Renungan Hari Raya Sabtu Santo (Malam Paskah) : “Dalam Dia Ada Hidup”    

Bacaan: Kej, 1: 1-2:2; Kel. 14:15-15:1; Yes 54:5-14; Yeh. 36:16-17a.18-28; Rm. 6:3-11; Mat 28:1-10

Kubur Kosong! Itulah kisah Injil yang kita dengar dan renungkan pada malam suci ini. Kubur kosong bukan berarti tidak ada kubur. Kubur kosong melukiskan tidak ada lagi jenazah yang sebelumnnya ditempatkan di dalam kubur itu. Warta kebangkitan adalah warta bukan tentang kubur yang kosong. Tetapi karena Yesus bangkit, maka kubur kosong! Ia telah bangkit. Maut tidak berkuasa atas-Nya. Kegelapan kubur kini telah hilang lenyap dan diganti fajar baru yang terang dan menghalau kegelapan itu. Yesus bangkit. Ia hidup. Ia yang bangkit itu menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena dan para murid-Nya, tidak kepada musuh-musush-Nya, juga tidak kepada para pemimpin bangsa yang telah mengeksekusi mati diri-Nya, juga tidak kepada semua penduduk Yerusalem. Menurut penginjil Mateus dan Markus, Yesus malah berpesan supaya murid-murid-Nya mendahului-Nya ke Galilea.. Di sana mereka akan melihat dan bertemu dengan-Nya. Galilea adalah keseharian hidup mereka, Galilea ada orang-orang sederhana dan ada kesempatan-kesempatan sederhana dimana mereka bisa melihat dan mengalami Yesus yang bangkit. Paskah kebangkitan Tuhan telah membawa suatu semangat dan hidup baru. Dari gelap terbit terang. Dari keputus asaan ada harapan dan kepastian.

Perayaan malam Paskah selalu dengan upacara terang. Lilin Paskah. Terang lilin itu menembus kegelapan malam. Terang yang bercahaya memberi harapan, kepastian dan kegembiraan ketika lilin-lilin kecil ikut ambil bagian dari terang lilin Paskah. Lambang hidup penuh sukacita, ketika masing-masing kita bisa menjadi secercah terang yang bersumber dari terang paskah, Kristus yang bangkit. Terang itu menyinari sudut setiap rumah/keluarga kita yang saat ini sedang cemas dan gelisah, terang itu memberi harapan di sudut hati setiap orang yang saat ini tak ada jalan keluar dalam kesulitan hidup, terang yang memberi harapan untuk boleh berjalan kembali menuju terang sejati Kristus yang bangkit. Maka malam paskah yang suci ini, dengan hati yang bernyala karena terang kebangkitan Tuhan, kita boleh bersorak dan bersukacita, bahwa apapun badai, kesulitan, atau wabah yang sedang melanda, dalam nama Tuhan Yesus yang bangkit, semuanya akan berlalu. Hati dan hidup kita harus mampu memberi terang kedamaian dan harapan ketika kita masih dalam kekalutan dan kecemasan hidup ini. Yesus yang bangkit menampakkan diri tidak di kenisah/rumah-rumah ibadat, tidak terjadi dalam suasana meriah, tetapi Yesus yang bangkit menampakkan diri-Nya dalam situasi keseharian hidup. Di Galilea hidup kita, Galilea keluarga-keluarga kita, dalam keseharian dan kesederhanaan, di sana kita melihat dan mengalami Dia yang bangkit, yang menujukkan jalan kembali kepada-Nya. Juga ketika masing-masing kita dalam keheningan, merayakannya dalam rumah/keluarga-keluarga kita saat ini.

Paskah tidak selesai dengan perayaan liturgi, tetapi dalam keseharian kita, dalam keluarga-keluarga kita, ketika kita mulai menjalani hidup kita dengan penuh perjuangan, Yesus pasti bangkit dan menampakkan diri-Nya dalam dan melalui iman kita, Ia meneguhkan kita, Ia memberikan harapan dan semangat baru kepada kita. Paskah kebangkitan Kristus ditujukan dan dialami oleh orang-orang sederhana, bagi orang yang lemah, yang berbeban berat, yang menderita, yang hina dan kecil. Ia bangkit dan menampakkan diri bagi yang sedang bingung dan dalam kekalutan hidup. Ia menyusuri jalan-jalan kita, Ia memasuki rumah-rumah kita, Ia meneguhkan yang putus asa, menyembuhkan yang sakit lahir batin, Ia mencintai yang merasa ditinggal dan kehilangan. Yesus yang bangkit menampakkan diri-Nya ketika hati kita terbuka untuk menerima-Nya, seperti secercah lilin kecil menjadi terang benderang dari sumber cahaya sejati, Maka Yesus yang bangkit jaya menerangi hidup kita masing-masing. Habis gelap terbit terang, habis salib dan kematian terbit Paskah. Alleluia. Tuhan memberkati kita***

 

Ditulis oleh  Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *