Luk 12:32). Orang ini menduga bahwa hanya sedikit orang yang bisa menikmati perjamuan di Surga.

Yesus tidak menjawab pertanyaan orang tanpa nama ini dengan mengatakan berapa jumlah orang yang diselamatkan tetapi Ia justru mengatakan: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Banyak orang akan berusaha untuk masuk tetapi tidak akan dapat.” (Luk 13: 24). Yesus hendak mengingatkan mereka supaya sebelum mengalami PaskahNya, mereka sudah menyatakan kesungguhan untuk bertobat. Tuhan luar biasa karena masih memberi kesempatan kepada mereka untuk bisa bertobat. Masalahnya adalah apakah orang mau bertobat atau tidak.

Apa artinya pintu yang sesak? Pintu yang sesak menunjukkan pentingnya kita memiliki pilihan definitif berdasarkani Injil untuk mengikuti Kristus dari dekat. Dengan mengikuti Dia yang menderita, wafat dan bangkit, kita juga dapat masuk dan menikmati KerajaanNya. Yesus sendiri berkata: “Setiap orang yang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku.” (Luk 9:23), karena “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi muirdKu.” (Luk 14:27). Dengan menggunakan kata “berjuanglah”, Tuhan Yesus mau mengatakan kepada kita komitmen moral dan usaha yang terus menerus untuk berpartisipasi dalam perjamuan abadi di Surga. Yesus tidak mengatakan jumlah orang yang persis tetapi yang jelas, orang-orang yang setia mengikutiNya akan memperoleh tempat yang layak di Surga. Ia mengingatkan supaya para pengikutNya memiliki daya juang untuk memperoleh keselamatan. Satu hal yang harus kita lakukan adalah melayani dan mengasihi seperti Yesus sendiri.

Pesan Kristus ini juga berarti semua orang dipanggil kepada keselamatan, tetapi bagi kita semua pintu itu sesak. Tidak ada orang yang mengklaim dirinya sebagai status quo keselamatan atau memiliki hak istimewa. Perjalalan menuju hidup kekal memang terbuka kepada semua orang tetapi melalui pintu yang sesak sehingga butuh komitmen untuk mematikan egoisme diri. Banyak orang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan bangga sebagai orang kristiani tetapi hidupnya tidak mencerminkan Kristus di dalam dirinya. Orang-orang kristiani seperti ini hanya memiliki tiga kesempatan untuk masuk ke gereja yakni ketika mereka dibaptis, ketika mereka menikah dan ketika mereka meninggal dunia. Dengan demikian tiga surat yang mereka terima adalah surat baptis, surat nikah dan surat kematian. Orang-orang seperti ini ketika mengetuk pintu surga maka jawaban yang akan mereka terima adalah: “Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Luk 13:27).

Keselamatan adalah insiatif dari Allah dan butuh jawaban pasti dari pihak manusia. Allah memberi keselamatan sebagai anugerah, manusia menjawabi anugerah ini dengan menghidupi imannya. Pintu itu juga gambaran kerahiman Allah, yaitu wujud belas kasih-Nya sendiri. Sejatinya setiap manusia diundang masuk ke dalam-Nya. Hanya saja, semua yang baik itu tidak ada yang mudah. Demikian pula jalan untuk mencapai keselamatan itu tidak lapang. Orang harus berjuang dalam kebaikan-kebaikan untuk mencapainya.

Bagi kita, bukan tidak mungkin kita memperoleh keselamatan itu, asalkan dalam kehidupan harian, kita telah berjuang dan berjalan di jalan sempit itu, seperti tergambar dalam pertanyaan-pertanyaan ini: Siapakah yang dapat dengan mudah memaafkan orang dekat yang benar-benar menyakiti? Siapakah yang mudah memberikan yang dimiliki padahal dirinya sendiri sebenarnya sangat membutuhkan? Siapakah yang mudah untuk menerima direndahkan? Itulah usaha untuk datang dan membuka pintu. Tawaran sudah diberikan, apakah kita menerima tawaran itu atau menolaknya. Hidup adalah perjuangan. Selamat berjuang! ***

 

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *