Renungan Hari Raya Minggu Paskah: “Ia Harus Bangkit Dari Antara Orang Mati”

Bacaan: Kis. 10:Kis. 10: 34a. 37-43; 1Kor. 5: 6b-8; Yoh. 20: 1-9 atau Mat.28:1-10

Peristiwa di hari minggu pagi itu adalah sebuah peristiwa yang mengejutkan! Peristiwa itu belum pernah terdengar dan belum pernah terjadi di seantero dunia ini. Kubur yang diletakkan jenasah Yesus dikunjungi para wanita pagi-pagi itu, ternyata telah terbuka tutupannya, dan bahkan tidak ada lagi jenasah di dalamnya. Cuma kain kafan, kain peluh yang tergeletak di sana menjadi saksi bisu. “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan”, demikian kesaksian Maria Magdalena di pagi buta. Mengejutkan! Panik, bertanya dan cuma kubur kosong. Pertanyaan-pertanyaan itu pun terjawab oleh murid kesayangan, “ia melihat dan percaya”

Melihat dan Percaya! Adalah jawaban atas segala pertanyaan yang tak terjawab itu. Percaya mengungkapkan ketakberdayaan, keterkejutan akan suatu kepastian. Percaya yang bersumber pada Sabda Yesus sendiri, pada kata-kata Kitab Suci bahwa “Ia harus bangkit dari antara orang mati”. Itu berarti, segala ketakberdayaan, keterkejutan, ketidak mengertian, kesulitan dan penderiataan serta segala gtanya yang tak terjawab dalam hidup ini justru mendapat jawabannya dari Kitab Suci. Kitab Suci menjadi jawaban atas segalapersolan hidup manusia. Kitab Suci mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. Maka Yohanes dengan melihat semuanya itu, ia sungguh percaya. Sebab jika Kristus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita. Ini yang luar biasa! Maka,kita bangga atas iman kita, iman akan Kristus yang bangkit. Namun Rasul Paulus mengingatkan, “Kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kita, maka hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kol. 2:6-7)

Maria Magdalena pertama mendapat kehormatan disapa oleh Yesus yang bangkit. Dan ia menerima tugas mewartakan tentang sukacita kebangkitan Yesus itu. Paskah Kristus menjadi paskah Maria, karena Maria Magdalena telah bangkit dari kejatuhan dan kelemahannya dan dipercayakan untuk mewartakan-Nya.

Maka, merayakan paskah Tuhan mengajak kita juga untuk bangkit dari segala kelemahan dan dosa-dosa kita. Kelemahan, salah dan dosa adalah kubur yang telah menguburkan kita dari karya kasih dan keselamatan yang dibawa oleh Yesus yang bangkit. Kita harus bangkit dari keegoan kita, dari semangat konsumerisme, hedonisme, keserakahan, ketidak adilan, kebencian, kecemburuan, iri hati dan sebagainya. Itulah kubur yang menutup hati dan hidup kita, dan kita harus bangkit bersama Kristus yang bangkit. Kita harus mau dan berani untuk meninggalkan dan menanggalkan semuanya itu, agar kita pun bangkit jaya. Kita bangkit menjadi manusia paskah, menjadi manusia baru dengan semanagt kebangkitan Tuhan.

Selanjutnya, kita yang telah mengalami Paskah Kristus, kita pun diberi tugas untuk mewartakan dan memberi kesaksian tentang kebangkitan-Nya kepada orang lain. Pengalaman Paskah yang membahagiakan tidak boleh disimpan sendiri, tetapi harus dibagi, diwartakan kepada orang lain Kita harus membuka kubur-kubur yang menutupi hati dan hidup kita, dengan bangkit bersama Kristus yang bangkit jaya. Sebagaimana dalam situasi kita saat ini, kita juga harus menjaga kesehatan diri, menjaga keselamatan dan kesehatan orang lain, untuk mematahkan rantai penyebaran virus corona yang sedang melanda, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, disiplin diri dan tetap di rumah, dalam semangat doa kita terus memohon kerahiman dan belaskasih Allah melalui Yesus yang bangkit agar semua orang, boleh bangkit, mengalami kembali kesehatan yang baik, dijauhkan dari wabah virus corona yang terus menghantui kita. Hanya dengan peduli kemanusiaan, dan dengan iman kita pun dibangkitkan bersama Yesus yang bangkit. Itulah paskah kita. Paskah yang membahagiakan dan memberikan harapan baru. Selamat merayakan Paskah, Kristus bangkit, Alleluia.***

 

Ditulis oleh  Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *