Renungan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus: Marilah Pergi, Kita Diutus !

Bacaan: Kis 1:1-11; Ibr 9:24-28, 10: 19-23; Luk 24:46-53

oleh: RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Perpisahan sering meninggalkan rasa sedih, bahkan bila perpisahan itu disebabkan oleh kematian maka tentu sudah pasti orang berduka, merasa kehilangan, ditinggal dan merasa tak berdaya. Sampai mengatakan, bukan perpisahan yang kutangisi, tetapi perjumpaanlah yang kusesali. Hal ini memang sangat manusiawi. Namun, berbeda dengan kisah Injil hari ini. Yang dialami oleh para murid  ketika Yesus berpisah dari mereka bukanlah kesedihan, ratap tangis dan duka, melainkan malah sukacita. Injil menulis dengan jelas. Ketika Yesus sedang memberkati mereka, “Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di bait Allah dan memuliakan Allah”. Sukacita mengalami perpisahan. Mereka berada di bait Allah dan memuliakan Allah. Inilah suatu pengalaman iman, ketika para murid mengalami sebuah perpisahan denagn Yesus.

Kenaikan ke surga dipahami sebagai kembali-Nya Yesus mulia kepada Bapa-Nya, setelah selama empat puluh hari Ia menampakkan diri kepada para murid-Nya untuk mematangkan hubungan mesra para murid dengan Yesus yang bangkit. Dengan kembali kepada Bapa maka arah perjuangan para murid diperjelas. Seluruh kehidupan bersama Yesus melaluim pengalaman penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya memberikan makna dan nilai istimewa dalam perjalanan menuju Bapa.

Peristiwa kenaikan Yesus ke surga merupakan sebuah penugasan bagi para murid untuk mewartakan kasih karunia Allah kepada manusia. Dengan memberkati para murid Yesus mulia mempercayakan tugas pewartaan kepada mereka. Mereka kembali ke Yerusalem dengan penuh sukacita, dan mewartakan kegembiraan itu kepada sesama, menjadi saksi yang tangguh dan handal bagi dunia. Yerusalem merupakan kota persiapan; dan di situlah para murid mempersiapkan diri untuk tugas kerasulan. Yerusalem adalah kota keselamatan Allah. Di situlah Allah melaksanakan karya keselamatan-Nya dalam kehidupan Yesus, wafat dan kebangkitan-Nya.

Kita diajak melalui peristiwa hari ini untuk menaruh harpan pada masa depan bersama Yesus yang mulia. Seperti para murid, kiranya kita pun menemukan keberanian dan kekuatan mewartakan kabar gembira kepada sesama. Mengandalkan kehadiran Roh-Nya memperjuangkan tugas dan perutusan kita yang dahulu diperjuangkan Yesus bagi sesama. Kepergian Yesus ke dalam kemuliaan adalah awal dari kehidupan Gereja. Gereja harus siap memperjuangkan apa yang telah diperjuangkan Yesus bersama mereka: menjadi saksi di Yerusalem sampai ke pelosok dunia. Marilah pergi, kita diutus! Tuhan memberkati

*******

RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *