Renungan Hari Minggu  Prapaskah V : “Tuhan Sekiranya Engkau Ada Di Sini”

Bacaan: Yeh. 37:12-14; Rm. 8:8-11; Yoh. 11:11- 45 (Thn A)

“Tuhan sekiranya Engkau ada di sini”. Adalah ungkapan tulus seorang Maria kepada Yesus ketika Yesus hadir saat Lazarus saudaranya sudah meninggal dan dikuburkan. Hal ini juga mau mengungkapkan iman Maria bahwa pada Yesus segala harapan dan permohonan terkabul, segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Mukjizat-mukjizat telah banyak dilakukan oleh Yesus: yang sakit disembuhkan, yang lumpuh berjalan, yang buta melihat, yang tuli mendengar, semuanya itu terjadi ketika Yesus hadir pada saat Lazarus sudah meninggal.  Maria pun mengungkapkan, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, pasti saduaraku tidak akan mati”. Maria yakin dan sadar bahwa kehadiran Yesus selalu membawa kebahagiaan dan sukacita serta keselamatan. Yesus menjadi jaminan juga ketika sudah tidak ada harapan, yakni Lazarus pasti hidup, bahkan yang percaya kepada-Nya tidak akan mati selama-lamanya.

Perisitiwa kematian Lazarus digunakan Yesus untuk mewartakan tentang makna kematian, kebangkitan dan kehidupan yang kekal. Di sini Yesus mewujudkan dengan jelas bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ia sendiri pun mengalahkan kematian itu yang telah Ia mulai dengan membangkitkan Lazarus dari kuburnya. Dengan ini pula Yesus menunjukkan bahwa Ia menjadi jaminan, dan kematian itu tidak dapat menguasai manusia. Dalam diri Kristus, Lazarus menemukan kembali kehidupan, biarpun ia sudah mati. Kematian tidak dilihat sebagai yang menakutkan, tetapi justru sebagai suatu isyarat untuk hidup lebih bermakna dan kita diajak untuk lebih siap diri untuk hidup yang abadi.

Maka ungkapan hati Maria, “Tuhan seandainya Engkau di sini, saudaraku tidak akan mati”, tentu menjadi seruan kita ketika kita seperti saat ini menghadapi situasi yang tak menentu dengan adanya wabah virus corona, situasi hidup kita terasa semakin berat, sulit, takut dan cemas, ketika menyaksikan banyak orang yang terpapar virus corona, bahkan yang meninggal, sementara belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Yesus selalu ada dan hadir, namun seolah seperti para murid merasa bahwa Yesus tidur dan tidak peduli ketika mereka diterpa badai gelombang di tengah danau. Yesus seolah tidur tenang tanpa terusik kepanikan para murid saat badai itu; dan para murid membangunkan Yesus: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus bangun dan dengan kuasa yang dimiliki-Nya sebagai Putera Allah, Raja alam semesta, menghardik angin dan badai. Dan badai itu berlalu. Laut menjadi teduh sekali. Mereka pun tiba di seberang dengan selamat. Demikian juga seperti dialami Maria menghadapi kematian saudaranya Lazarus. Ia percaya kalau Yesus ada, pasti saudaranya tidak akan mati. Dalam Yesus hanya ada kehidupan, sukacita, kebahagiaan dan keselamatan. Dalam Yesus kita menemukan segala jawaban atas persoalan-persoalan hidup kita.

Virus corona adalah badai zaman ini, yang membuat kita cemas, gelisah dan ketakutan. Mungkin juga kita mulai ragu akan karya besar Allah dalam hidup kita. Kata-kata Paus Fransiskus dalam renungannya di Vatikan pada adorasi Sakramen Mahakudus (27 Maret 2020), kiranya meneguhkan kita. “Kita saat ini ada dalam satu perahu yang berhadapan dengan badai. Kita bersama Yesus menyerahkan semua soal pada Bapa. Kita diminta Yesus untuk beriman dan percaya kepada-Nya. Mengapa kamu takut? Mengapa kamu tidak percaya? Kita bisa memohon seperti para murid, tetapi tidak dengan keluhan. “Tuhan, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Untuk Tuhan, setiap kita amat penting. Badai membuka kelemahan kita. Badai membuat kita mesti menyeimbangkan hidup kita dengan hati kita. Saat ini bukan saat penghakiman Tuhan, melainkan penghakiman diri kita sendiri. Permulaan dari iman adalah tahu bahwa keselamatan ada dalam Yesus Kristus. Kita undang Yesus ke dalam perahu hidup kita, karena Dia-lah yang memenangkan semuanya. Tuhan membuat semuanya baik dan membawa semua kepanikan kita. Badai ini pasti berlalu. Kita dengan tenang dan penuh iman mempercayakan hidup kita kepoada Yesus Tuhan kita.” Dan seperti Maria kita cuma bisa berkata dengan penuh percaya, “Ya Tuhan aku percaya, Engkaulah kebangkitan dan kehidupan kami, kini dan sepanjang masa.”.

*****

Ditulis oleh Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris  Komkat KWI, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *