Renungan Hari  Minggu Palma: “Hosana Putera Daud…”

Bacaan: Luk 19:28-40, Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Luk. 22:14- 23:56 (Luk. 23:1-49).

oleh  RD. Fransiskus Emanuel da Santo,Pr;

Kita menyaksikan di Televisi atau di media sosial, bagaimana penampilan dua calon pemimpin bangsa ini, calonpresiden kita, ketika bertemu dan disambut oleh para pendukungnya. Ada yang mengelu-elukan, bersorak histeris, penuh semangat dan sukacita. Para calon presiden itu, ada yang dengan tenang, senyum simpatikdan menyapa para pendukungnya penuh semangat, dengan lambaian tangan bahkan menyapa dengan menjabat tangan orang-orang disekitarnya. Bahkan, kita juga menyaksikan, ada calon presiden yang begitu antusias sampai membuka baju dan melemparkan kepada para pendukung.

Hari ini ketika kita mengenang kembali Yesus masuk kota Yerusalem, ternyata orang-orang yang menyambutnya membentangkan pakaian mereka, melambaikan daun-daun palma disertai sorak sorai, menyambut sang Raja dalamsuatu pawai kebesaran. Pawai kebesaran ini bukan suatu kebetulan. Yesus memperlihatkan kepada semua orang, siapa Dia sebenarnya, sebelum Ia masuk dalam penderitaan dan kematian-Nya di salib.

Ia sang Raja damai bagi semua orang yang berkenan kepada Allah. Dia adalah penebus dan Juruselamat dunia.Ia disoraki “Hosana Putera Daud, terberkatilah yang datang atas nama Tuhan!” Dia yang telah berkeliling sambil berbuat baik, mewartakan kerajaan damai dan kasih, kerajaan pengampunan yang harus hidup dalam hati manusia kini masuk kota Yerusalem. Ia masuk menawarkan damai, sukacita dam hidup abadi bagi siapapun yang menerima-Nya dalam kerendahan hati.

Yesus menggunakan keledai pinjaman. Benar, bahwa dalam banyak peristiwa dalam hidup-Nya, Ia selalu menunjukkan betapa Allah menjadi manusia itu adalah yang tidak punya apa-apa dan termiskin, agar kita menjadi karena kemiskinan-Nya. Dari ketika Ia lahir Ia pinjam palungan tempat makan binatang untuk tempat Ia dibaringkan. Ketika Ia mengajar,  Yesus juga meminjam perahu orang. Ia juga pinjam roti dan ikan dari bekal seorang anak kecil untuk memberi makan orang banyak, bahkan ketika Ia mati, Ia pinjam kubur orang. Agar manusia memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. Yesus juga pinjam hati manusia. Kini Ia memasuki Yerusalem, dengan menggunakan keledai pinjaman.

Yesus tidak mencari kemegahan, Ia tidak mencari nama dan pujian, Ia juga tidak mencari muka dan popularitas diri, apalgi harus mengorbankan orang lain. Karena Yesus tau bahwa semuanya itu percuma, sia-sia, tidak ada arti, semu, tidak penting. Bagi Yesus adalah melaksanakan kehendak Bapa-Nya, taat dan setia. Itu berarti, kini Yesus memerlukan hati, diri, hidup dan keluarga kita untuk dipakai oleh-Nya untuk membawa damai, kasih dan pengampunan. Tuhan memerlukan kita. Tuhan memerlukan yang setia, taat, teguh, tidak takut, yang tidak lari dari Dia dan dari iman kepercayaan kita kepada-Nya, tetapi membuka dan membiarkan hati kita agar Ia boleh masuk dan tinggal, juga dalam sukacita kegembiraan tetapi juga dalam duka derita yang sedang kita alami.

Yesaya melukiskan dalam bacaan pertama, nubuat tentang “Hamba yang menderita” Kepasrahan kepada Allah dan cinta kepada manusia memberanikan Yesus untuk menghadapi jalan yang terpahit sekalipun; sebab Dia meyakini kepastian bahwa tugas perutusan-Nya tidak akan sia-sia. Pesan yang mau disampaikan bagi kita bahwa di zaman ini, kita mungkin sangat sulit menghargai sebuah pelaynanan. Ada banyak pelayanan yang tidak dihargai, tidak diterima dan ditolak. Tapi Yesus sang hamba yang setia dan menderita itu justru memilih jalan pelayanan yang tidak dpilih dan diminati banyak orang ialah menjadi hamba yang menderita.

Sementara itu, Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi mengutip sebuah madah yang biasa digunakan dalam ibadah untuk memuji keagungan Yesus Kristus dan pelayanan-Nya. Terungkap betapa besar pelayanan Yesus Kristus bagi manusia, dengan menyerahkan hidup-Nya sendiri.  Di sini Paulus mengajak, supaya kita memilki perasan hati seperti Kristus dengan hidup dalam kerendahan hati, cinta dan kerukunan antara satu sama lain. Penyerahan diri Yesus berkenan bagi Allah dan membuka suatu mutu kehidupan secra istimewa. Kematian Yesus merupakan sebuah titik balik bagi kehidupan. Dan Allah berkuasa atas kehidupan itu menerima kematian Yesus sebagai sebuah persembahan yang berkenan. Karena itu sebagai orang beriman diharapkan juga punya kerelaan dan keberanian untuk melayani Allah dan sesame, sebagai sebuah persembahan indah dan berkenan.

Kisah sengsara di awal pecan suci, mengajak kita untuk menyadari bahwa:

  • Yesus memerlukan teman berjaga. Apakah kita pun siap berjaga bersama Dia? Berjaga dalam menghadapi penderitaan, salib dan kematian. Berjaga dengan sungguh dan dengan sepenuh hati dan penuh iman sambil berusaha agar dijauhkan dari pencobaan, diluputkan dari yang jahat, dibebaskan dari segala ancaman yang membahayakan hidup iman.
  • Yesus membutuhkan orang yang diajak kerjasama. Apakah sebagai murid-Nya, kita siap bekerjasama dan membantu dalam berbagai tantangan dan kesulitan yang dihadapi Yesus dan sesama, atau lebih aman melarkan diri, cuci tangan, cari gampang dan masa bodoh.
  • Yesus membutuhkan suatu pengakuan yang jujur, benar dan berani tentang Dia; dan tidak mudah menyangkal-Nya. Bahwa dalam hidup ini, kita ternyata lebih mudah menyangkal janji-janji kesetiaan kita sebagai suami-istri, orangtua, anak-anak, dala tugas dan pelayanan kita bahkan sebagai orang beriman, kita mudah ingkari janji-janji baptis kita, karena kita tidak setia.
  • Ketika orang banyak menganggap dan menuduh Yesus sebagai penjahat, apakah kita dengan berani menunjukkan keunggulan-keunggulan Yesus dan berani memberi kesaksian tentang Yesus, atau ternyata kita berbalik menuduh, memfitnah, memutarbalikkan kebenaran, yang juga kita lakukan yang sama kepada sesama kita.
  • Ketika Yesus wafat di salib, para murid-Nya berdiri dari kejauhan bahkan lari meninggalkan-Nya. Apakah kita jaman ini berani mendekat, berani datang kepada-Nya, merasa senasib, sehati dan seperasaan dengan sang Juruselamat, atau justru kita menjadi penonton dari jauh, Cuma tau kritik dan persalahkan orang lain, Cuma berani omong di belakang, main sembunyi dan lari. Beranikah kita untuk menderita dengan rela demi Tuhan dan sesama.
  • Yesus menyatakan kesetiaan-Nya yang tuntas pada Salib sebagai sebuah resiko dari suatu perjuangan, dari suatu kesetiaan dan ketaatan, pengorbanan dan cinta yang total dan sempurna. Salib adalah jalan untuk mencapai keselamatan, kesempurnaan dan kebahagiaan. Karena itu, kita pun diajak untuk berjalan bersama Yesus, agar pada akhirnya kita pun dimuliakan bersama-Nya. Sebab yang bertahan sampai akhir, aan memperoleh mahkota kemuliaan yang abai.

Kita berdoa: Tuhan Yesus, berkatilah kami semoga kami setia dan bertahan bersama-Mu sampai akhir. Amin

 

*******

Fransiskus Emanuel da Santo,Pr; Imam asal Keuskupan Larantuka, dan sekarang sebagai Sekretaris Eksekutif Komkat KWI, Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *