Renungan Minggu Paskah ke 2: Menjadi Rasul Kerahiman Ilahi

Bacaan: Kis.5:12-16; Why 1:9,11a.12-13.17-19; Yoh. 20:19-31

by RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Kisah penampakkan Tuhan sesudah kebangkitan-Nya kepada para murid yang sedang takut dan berada dalam rumah yang tertutup dan terkunci rapat, tetntu saja membawa suatu semangat baru, penuh sukacita yang luar biasa. Pada saat yang sama, merekapun menerima Roh Kudus dan perutusan untuk menjadi rasul yang membawa pengampunan dan damai sejahtera dari Allah. Dengan kata lain, menjadi rasul kerahiman Ilahi.

Kegembiraan paskah itu tidak mudah diterima, dan secara khusus Tomas, seorang dari kedua belas murid Yesus itu. Ia malah meminta bukti supaya bisa percaya. Tidak begitu gampang bagi Tomas ketika diceritakan kepadanya tentang Yesus yang menampakkan diri-Nya, bahwa Yesus sudah bangkit. Ia hanya bisa percaya kalau ia bisa melihatnya sendiri bekas paku pada tangan Yesus dan mencucukkan jarinya ke dalam bekas paku dan lambung Yesus itu. Keraguan dan ketidak percayaan seperti itu justru menjadi awal perpecahan; ketika seseorang menjauhkan diri dari sebuah kebersamaan, menjauhkan diri dari komunitas/paguyuban beriman; sebab Tuhan hanya menampakkan diri kepada para murid yang seanga berkumpul. Toma tidak mengalaminya karena ia tidak hadir di sana. Namun Tomas dengan berani mengungkapkan imannya, ketika ia masuk kembali dalam komunitas beriman dan membiarkan dirinya disapa kembali oleh Yesus.

Yesus meminta kepada Tomas yang tadinya ragu, bimbang, tidak percaya untuk percaya. “… jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah”. Hanya orang yang percaya, hanya orang yang tidak lagi bimbang dan ragu, hanya orang yang beriman ia akan mengalami sukacita kebangkitan. Pintu hati yang tertutup rapat harus dibiarkan terbuka agar Yesus menampakkan diri-Nya di sana. Hanya dalam kebersamaan dalam sebuah komunitas beriman orang akan mengalami kehadiran Tuhan yang memberikan penuhan. “Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah”. Sebab “Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya”. Kita perlu melihat dengan mata hati, dengan mata iman; sebab hanya hati yang terbuka dan percaya menghantar kita untuk mengalami kehadiran Tuhan yang bangkit; bahkan juga melalui orang-orang di sekitar kita, Tuhan yang bangkit itu hadir.

Pengalaman Rasul Tomas, terkadang menjadi pengalaman kita. Kita tidak mudah untuk percaya atas pewartaan yang kita terima, atas kabar gembira yang disampaikan kepada kita. Kita sering menjadi bimbang dan ragu ketika segala doa, permohonan dan harapan kita tidak pernah terkabul; ketika kita mengalami berbagai peristiwa kegagalan, sakit dan penyakit bahkan kematian. Kita lalu meragukan Tuhan. Kita meragukan belaskasih, kemurahan dan kerahiman-Nya bagi kita. Kita boleh jadi merasa Tuhan itu sudah mati; bahkan kita berkata “untuk apa lagi harus percaya kepada Tuhan?”. Kita bahkan keluar dari kebersamaan sebagai sebuah komunitas beriman. Kita berusaha meninggalkan Allah dan Gereja-Nya. Namun, melalui pengalaman Rasul Tomas, kita menemukan jawaban atas keraguan, kebimbangan dan ketidakpercayaan kita itu. Bahwa Tuhan yang bangkit itu selalu hadir, walau ketika pintu hati kita pun tertutup rapat. Ia tidak hanya hadir, tetapi Ia menganugerahkan Roh-Nya kepada kita agar kita diperbaharui, dan agar kita menjadi utusan-Nya yang membawa pengampunan, menjadi rasul kerahiman bagi dunia di sekitar kita. Kepada kita pun I

Yesus yang bangkit itu berkata, “ Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah!”. Sebab bagi yang percaya segala sesuatu menjadi mungkin. Berkat-Nya menjadi nyata. Kerahiman dan belaskasihNya terus mengalir ke atas kita.

Kita perdoa, “Tuhan semoga kami selalu percaya kepada-Mu. Perbaharuilah iman kepercayaan kami. Bantulah kami yang kurang percaya ini”. Amin.

*********

RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam diosesan asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *