Maria, Martir Yang Tak Berdarah (Erni Dameria Simare Mare)

Kata Martir tentu tidak asing dikalangan masyarakat pada umumnya. Secara khusus kehadiran para martir diakui dalam tradisi Gereja Katolik. Para martir di masa lampau identik dengan mengorbankan nyawa demi membela iman. Pengorbanan tersebut tentu didasari dengan relasi yang mendalam dengan Sang Pencipta. Ada berbagai tindakan yang dilakukan oleh para Martir. Tindakan-tindakan tersebut diilhami oleh Roh Kudus yang dilakukan tanpa pamrih. Kini Pengorbanan para martir diperingati. Dengan harapan mampu memberikan daya dampak bagi umat beriman dalam berelasi dengan Sang Pencipta. Namun, pada masa kini identitas martir tidak identik dengan mengorbankan nyawa. Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa: “Martir di masa ini adalah mereka yang menjadi orang yang konsisten pada apa yang dikatakan, apa yang diperbuat, dan apa yang diterima sebagai saksi Injil, bahkan ketika ia harus mempertaruhkan nyawanya.”   (lihat http://en.radiovaticana.va/news/2017/04/21pope_francis_to_pay_tribute_to_modern_day_martyrs/1307162).

Dalam dogma (ajaran) Gereja Katolik, umat beriman mengenal Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Kemartiran Bunda Maria dalam kitab suci tidak disingkapkan secara eksplisit, namun dapat dilihat secara implisit sesuai dengan makna kemartiran pada masa kini. Bunda Maria dipilih dan dipanggil tanpa dosa, Allah memberikan kepadanya rahmat khusus agar ia terbebas dari dosa asal sejak ia terbentuk sebagai janin dirahim ibunya, St. Anna. (Stefanus Tay & Ingrid Listiati Tay, Maria O Maria, 14). Perawan Maria yang amat berbahagia terlindung dan terpelihara (praeservatam), bebas dari segala noda (labes) kesalahan asal (originalis culpae) berkat kasih karunia yang seluruhnya istimewa dari pihak Allah Yang Mahakuasa, berdasarkan (intuiti) jasa (merita mengandung Kristus Yesus, Juru selamat umat manusia. (Groenen, Mariologi Teologi dan devosi, 78).

Bunda Maria bersama Nicodemus dan beberapa pengikut Yesus menurunkan Yesus dari salib untuk dimakamkan.(wikipedia.org)

Sebagai seorang manusia biasa, kemartiran Bunda Maria dimulai dengan Fiatnya yang mengatakan “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”. (Luk. 1:38) Sebagai manusia yang dihadapkan pada pernyataan “engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang Anak laki-laki…Sebab itu Anak yang kau lahirkan akan disebut kudus Anak Allah”. Pada saat itu juga Bunda Maria bergulat dengan dirinya. Pikiran dan perasaannya terarah pada pernyataan itu. Dalam hati dan pikirannya Bunda Maria menimbang-nimbang dengan penuh pertanyaan “Bagaimana mungkin aku mengandung Anak Allah? Akan seperti apa perjalanan hidupku bersama anak Allah? Dia pasti berbeda dengan Anak yang lain. Apa yang harus ku lakukan?”dengan berbagai pertanyaan dalam hatinya, Bunda Maria meneguhkan pilihan dengan fiatnya “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu”. (Luk. 1:38). Pada saat itu juga Bunda Maria telah membuka jalan keselamatan bagi umat manusia. Seandainya saja, saat itu Bunda Maria tidak menerima tugas tersebut pasti tidak akan pernah terjadi karya penyelamatan Allah bagi umat manusia. Dalam kerendahatiannya Bunda Maria bersukacita dalam kidung magnificatnya yang mengatakan bahwa Allah telah memilihnya menjadi Bunda Kristus. Ia menjadi jalan untuk menunjukan Kemahakuasaan Allah, yang mau “menceraiberaikan orang yang congkak hatinya, menurunkan orang yang berkuasa dari tahta, mengangkat dan meninggikan orang yang rendah, dan melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,….untuk selama-lamanya”. (Luk. 1:51-55). Allah menunjukan kemahakuasaann-Nya melalui keikutsertaan Bunda Maria dalam karya penyelamatan-Nya. Tentu saja, dalam seluruh proses itu tidaklah mudah. Ada banyak hal yang dikorbankan oleh Bunda Maria.

Ketika mengandung Yesus, Bunda Maria dihadapkan pada perjuangannya bersama santo Yusuf yang terus berpindah pindah tempat dalam mempersiapkan kelahiran Kristus. (Mat 2:13;19) pada akhirnya proses persalinan dilakukan di kandang domba, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Luk. 2:7). Betapa lelah fisik dan batin Bunda Maria pada saat itu. Dengan tubuhnya yang berat mengandung Yesus sambil menunggangi keledai. Bahkan Kristus lahir di kandang domba yang hina, padahal Dia adalah Putera Allah, bagaimana perasaan Bunda Maria saat itu?

Pada masa itu Bunda Maria dan santo Yusuf hidup dalam budaya Yahudi. Tradisi bangsa Yahudi saat itu mengharuskan anak yang telah genap delapan hari dilahirkan harus diserahkan kepada Tuhan dengan cara disunat. Saat itu Yesus dipersembahkan kepada Allah dengan perantaraan Simeon dan Hanna, yang cara hidupnya benar dan saleh dihadapan Allah. Saat itu Simeon mengatakan kepada Bunda Maria bahwa “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan –dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri- supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk. 2:34-35). Perasaan Bunda Maria kian terasah dengan pernyataan itu, rasa-rasanya pilihan Bunda Maria dengan fiatnya itu menghantarkan ia pada pilihan yang justru menyayat jiwanya. Pancaran mata Bunda Maria, menyiratkan suatu kesedihan yang mendalam. Sambil tertunduk dan bertanya dalam hatinya “Apakah pilihanku salah mengandung dan melahirkan Anak ini?” Namun Bunda Maria tetap teguh pada pernyataannya bahwa ia adalah hamba Tuhan, milik Tuhan, memilih jalan ini karena kehendak Yang Mahakuasa.

Setelah ungkapan yang menusuk jiwanya itu. Tradisi yahudi yang lain,  mengharuskan orang Yahudi untuk pergi ke bait Allah pada hari raya paskah. Saat itu Yesus berusia 12 tahun, Yesus menghilang dari orang-orang seperjalanan mereka selama tiga hari lamanya. Sebagai seorang wanita dan seorang ibu, tentu dalam benak Bunda Maria hanya ada kekhawatiran dan kecemasan pada Anaknya. Namun, Bunda Maria tetap setia sampai ia menemukan Yesus. Ketika menemukan Yesus. Yesus berkata : “Mengapakah kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada didalam rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:49). Lagi-lagi Bunda Maria meneteskan air mata dalam hatinya. Setelah tiga hari lamanya yang lelah mencari Puteranya itu bersama santo Yusuf. Puteranya hanya berkata demikian. Dalam hatinya nampaknya Bunda Maria berkata demikian : “Mengapa Engkau bertanya demikian Nak, aku ini ibu-Mu, aku yang mengandung-Mu, aku yang melahirkan-Mu, aku yang merawat-Mu. Aku sungguh mengkhawatirkanmu, dan aku sungguh cemas ketika Engkau menghilang. Lalu Engkau hanya berkata demikian?.” Namun, saat itu Bunda tetap berkata bahwa ia adalah hamba Tuhannya. Ia mengorbankan lagi perasaannya dan menyimpan perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. (Luk 2:51).

Perjuangan Bunda Maria belumlah usai. Air mata dalam setiap perjalanan yang dilaluinya hanya sebagian kecil dari perjalanan salib Puteranya. Dua ribu tahun lalu Bunda Maria melihat sendiri Anaknya disiksa, dianiaya, dihakimi, dicaci maki, dianggap sebagai penjahat. Bunda Maria mengikuti perjalanan salib puteranya -setiap tetesan darahNya, air mataNya, keletihanNya. Saat Perjumpaan Bunda dengan Putera itu terjadi, Bunda Maria hanya menatap mata PuteraNya dengan menyiratkan suatu pesan berisi makna yang memberi kekuatan : “Nak, semua ini harus terjadi, Allah telah menjanjikan karya keselamatan bagi umat manusia, Engkaulah anakku yang kukasihi. Engkau harus kuat”. Sampai dipuncak golgota, Bunda Maria melihat Puteranya yang nyaris tak menyerupai manusia lagi, melihat dan mendengar suara ngilu paku menembus ruas-ruas tangan Puteranya, melihat kedua kaki yang saling menopang dan dipaku menembus ke dalam tulang dan daging, dan sampai pada salib itu didirikan, nafas Puteranya makin tersegal-segal… sampai pada saat Puteranya menundukan kepala, dan -semuanya telah berakhir bagi Bunda Maria. Mata Bunda Maria menyiratkan suatu sikap batin yang kuat dalam menerima Yesus dan mengembalikan Yesus ke tangan BapaNya. Ketika jenazah Yesus diturunkan, Bunda Maria menerima Yesus dengan kedua tangannya, air matanya mengalir tanpa henti dan tanpa suara yang terdengar dari mulutnya. Sambil memeluk dan memegang erat jenazah Puteranya dalam hatinya ia berkata dan berdoa “Kini Engkau ada dalam genggaman ku nak, kini Engkau bersamaku, tiada yang akan menyakiti-Mu lagi, aku bersama-Mu” dan suatu ungkapan iman itu terus menggema dalam hati Bunda Maria “aku ini hamba Tuhan, apa yang ku alami, apa yang ku rasakan, apa yang ku lihat, apa yang ku dengarkan. semuanya ini karena kehendak Allah dan Allah menyertai aku, dan aku tetap berkata. Allah Israel Engkaulah Allah yang hidup”.

Setiap kedukaan yang dialami dan dirasakan oleh Bunda Maria merupakan dampak atas tindakan kemartiran yang pilihnya demi karya keselamatan umat manusia. Perasaan-perasaan yang dialami oleh Bunda Maria adalah suatu bentuk ketaatannya kepada kehendak Allah. Puncak penyerahan diri dan Ketaatan Bunda Maria, terletak pada saat dia mengatakan “Ya” untuk setiap perjuangannya sampai berada di kaki Kristus ketika disalibkan (Stefanus Tay & Ingrid Listiati Tay, Maria O Maria, 14). Bunda Maria menyaksikan dengan matanya sendiri, Puteranya yang menderita dan wafat dengan cara yang demikian tragis. Bunda Maria tetap setia menyertai Kristus sampai akhir, saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Dia. Bunda maria tetap setia berdiri di kaki salib Kristus, walaupun ia melihat bahwa apa yang terpampang dihadapannya sepertinya adalah kebalikan dari apa yang pernah didengarnya dari malaikat, yaitu bahwa Anak yang dilahirkannya “…akan menjadi besar, dan akan disebut Anak Allah yang Maha Tinggi dan Ia akan menjadi Raja atas keturunan yakub sampai selama lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk 1:31-33). Di kaki salib itu, Bunda Maria turut mempersembahkan Puteranya yang sangat dikasihinya kembali ke tangan Allah Bapa. Suatu ungkapan iman tanpa kata “terjadilah padaku menurut perkataanmu, ya Tuhan” (Luk. 1:38). Tak terbayangkan betapa besar kepedihan jiwa yang dialami oleh Bunda Maria. Namun juga betapa kuatnya kuasa rahmat Allah dalam jiwa Bunda Maria betapa besarnya pengaruh Roh Kudus yang memberikan kekuatan kepadanya sebab adakah penderitan seorang ibu yang melihat sendiri dihadapannya bagaimana Anaknya difitnah, dihina, disiksa sedemikian hebatnya sampai wafat? Bunda Maria melihat bagaimana Puteranya menumpahkan darahnya dan bagaimana siksaan itu mengakibatkan tubuhnya nyaris hancur tak menyerupai manusia lagi. (Stefanus Tay & Ingrid Listiati Tay, Maria O Maria, 15-16).

Martir pertama-tama bukanlah penumpahan darah karena Kristus tetapi pengorbanan diri atas apa yang dilakukan bagi khalayak ramai dan itu merupakan wujud dari sikap kemartiran walaupun tidak terlihat apa yang telah di korbankan seseorang. Menjadi martir, merupakan tugas semua umat beriman, semangat rela berkorban adalah bentuk penghayatan iman setiap orang. Sikap dan tindakan Bunda Maria atas pilihannya menjadi Bunda Kristus, merupakan bentuk sikap yang konsisten terhadap apa yang telah dikatakannya sejak awal, apa telah diperbuatnya, dan apa yang telah diterimanya sebagai saksi injil. Bunda Maria memang tidak mempertaruhkan nyawanya, tetapi Betapa banyak perasaannya yang dikorbankan bagi keselamatan umat manusia. Lalu siapakah umat manusia sehingga Bunda Maria mengorbankan dirinya demikian dalamnya?. Marilah kita sebagai umat beriman, berani mengambil sikap yang konsisten dalam bertindak dan berbuat, dan mengobarkan semangat rela berkorban bagi khalayak ramai.

Catatan  tentang Penulis artikel:  Erni Dameria Simare Mare adalah Mahasiswa Program Studi Keagamaan Katolik, Unika Atmajaya Jakarta, angkatan tahun 2017. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *