Renungan Hari Minggu Prapaskah II:  ”Allah Memanggil Kita Dan Mendatangkan Hidup”

Bacaan : Kej. 12:1-4a; 2Tim. 1:8b-10; Mat. 17;1-9 (Thn A)

Bacaan kedua hari ini, kepada  Timoteus Paulus  menulis, ”Saudaraku terkasih, berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Kristus! Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri”. Itu berarti, Paulus menyadari bahwa panggilan mengikuti Kristus dan ikut menderita bagi Injil adalah berkat kekuatan Allah. Sebagai orang beriman yang percaya kepada Kristus, Penderitaan adalah sebuah panggilan, dan panggilan itu mendatangkan hidup. Tanpa penderitaan orang tidak akan mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan tak akan mungkin tanpa penderitaan. Kebangkitan tak akan terjadi bila tanpa salib, penderitaan dan kematian.

Minggu ke dua pra-paskah, mengajak kita untuk merenungkan betapa maksud dan karya besar Allah melalui penderitaan dan kematian Yesus, namun kemuliaan-Nya yang nampak nyata di Tabor mengungkapkan betapa kekuatan Allah itu nyata. Peristiwa transfigurasi Yesus yang disaksikan oleh ketiga murid-Nya, merupakan peristiwa yang sangat penting dalam hidup ketiga murid Yesus itu. Peristiwa itu menyadarkan mereka akan tujuan yang dinyatakan melalui suara yang terdengar, “Inilah Anak yang Kukasihi kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”. Dalam peristiwa dan pengalaman hidup apapun pesan ini harus menjadi kekuatan yakni dengarkanlah Dia. Panggilan Allah itu harus didengar, karena suara itu adalah keselamatan. Dialah kehidupan. Sebagaimana kehadiran dua tokoh besar bangsa Israel yakni Musa dan Elia menegaskan sesuatu yang penting. Bahwa mereka yang telah memperkenalkan kepada bangsa itu siapa sesungguhnya Allah nenek moyang  mereka. Yang mengajak mereka untuk beriman   kepada Allah yang benar, Allah yang  tidak pernah melupakan janji setia-Nya kepada nenek moyang mereka. Musa dan Elia dua tokoh yang sangat berperan dalam sejarah keselamatan bangsa Israel, ditentukan Allah untuk mengambil bagian dalam sejarah keselamatan umat manusia yang akan digenapi oleh Yesus Kristus, anak-Nya yang terkasih. Peristiwa ini pun oleh ketiga murid Yesus: Petrus, Yakobus dan Yohanes semakin  menguatkan dan meneguhkan iman kepercayaan mereka ketika berhadapan dengan peristiwa penderitaan, salib dan kematian Yesus. Karena dengan jalan itulah kemuliaan yang sesungguhnya menjadi buah keselamatan.

Maka “dengarkanlah dia” bukannya sekedar sebuah ajakan untuk mendengarkan apa saja yang akan dikatakakan oleh Yesus, tetapi sebuah ajakan untuk mengikuti proses keselamatan dari Allah yang akan digenapi oleh Yesus, sehingga mereka kemudian boleh memberikan kesaksian kepada banyak orang. Mereka menyadari tujuan hidup mereka yakni ambil bagian dalam keselamatan untuk manusia dalam Yesus Kristus.

Bagi kita pun pesan dari peristiwa ini adalah bahwa kita pun oleh kekuatan Allah, kita dipanggil Allah untuk ikut menderita bagi Injil Kristus. Bahwa kebahagiaan hanya dicapai melalui penderitaan. Bahwa Yesus adalah pemenuhan janji keselamatan Allah yang harus terus menerus didengarkan agar kitapun dapat memberikan kesaksian tentang Yesus itu dalam hidup kita. Kitapun diajak untuk tidak tinggal dalam kemah kemapanan kita, yang sering merasa aman dan nyaman di tempat yang ada, tetapi kita harus keluar dari zona nyaman kita dan  masuk ke dalam kenyataan dan keseharian hidup kita, Disanalah medan perjumpaan dan perjuangan untuk bersama-sama dengan murid-murid Yesus yang lain mengusahakan kehidupan yang lebih baik, lebih adil, lebih jujur, lebih bersaudara, menjadikan dunia tempat yang aman bagi sesama di sekitar kita. Dan kita pun yakin dan percaya bahwa Allah yang setia yang selalu hadir ditengah bangsa pilihan-Nya, Ia juga setia hadir ditengah hidup dan perjuangan kita. Semoga kita selalu mendengarkan DIA.

*****

Ditulis oleh Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komkat KWI, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *