Bacaan: Kis. 13:14, 43-52; Why. 7:9, 14b-17; Yoh. 10:27-30.
Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, namun orang Yahudi tidak mampu mengenal Dia, sehingga mereka menolak-Nya. Mengapa? Sebab mereka tidak berelasi dengan Dia. Tanpa relasi yang mendalam dengan sang Gembala, bagaimana mungkin domba mampu mendengar suara dan panggilan-Nya? Jadi, identitas kita sebagai domba-domba-Nya hanya dapat dijamin dan dipertahankan dengan terus berelasi dengan Dia: membuka diri terhadap suara-Nya dan terlibat dalam perutusan-Nya. Tanpa hubungan yang mendalam dengan Yesus, kita akan mengikuti atau dibingungkan oleh pelbagai suara dan panggilan lain yang ditawarkan secara berlimpah oleh dunia masa kini. Mampukah kita? Tentu tidak! Jika kita hanya mengandalkan daya dan upaya manusia. Tetapi Yesus memberikan jaminan yang menggembirakan: kita adalah “anugerah” Bapa (ay.29). Bukan upaya kita sendiri yang memampukan relasi dengan sang Gembala. Relasi dan hubungan kita dengan Yesus adalah karya “tangan” Bapa sendiri.
Yesus menegaskan bahwa Dialah Gembala yang mengenal domba-domba-Nya (ay.27b). Dia mengenal dan memanggil nama setiap kita. Bukan itu saja! Dia juga memberikan hidup kekal kepada kita domba-domba-Nya (ay.28). Dengan anugerah hidup kekal itu, relasi kita dengan Dia berlangsung abadi. Hidup yang kita jalankan sekarang dan disini pun menjadi lebih berarti dan sejati. Kita menghabisi hari-hari kita sebagai domba yang selalu mendengar dan mencari suara dan bimbingan sang Gembala. Kita menggeluti rutinitas secara berkualitas: tearah pada Dia dan diarahkan oleh panggilan-Nya.
Untuk menjadi domba Kristus, kita harus mendengar suara-Nya, kita harus dikenal oleh Dia dan kita harus mengikut Dia. Mari kita meneliti hal ini secara lebih mendalam. Apa arti mengikut Kristus? Apakah itu berarti bahwa pernah di masa lalu membuat sebuah pengakuan iman, dan sejak saat itu secara otomatis dan untuk selamanya ia termasuk orang-orang yang mengikut Dia? Apakah seseorang yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah tetapi kemudian berbalik dan hidup menurut daging, termasuk orang yang akan menerima janji dalam Yohanes 10:27-29? Apakah orang seperti itu benar-benar mengikut Kristus? Mari kita biarkan Tuhan menjelaskan apa yang perlu dilakukan oleh orang yang mau mengikuti Dia:
“Aku Gembala yang baik, Gembala yang baik memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya”, “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka, dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya”. Maka kalau Tuhan Yesus tidak peduli kita, apakah kita bisa selamat? Ini mesti kita renungkan baik-baik, kalau Tuhan Yesus tidak mau menjadikan diriNya Gembala atas domba-domba yang tanpa alasan bisa Dia kasihi, bisakah kita selamat?
“Aku mengasihi domba-dombaKu dan Aku berikan hidup yang kekal”, Kita mengimani Yesus adalah Gembala yang baik, yang menggembalan dan menghantar kita ke “air kehidupan”, sehingga patut mengalami kebahagiaan bersama-Nya. Semoga kita selalu setia pada Sang Gembala yang baik dan membiarkan diri dan hidup kita dibimbing menuju kebahagiaan kekal bersama-Nya.***
Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI

