Renungan Hari Minggu Biasa XVI : “Duduk Dekat Kaki Yesus dan Mendengarkan Perkataan-Nya”

Bacaan : Kej. 18:1-10a; Kol. 1:24-28; Luk. 10:38-42

oleh: RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Menjadikan hidup ini berjalan seimbang bila ada perpaduan dua unsur, seperti kerja dan doa, berbicara dan mendengarkan. Kita tidak hanya menjadi manusia yang hanya bekerja saja. Bila demikian kita menjadi budak atau hamba dari pekerjaan kita sendiri. Bekerja saja belumlah cukup untuk hidup. Juga hanya berdoa saja belum cukup untuk hidup. Yang perlu adalah keseimbangan antara doa dan bekerja. Dalam doa kita melihat gerak cinta kasih Allah yang terus menerus mengalir kr dalam hati kita untuk terus menerus pula mengalirkan semangat baru dalam dan bagi setiap pekerjaan kita.

Maria dan Marta dalam kunjungan Yesus masing-masing menunjukkan kesibukannya dalam cara menerima kehadiran Yesus.  Marta merasa sangat berarti dan bertanggungjawab melayani Yesus dengan kesibukannya bekerja. Supaya Yesus dapat menimati yang terbaik dari hasil kerjanya itu. Sementara Maria, ia sibuk dengan ada dekat bahkan duduk di samping Yesus dan mendengarkan Yesus. Maria merasa bahagia kalau ia melayani Yesus dengan duduk dekat dan mendengarkan Yesus. Maria tidak menginginkan Yesus duduk sendiri dan tidak ditemani. Apa yang dibuat Marta dengan kesibukannya adalah baik. Tetapi menjadi soal, ketika Marta melihat Maria seolah tidak peduli dengan kesibukannya dan bahkan mengeluh. Tentu juga merasa bahwa duduk dekat dan mendengarkan Yesus bukanlah suatu”kesibukan” tersendiri.

Marta justru ditegur oleh Yesus karena keluhannya itu. Karena itu, Yesus ingatkan bahwa, yang dilakukan Maria adalah sebuah pilihan yang tepat. Maria berani meninggalkan rutinitasnya untuk sesaat bisa ada, dekat dan berbicara, berjumpa dengan Tuhan yang datang begitu langka di rumah mereka sebagai tamu. Marta merasa khawatir  dan menyusahkan diri dengan banyak perkara. Sementara Maria dipuji sebagai “memilih bagian yang terbaik”.

Memilih bagian yang terbaik sering begitu sulit dalam hidup kita. Terkadang yang dirasa terbaik adalah kalau bekerja dan bekerja, memenuhi segala kebutuhan keluarga, rumah tangga, kesuksesan karier, berbagai rencana dan program kerja yang harus diselesaikan, bahkan merasa sangat terbatas waktu atau bahkan tidak lagi punya waktu sedikitpun untuk sejenak berdoa, sejenak datang, dekat dan duduk mendengarkan Yesus dalam sebuah keheningan doa. Keheningan itu sendiri sering terasa menakutkan. Bahkan untuk Tuhan terasa tidak punya waktu. Bagian yang terbaik menurut kita adalah kesibukan dalam rutinitas kerja.

Pesan Yesus hari ini mengajak kita untuk berhenti sejenak. Untuk datang, dekat, duduk dan mendengarkan apa yang Yesus sampaikan dan ajarkan Butuh keheningan. Butuh kerelaan memberikan waktu, hati dan perhatian, karena itulah yang terbaik yang tidak akan diambil dari kita. Itulah saat rahmat, saat perjumpaan pribadi dengan Yesus yang selalu siap menyapa. Punya waktu untuk mendengarkan dan didengarkan, untuk saling menyapa, untuk mencintai dan dicintai. Relasi hati bisa dibangun kalau orang punya hati untuk saling memperhatikan dan memberi hati untuk saling menyapa dalam kasih. Kesibukan apapun tidak akan menyelesaikan soal, tetapi ketika orang saling membuka hati, duduk bersama, seberkas senyum dapat diberikan dengan tulus, sangat berharga, dan menjadikan hidup ini lebih bermakna. Hal ini sering dilupakan, diabaikan; karena itu kita kehilangan kesempatan untuk menjadi yang terbaik. Kita butuh keseimbangan, “ora et labora”. Tuhan memberkati.

*********

 

RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *