Renungan Hari Minggu Biasa XIII: “Ikut Yesus Butuh Ketegasan Sikap dan Totalitas Pemberian Diri”

Bacaan : 1Raj. 19:16b. 19-21; Gal. 5:1.13-18; Luk. 9:51-62

oleh  RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Untuk mencapai suatu tujuan dan usaha untuk meraih apa yang diperjuangkan, orang harus memiliki kesungguhan, keberanian, kerelaan untuk mengabaikan yang lain, dan fokus mengarahkan segala usaha dan tenaga untuk apa yang sedang diperjuangkan. Juga, menjadi murid Yesus dan menjadi pengikuti-Nya yang setia, dibutuhkan ketegasan sikap dan totalitas dalam pemberian diri. Itu berarti, tidak asal-asal, tidak ikut ramai, bahkan tidak membuat berbagai perhitungan untung-rugi.

Yesus dalam Injil hari ini menyampaikan kabar baik tentang Kerajaan Allah, kabar keselamatan. Warta ini disampaikan kepada segala bangsa, suku dan bahasa. Namun semuanya ini adalah tawaran semata. Manusia bebas menerima atau menolak. Dan kalau pun menolak, kita tidak berhak untuk marah bahkan harus memberikan sanksi. Karena dengan itu, warta keselamatan itu disampaikan kepada orang lain. Pengalaman dua murid dalam Injil yakni Yakobus dan Yohanes menghendaki agar orang Samaria yang menolak Yesus diberikan hukuman, namun Yesus justru menegur mereka.

Hal ini mau mengajarkan kepada kita juga, bahwa ketika maksud baik pewartaan kita tidak diterima atau ditolak, sering membuat kita marah, tersingguh, putus asa, bahkan berdoa agar mereka segera dibinasakan, tapi justru Yesus tidak menghendaki demikian. Bagi Yesus, warta keselamatan Kerajaan Allah semata adalah tawaran kasih Allah bagi manusia, bukan paksaan. Orang harus dengan kehendak bebas dan kemauan serta kesungguhan untuk berani memberikan jawaban atas tawaran kasih Allah itu.

Maka jelas ketika orang pertama dalam Injil tadi dengan penuh antusias, menawarkan diri mau  mengikuti Yesus, ia ditantang oleh Yesus dengan mengedepankan apa artinya menjadi murid. Menjadi murid Yesus bearti berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tidak ada jaminan tempat tinggal yang tetap. “Serigala mempunyai liang dan burng-burung mempunyai sarang, tetapi Putera Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”

Sementara itu, orang kedua yang secara khusus dipanggil, “Ikutlah Aku”, ternyata berkeberatan karena masih terikat dengan keluarga. Keluarga menjadi yang utama dan penting, karena itu ia minta, “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku”. Orang ini ternyata gagal mengikuti Yesus karena ia tidak bisa memutuskan entah merawat orangtua atau mengikuti Yesus. Dengan itu mau mengatakan juga bahwa dia baru mau mengikuti Yesus atau melayani Allah sesudah pekerjaan pokoknya selesai. Kalau ada sisa waktu barulah untuk Tuhan. Keterikatan seperti itu membuat orang (kita) sering sulit untuk keluar dengan bebas dan sukacita melayani Tuhan, mengikuti Dia. Dengan melepaskan diri dari kerterikatan pada harta duniawi atau keluarga jasmani orang akan dengan bebas mencurahkan hidupnya secara penuh, utuh dan sukacita kepada Tuhan. Hal ini nyata pada orang ketiga dalam kisah Injil, yakni tidak bisa mengikuti Yesus karena masih terikat secara emosional dengan keluarganya. “Aku akan mengikuti Engkau Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dulu dengan keluargaku”. Selalu saja orang punya seribu satu alasan entah memang tidak mau, entah alasan keluarga, pekerjaan, kesibukan, dll, dll..

Yesus justru menuntut jawaban yang tegas, berani dan sungguh. Yesus menuntut sebuah totalitas pemberian diri bagi mereka yang mau mengikuti-Nya. Totalitas itu menuntut kesetiaan, keberanian untuk memusatkan seluruh perhatiannya pada Tuhan. Komitmen mengikuti Yesus penuh konsekuen menuntut keberanian dan kesetiaan.

Totalitas itu juga dituntut dari kita para murid zaman ini yakni setiap pikiran, perkataan dan perbuatan seharusnya terarah untuk membangun Kerajaan Allah. Perlu ketegasan sikap, sebab “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah”. Sekali Yesus tetap Yesus, selamanya Yesus. ***

 

RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *