Refleksi tentang Disabilitas -3- (P.DR. Andre B. Atawolo, OFM)

Kesaksian Jean Vanier dalam ‘We Need One Another”.

Dunia kita adalah dunia yang disable. Batas-batas ras, budaya dan agama, intrik-intrik politik, kekuasaan dan kepentingan ekonomi, perang dan konflik telah menutup ruang relasi dalam diri manusia. Kita berada dalam dunia yang terluka (wounded world). Kodrat manusia sebagai makhluk relasional terluka. Kita butuh sesama. Kita butuh orang lain. Setiap pribadi butuh sebuah komunitas. Yesus datang untuk menyembuhkan luka dunia: Ia menghendaki agar kita satu dalam persekutuan kasih. Dalam kasih tidak ada pihak yang kuat, tidak ada pihak yang kalah, dan tidak ada pula yang terluka sebagai korban. Semua umat manusia setara: tak ada abilitas dan disabilitas. Semua dipanggil dan ditransformasi oleh Yesus. Yesus tidak mencari murid yang sempurna, tetapi yang terbuka untuk dibentuk menjadi lebih baik. Yesus mencintai setiap pribadi sebagaimana adanya dia. “Jesus Loves me as I am” (93).

Kultur dunia sekarang ialah persaingan, sukses, efisiensi. Dan oleh kekuatan media sosial, kultur itu telah membentuk gaya hidup manusia. Bagaimana dengan para penyandang disabilitas? Kultur dunia menolak mereka yang tidak mampu. Namun itu bukan cara Tuhan. Ia hadir menggandeng tangan orang lemah dan tidak berdaya: “God hold them and love them.. God has chosen the weak” (86). Yesus mewahyukan dua hal istimewa: Pertama, Allah adalah kasih; Ia mengasihi. Kedua, Allah menghadirkan kasih lewat sesama. Relasi dengan sesama membawa perubahan hidup. Kasih menguatkan harapan: Dengan kasih, “we can heal one another” (104). Yesus sendiri menjadi sahabat sejati. Sahabat sejati turut merasakan kelemahan kita.

Kasih Membawa Harapan. Tokoh Lazarus dalam Injil adalah figur seorang disable. Ia tidak banyak berbicara. Namun dicintai keluarganya. Yesus juga mengasihinya sebagai sahabat (Yoh. 11: 36). Ketika mengetahui bahwa ia telah meninggal Yesus datang ke Betania. Telah empat hari ia dikuburkan. Dengan sedih Marta berkata: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” (11: 39). Beberapa hari kemudian, Yesus kembali berada di rumah Lazarus, ikut dalam perjamuan syukur atas kebangkitan Lazarus. Sekarang yang tercium ialah bau minyak yang semerbak di seluruh rumah (12: 3). Bau kematian telah dihalau. Lazarus telah bebas. Yesus tidak hanya menjadikan kita sahabat-Nya. Ia juga memungkinkan hidup baru. Dialah sumber harapan bagi penyempurnaan hidup manusia: “This is our resurrection. Jesus calls us from the tomb to give us his spirit, a spirit of love, wisdom, and community, for loving one another” (133).

*****

P.DR. Andre B. Atawolo adalah Dosen Teologi di STF Driyarkara, Jakarta

Sumber: https://christusmedium.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *