Renungan Hari Minggu Prapaskah V: “Pergilah, Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang”

Bacaan: Yes. 43:16-21; Flp. 3:8-14; Yoh. 8: 1-1.

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Itulah perkataan Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu. Pertanyaannya: Siapakah yang tidak berdosa? Tidak ada yang tidak berbuat dosa. Semua berbuat berdosa. Jika demikian berarti tidak ada yang berani mengulurkan tangannya mengambil batu lalu melempar perempuan itu. Tetapi bukankah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu selalu menganggap dirinya suci, tidak berdosa? Tetapi di depan Yesus mereka tidak dapat menyembunyikan dirinya. Meskipun mereka tidak mengakuinya secara langsung tetapi sikap mereka menegaskan bahwa mereka juga berbuat dosa.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah orang-orang yang merasa dirinya paling benar, suci, merasa dirinya saleh, merasa dirinya hidup baik dan tidak pernah merasa diri berdosa. Sikap hidup inilah yang membuat mereka dengan mudah menghakimi orang lain. Sebab itu bagi mereka hanya ada satu pilihan saja yakni melempari perempuan yang berzinah itu dengan batu hingga mati. Begitu kejam dan bengis tindakan ahli-ahli Torat dan oranag-orang Farisi itu. Sungguh ketidakadilan tanpa di sadari oleh mereka sedang berlangsung. Jika benar perempuan itu ketangkapan berzinah; pertanyaannya mengapa perempuan itu saja yang di bawa? Bukankah laki-laki itu juga layak di lempari dengan batu? Sebabnya adalah motifnya yang salah. Bukan karena mereka sungguh berpegang pada hukum Musa. Bukan karena mereka ingin menegakkan Kebenaran itu. Tetapi  hukum Musa hanya di pakai untuk meloloskan niat mereka yang jahat. Sabda Allah di pakai hanya untuk membela dan sebagai alasan yang kuat untuk menutupi kejahatan mereka yang terselubung. Dan ini adalah kejahatan yang sangat berbahaya. Karena tidak saja menghancurkan bagian-bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Cara ini benar-benar menghancurkan semua yang ada dan yang di miliki seseorang.  Yesus mengatakan: “Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Mendengar perkataan Yesus itu mereka diam, terkejut, terpaku dan tidak ada seorang pun yang berani melempar batu kepada perempuan itu karena mereka semua merasa diri berdosa. Dan satu persatu mereka pulang hingga tinggal Yesus sendiri dengan perempuan itu. “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Tidak dapat di bayangkan sukacita besar yang dialami perempuan itu.

Itulah pesan Yesus kepadanya. Itulah Injil atau kabar baik yang bukan saja hari itu didengar oleh perempuan itu, tapi juga hingga sekarang Kabar baik itu di beritakan kepada kita semua juga hari ini. Kita tidak berbeda dari perempuan berdosa itu, kita layak di rajam dengan batu; kita layak mati karena dosa-dosa kita. Tetapi Yesus telah menanggung semuanya itu demi kita. Sekarang kita boleh pergi; kita boleh menikmati kebebasan itu. Kita boleh di lepaskan dari kematian  itu. Karena itu jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. Bukan nanti atau tunggu, tetapi mulai dari sekarang yakni sejak kita dipanggil dan di selamatkan.

Setiap manusia, betapapun baik kehidupan yang sudah dijalaninya, ia tetap membutuhkan belas kasih Tuhan. Oleh karena itu, meskipun kita berusaha menjadi orang baik dihadapan Tuhan, namun kita juga harus memiliki jiwa seorang pendosa yang selalu merendahkan diri, merasa tidak pantas, sehingga juga tidak mudah menghakimi orang lain. Dengan memiliki jiwa seorang pendosa, kita dapat terhindar dari apa yang disebut dosa karena kesombongan religius ini. Kita sering memiliki kecenderungan untuk menghakimi dan menuduh orang lain begitu saja; untuk mencari rasa nyaman dan membalaskan dendam karena sakit hati mereka, sebab pernah di buat terluka. Tidak harus seperti itu tetapi kita harus memiliki kecenderungan untuk terus memperbaiki apa yang telah rusak. Dan terus membenahi hal-hal yang perlu dibenahi dalam diri kita. “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”.***

 

By Rm. Fransiskus Emanuel Da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *