Rapat Pleno Dan Hari Studi Pengurus Lengkap Komkat KWI 2020

 PENGANTAR

Pada tanggal 03-06 Pebruari 2020, bertempat di Widya Kartika Surabaya, Para Pengurus Komkat KWI mengadakan pertemuan Pleno Tahunan dan hari studi yang membahas tentang katekese kebangsaan Indonesia. Berkaitan dengan katekese kebangsaan ada dua in put penting yakni “Dokumen Abu Dahbi dengan Katekese” yang dibawakan oleh Mgr. Dr. Paulinus Yan Olla MSF, dan “Rancang Bangun Katekese Kebangsaan Indonesia” yang dibawakan oleh RD. Dr. Agustinus Manfred Habur. Selain itu dibahas laporan dan evaluasi kegiatan Komkat KWI tahun 2019, laporan dan evaluasi kegiatan Komkat setiap regio, serta laporan dan evaluasi dari PERPETAKI, PERDIKKATI, dan Lembaga Seminari. Setelah outing ke tempat wisata kuliner Wonorejo, Suramadu, dan Museum Sampoerna, pada hari terakhir dibahas persiapan PKKI XII yang akan mengambil tema: “Umat Katolik Unggul sebagai Masyarakat Indonesia: Melalui Katekese Kebangsaan, Umat Katolik Membentuk Jati Dirinya sebagai Manusia Kristiani yang Pancasilais”.

  Ketua Komkat KWI, Mgr DR. Paulinus Yan Olla, MSF dan Sekretaris Komkat KWI, Rm. Festo, Pr

Hadir dalam rapat pleno dan hari studi ini, Mgr Paulinus Yan Olla, MSF selaku Ketua Komisi Kateketik KWI, Rm. Fransiskus Emanuel da Santo selaku Sekretaris Komkat KWI, ketua-ketua regio, Wakil Lembaga Teologi/Seminari, dan Lembaga PERPETAKI (Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik seluruh Indonesia) dibawah payung  Kemenag RI  dan PERDIKKATI, (Perhimpunan Pendidikan Keagamaan Katolik  Indonesia) dibawah payung Kemendikbuddikti RI, serta staf harian Komisi Kateketik KWI. Pertemuan dan pendalaman berbagai tema berlangsung dalam suasana persahabatan dan diikuti dengan setia oleh semua peserta.

DOKUMEN ABU DHABI DAN KATEKESE

Sidang tahunan KWI tahun 2020 bertemakan “Persaudaraan Insasi
Untuk Indonesia Damai”.  Sidang tersebut secara khusus membahas Dokumen Abu Dhabi. Dokumen Abu Dhabi merupakan peringatan 800 tahun perjumpaan Santo Fransiskus dan Sultan Malik al-Kamil, dan penegasan tentang hal yang paling fundamental dalam kehidupan beragama yakni bahwa kita semua bersaudara.

Dokumen Abu Dhabi mengangkat keprihatinan kemanusiaan (pathologi sosial)  yang paling fundamental, yang diderita umat manusia apa pun agama dan kepercayaannya. Ada banyak persoalan kemanusiaan masa kini, yang seharusnya menjadi medan kepedulian bersama umat manusia, antara lain:

  1. Kemiskinan, konflik horizontal kemanusiaan, korban perang dan kekerasan, korupsi, ketimpangan sosial-ekonomi, dekadensi moral, ekstremisme, terorisme, religious phobia,
  2. Ideologi destruktif, diskriminasi kemanusiaan, kerusakan alam dan lingkungan, individualisme-pragmatisme-materialisme, korban bencana alam, kebodohan, fanatik buta, liberalisme ekonomi yang eksklusif,
  3. Krisis politik di sejumlah negara, problem kaum minoritas, anak yatim piatu, janda, perdagangan manusia, aborsi, euthanasia, ujaran kebencian, ketidakpedulian sosial, ketimpangan regional, ketimpangan gender dan penyimpangan ajaran agama.

Terhadap berbagai pathologi sosial ini semua orang termasuk umat Katolik Indonesia dipanggil untuk terlibat dalam promosi kerja sama atas dasar kepedulian terhadap kemanusiaan.  Katekese kebangsaan kiranya terlibat dalam tugas promosi ini. Melalui katekese, umat dibimbing untuk menyadari panggilannya dalam mengembangkan koinonia universal dengan semua orang dari perbagai suku, agama, ras dan golongan. Nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam 4 pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, dalam terang Injil kiranya diresapi dan dihayati oleh umat Katolik dalam kehiduban berbangsa dan bernegara setiap hari.

RANCANG BANGUN KATEKESE KEBANGSAAN INDONESIA

Gereja Indonesia telah memilih katekese umat  sebagai model khas katekesenya (Komkat KWI, 1979: 1). Katekese umat yang disepakati oleh PKKI I-IX, dipahami sebagai musyawarah iman (tinjaun antropologis), komunikasi iman (tinjauan teologis), dan analisis sosial dalam terang Kitab Suci (tinjauan sosiologis) (Lalu, 2007: 85-92). Tujuan katekese umat adalah agar dalam terang injil umat semakin meresapi arti pengalamannya sehari-hari; dan mereka bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiranNya dalam kenyataan hidup sehari-hari; dengan demikian mereka semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan makin dikukuhkan hidup kristianinya; mereka makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta; sehingga mereka sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidupnya sehari-hari di tengah masyarakat (Komkat KWI, 1984: 1-3). Orientasi dasar katekese umat adalah pembangunan Kerajaan Allah di tengah dunia, satu kerajaan yang dipenuhi oleh nilai kasih, keadilan, damai dan sukacita (Komkat KWI, 1993, 135-137).

Akhir-akhir ini, terdorong oleh semakin mencuatnya fenomena intoleransi, radikalisme dan dorongan untuk menggeser Pancasila sebagai ideologi dasar negara dan berkembangannya berbagai bentuk pathologi sosial dalam masyarakat, maka identitas kebangsaan Indonesia menjadi sorotan. Perlu dibangun kepribadian kristiani yang pancasilais dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.          Dan untuk itu perlu dikembangkan satu katekese kebangsaan yang mengarah pada pembentukan kepribadian kristiani yang pacasilais tersebut.      Sesuai arah dasar katekese umat, katekese kebangsaan kita pahami sebagai analisa masalah-masalah kebangsaan dalam terang iman kristiani, agar peserta katekese dapat mengembangkan jati dirinya sebagai pribadi kristiani yang matang dan pancasilais. Lokusnya adalah KBG-KBG, baik teritorial maupun kategorial, dan tentu juga komunitas-komunitas virtual yang berkembang di era digital ini (Bdk PKKI XI). Prosesnya mengikuti tiga tahap penting yakni melihat situasi, menimbangnya dalam terang Kitab Suci, dan memutuskan pilihan aksi sebagai rencana tindak lanjut (Lalu, 2007: 98-100).  Dalam tahap melihat situasi, umat bersama-sama melihat masalah kebangsaan yang sedang dihadapi. Pada tahap menimbang dalam terang Kitab Suci, umat menimba inspirasi dari Kitab Suci dan tradisi Gereja.  Dalam tahap ini diharapkan umat dapat menemukan dan memahami kepedulian Allah terhadap masalah-masalah kebangsaan yang dihadapi oleh masyarakatnya. Dengan kata lain inspirasi dari Sabda Allah diharapkan membantu mereka untuk mengerti serta meresapkan pandangan dan sikap Allah atas peristiwa-peristiwa kebangsaan yang terjadi dalam masyarakatnya (Bdk. Lalu, 2007: 99-100). Perspektif yang digunakan adalah penyangkalan diri (hermeneutika paska), dalam arti tahap tersebut betul menjamin Allah bersabda sebagai Allah dan bukan bersabda seperti yang diinginkan manusia (Bdk. Habur, 2020, 355). Dalam tahap rencana tindak lanjut, peserta menjadi lebih sadar akan tanggungjawabnya untuk memperbaiki pemahaman dan pengamalan nilai-nilai kristiani yang pancasilais dalam aksi-aksi konkrit.

Katekese kebangsaan sebagaimana dimaksudkan di atas, merupakan proses yang bertahap dan berkelanjutan (Bdk. Bruno Syukur, 2017, 7-17) yang mengarah kepada pembentukan manusia kristiani yang pancasilais.   Manusia demikian memiliki cara pikir, cara merasa, dan cara bertindak yang mengedepankan nilai-nilai Pancasila dalam terang iman kristiani. Dengan kata lain mereka menjadi umat yang unggul sebagai anggota masyarakat, karena cara pikir, cara merasa dan bertindaknya diresapi oleh semangat injil dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila setiap hari. Untuk mencapai “jati diri” yang demikian bukanlah mudah. Tidak bisa dicapai hanya oleh satu dua pertemuan katekese. Tidak juga oleh aktivitas-aktivitas yang hanya berupa pengajaran. Melainkan melalui proses yang terencana, bertahap, berkesinambungan terintegrasi dengan berbagai kegiatan gerejani, dan terarah kepada tujuan yang ditetapkan. Dalam hal ini, katekese kebangsaan membutuhkan semacam “kurikulum” sebagaimana frame work dan pedoman pelaksanaanya. Framework itu mencakup persoalan kebangsaan saat ini, profil manusia kristiani yang pancasilais, rancangan tujuan, materi pokok, indikator, serta gerakan-gerakan yang menyertai kegiatan katekese kebangsaan tersebut.

LAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN KOMKAT KWI, REGIO DAN LEMBAGA-LEMBAGA

 Kegiatan Komkat KWI selama tahun 2019 semua berjalan dengan baik. Kegiatan yang menjadi perhatian khusus adalah pendampingan penyusunan buku katekese digital krismapedia, penyusunan modul katekese di STFT, penyusunan bahan ajar PAK di PTU, Pertemuan dengan dosen PAK PTU yang berlangsung di Labuan Bajo, Manado, Medan, dan Balikpapan, Pernas Katekis IV di Denpasar, menghadiri pertemuan regio, dan persiapan penerbitan hasil PKKI I-XI dalam kerja sama dengan penerbit Kanisius. Krismapedia sudah terbit dan siap diedarkan ke keuskupan-keuskupan. Modul katekese dan PAK di PTU dalam proses penyelesaian dan diharapkan terbit tahun ini. Perpas IV di Denpasar telah menjadi kenangan indah bagi katekis lapangan karena dilaksanakan dengan penuh antusias dan berjalan dengan baik.

Animasi katekese di setiap regio juga berjalan dengan baik. Beberapa regio bahkan telah berhasil menerbitkan bahan-bahan katekese untuk pelbagai kepentingan seperti katekese inisiasi, persiapan komuni pertama dan krisma, katekese doktrin, dan bahan-bahan katekese umat untuk tema lingkungan hidup, migran dan perantau. Regio Jawa sudah mulai dengan gerakan katekese kebangsaan berjenjang. Regio Kalimantan sedikit mengalami kesulitan untuk animasi komkat-komkat keuskupan dalam regionya karena masalah wilayah yang terlalu luas dan akses transportasi yang sulit. Dianjurkan agar kordinasinya dibagi dua, Timur dan Barat.

Wakil Lembaga PERPETAKI, PERDIKATTI, dan Lembaga Seminari juga terus terlibat dalam upaya pengembangan Katekese di Indonesia. Masing-masing lembaga menganimasi lembaga-lembaga yang berada dalam tanggung jawabnya untuk mempersiapakan katekis-katekis awam, dan calon imam agar betul-betul trmpil dan komit dalam mengembangkan karya katekese di Indonesia.

PKKI XII DI MUNTILAN 2020

Disepakati tema PKKI XII di Muntilan adalah: “Umat Katolik Unggul sebagai Masyarakat Indonesia: Melalui Katekese Kebangsaan, Umat Katolik  Membentuk Jati Dirinya Sebagai Manusia Kristiani  Yang  Pancasilais”. Tujuan dari PKKI XII adalah mengevaluasi bersama implementasi hasil Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia (PKKI XI)  empat tahun sebelumnya; memperoleh persepsi yang sama tentang katekese kebangsaan sebagai pendidikan iman untuk pembentukan pribadi kristiani yang pancasilais; menyepakati profil manusia kristiani pancasilais sebagai standar umat katolik yang unggul; membuat framework (“kurikulum) katekese kebangsaan (tujuan, komptensi, materi, dan indikator); dan merencanakan gerakan-gerakan atau aksi untuk mendukung dan mengembangkan katekese kebangsaan.

Pelaksanaannya selama 5 hari pada akhir September dan awal Oktober 2020. Narasumber yang dianjurkan adalah Mgr. Ignasius Kardinal Suharyo atau Mgr Sunarko untuk tema “Pendasaran teologis-biblis Katekese Kebangsaan”, Bapak Yudi Latif atau Safe’i Maarif untuk tema “Pancasila dan situasi Kebangsaan Indoensia Dewasa ini”, Bapak Kristiadi atau Hery Priyono untuk tema “Profil Manusia Kristiani yang Pancasilais yang Dicita-citakan”.

KESEPAKATAN-KESEPAKATAN

Pelbagai pembahasan selama rapat pleno dan hari studi sebagaimana diuraikan di atas, merkomendasikan kesepakatan-kesepakatan berikut:

  1. Perlu memekarkan koordinasi regio Kalimantan menjadi dua yakni Kalimatan Timur dan Barat.
  2. Perlu menghimpun terbitan-terbitan kateketik setiap keuskupan agar bisa menjadi sumbangan bagi keuskupan lain. Saat PKKI XII diharapakan setiap keuskupan membawa serta luaran buku-buku katekese yang digunakan dalam keuskupannya.
  3. Perlu terus mengembangkan kerja sama antara Perpetaki, Perdikkati, Bimas Katolik dan lembaga Seminari dalam mempersiapkan calon katekis terbaptis dan tertahbis.
  4. Perlu terus dikembangkan pelatihan bagi fasilitator katekese voluntir di keuskupan-keuskupan.
  5. Perlu dibentuk tim kecil untuk mempersiapkan secara baik bahan sidang PKKI XII. Sudah harus ada questioner yang diedarkan ke setiap komkat keuskupan dan lembaga PERPETAKI dan PERDIKKATI dan Seminari untuk menjaring informasi tentang pelaksanaan program kerja seturut kesepakatan PKKI XI di Makasar, dan informasi seputar jati diri kristiani yang pancasilais dalam negara kebangsaan Indonesia saat ini.
  6. Perlu kordinasi regio bagi tim Krismapedia untuk melakukan sosialisasi ketekse digital zaman now ke keuskupan-keuskupan

PENUTUP

Demikianlah rangkuman dari rapat pleno dan hari studi pengurus lengkap Komkat KWI 2020 di Widya Kartika, Surabaya, 03-06 Februari 2020. Terimakasih untuk Keuskupan Surabaya dan tim kecil panitia lokal yang telah melancarkan seluruh kegiatan rapat pleno dan hari studi ini. Kedalam doa dan perlindungan Maria, Bunda segala Bangsa, kami serahkan seluruh tekad dan rencana kerja KOMKAT ke depan.

 

Surabaya, 06 Pebruari 2020

Peserta Rapat Pleno Pengurus Lengkap

Komisi Kateketik KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *