Rekoleksi Katekis : Pewartaan Harus Berpusat Pada Yesus, Bukan Diri Sendiri

Sekretaris Eksekutif Komisi Kateketik KWI Romo Fransiscus Emanuel  de Santo, Pr, membimbing rekoleksi para katekis Santa Bernadet Paroki Ciledug di wisma Retret Pratista Bandung, 25-26 Mei 2019, dengan tema “Dari Happy menjadi Ilahi”.

Rekoleksi diikuti 43 peserta yang terdiri dari katekis sub seksi Baptis Bayi, BIA/BIR, Komuni Pertama, Krisma, Katekumen Anak dan Dewasa, guru-guru Persink (Persatuan Siswa Siswi Negeri Katolik), 2 remaja Mio (15 tahun) dan Vio (16 tahun), serta anggota DPH Bp GM Budi Suryanto dan mantan Ketua Sie Katekese Pak Sutrisno Kambali.

Pembimbing rekoleksi yang akrab disapa Romo Festo itu menyampaikan materi renungan tentang katekis atau pewarta. Pada bagian awal dipaparkan “Pelayanan dengan cinta dan pengorbanan”. Seorang katekis atau pewarta dituntut melayani dengan totalitas, karena pelayanan harus didasari kerelaan hati, ketulusan, dan semangat untuk berkorban.

                          Rm. Festo sedang memberikan rekoleksi kepada para katekis paroki St.Bernadet, Ciledug (foto: Panitia)

Untuk menjelaskan totalitas itu, Romo Festo menggambarkannya dengan apa yang dilakukan seorang ibu dalam keluarga.

“Ibu harus bangun paling awal, melakukan seluruh rangkaian tugas rumah tangga tanpa menghitung jam dan ketika hari sudah malam dia juga harus mengecek kembali apakah semua kompor di dapur sudah dimatikan, semua pintu rumah sudah terkunci, dan semua lampu yang tidak perlu dimatikan, sampai akhirnya menjadi paling terakhir menuju peraduan,” katanya.

“Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:23) “Itulah landasan kuat  dalam pelayanan,” imbuh Romo Festo.

Dalam bagian berikut, Romo Festo mengatakan bahwa pewarta harus menyadari pelayanan sebagai sebuah panggilan jiwa yang semestinya dilakukan dengan suka cita, tidak terpaksa, tidak mengeluh, karena apa yang dilakukan untuk kebaikan banyak orang. Dengan demikian maka pewarta akan memperoleh kepuasan (secara iman).

 

Berpusat pada Yesus

Dan yang tidak boleh dilupakan adalah tetap berpusat pada Yesus, apapun bentuk pelayanan yang dilakukan. “Banyak pewarta yang lupa bahwa yang harus diwartakan adalah Kristus, bukan dirinya sendiri,” imbuhnya.

 

Untuk itu seorang katekis atau pewarta harus punya sifat rendah hati, takut akan Tuhan, melayani sebagai hamba, rela berkurban, dan memiliki integritas pribadi karena apa yang diucapkan itulah juga yang dilakukan.

Akhirnya supaya menjadi pewarta  yang “militan” dalam arti punya semangat tinggi, penuh gairah, dan tangguh dalam tugas pelayanan, pewarta harus selalu memiliki komitmen dan konsisten menempatkan Yesus sebagai sumber pewartaan.

 

Di penghujung acara, Ketua Sie Katekese Yohanes Roso Pramono berharap setelah  rekoleksi  ini semangat pelayanan tetap terjaga dan semakin kompak dalam  memajukan kehidupan beriman umat.

Salah satu katekis senior FA Suradji menginginkan rekoleksi terjadwal secara rutin karena bisa meningkatkan semangat terutama saat pewarta sudah merasa lelah, bosan atau penurunan semangat akibat rutinitas dalam pelayanan.

Semoga harapan-harapan itu dapat terwujud, sehingga para pewarta St Bernadet bisa melakukan pelayanan yang berpusat pada Kristus.

 

Teks: Maria Melati KS/ Foto-foto: GM Budi Suryanto, Lusiana, Melati

Sumber:  https://santabernadet.id/home/post/393

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *