Renungan Hari Minggu Biasa XV : “Pergilah dan Perbuatlah Demikian!”

Bacaan : Ul. 30:10-14; Kol. 1:15-20; Luk. 10:25-37

oleh: RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Pengertian sesama manusia sering dipersempit artinya menurut pengertian dan kebutuhan kita. Sesama manusia sering diartikan adalah orang-orang dekat, orang-orang yang mencintai kita dan yang kita cintai. Mereka juga yang adalah orang-orang yang berbuat baik kepada kita. Bahkan sering pula diartikan, sesama manusia adalah orang-orang yang saya kenal. Maka yang bukan atau tidak saya kenal, yang tidak berbuat baik, orang asing, dll sering kita katakan sebagai bukan sesama.

Menarik kisah Injil ini yakni seorang ahli Taurat yang datang kepada Yesus dan bertanya “apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal”. Pertanyaan ini bukan karena ia merindukan apa yang harus dibuat agar memperoleh hidup yang kekal itu, tetapi suatu pertanyaan yang cuma mau mencobai Yesus. Memperoleh hidup yang kekal hanya dengan jalan mencintai. Mencintai Tuhan dan sesama seperti diri sendiri. Dan menjadi soal ketika ia sendiri mempunyai pemahaman yang lain/beda tentang sesama. “Siapakah sesamaku manusia?”

Perumpamaan Yesus mau membuka hati dan pikirannya untuk tau dan mengerti sesungguhnya siapakah sesama manusia itu. Kisah tentang orang Samaria yang baik hati itulah yang harus menjadi jawaban atas pertanyaannya itu. Mengasihi berarti bertindak seperti Orang Samaria yang baik hati itu. Kebaikan hati itu ditunjukkan dalam sikap/tindakan menolong orang yang dirampok, ketika ia berhenti di samping orang yang menderita dan menolong, tanpa ragu, tanpa peduli asalkan orang yang ditolong itu diselamatkan, orang Samaria yang baik hati yang berbelaskasih tanpa pandang suku, agama, ras, golongan dan sebagainya.

Bagi kita, kisah ini mengajak kita untuk juga menjadi seperti orang Samaria yang baik hati. Yakni berani keluar dari sikap merasa paling benar, menganggap rendah orang lain, kerelaan untuk menolong yang menderita, bahkan terhadap orang yang tidak kita kenal, tidak kita sukai, menolong tanpa ragu, tanpa perhitungan untung rugi, tidak supaya dilihat atau dipuji orang. Berani turun dari kesombongan dan ego kita, turun merendah dan mengangkat yang lemah.

Jaman ini banyak orang yang terkapar di pinggir jalan hati dan hidup kita. Yang dirampok hak-haknya, yang miskin dan sakit, yang kehilangan kasih cinta dan perhatian, yang tersingkir akibat persaingan-persaingan hidup, yang kehilangan pegangan bahkan kehilangan kasih sayang..dll. Sangat dibutuhkan “Orang Samaria Yang Baik hati” di jaman kita ini untuk berani, mau dan rela menolong dengan hati dan kasih. Bukan cuma numpang lewat, bukan cuma melihat dari jauh dan menghindar. Bila kita masih bisa melihat orang lain sebagai sesama, bila hati kita masih terbuka untuk menerima dan menyapa sebagai sesama, rela menolong tanpa membedakan, maka sebenarnya kita sudah dijalan menuju hidup yang kekal.

Berkatilah kami ya Tuhan, agar dari hari ke hari kami boleh menjadi  seperti orang Samaria yang baik hati dalam menolong sesama kami di sekitar kami. Bukan sebatas kata, tapi melalui tindak nyata. Bantulah kami, agar kami dapat pergi dan berbuat seperti yang Engkau kehendaki. Amin

**********

RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *