Internet Dunia Baru Untuk Pewartaan (DR. M. Purwatma, Pr)

Singing nun Cristina Scuccia becomes internet star after The Voice audition”, demikian judul sebuah berita yang dilansir oleh sebuah situ internet The Guardian tanggal 21 Maret 2014[1]. Berita itu berbicara mengenai seorang suster, Sr. Cristina, yang tampil dalam Audisi The Voice of Italy tanggal 19 Maret 2014.  Penampilannya luar biasa, sungguh mengejutkan para juri, sehingga mereka secara anonim berpendapat bahwa Sr. Cristina pantas untuk maju ke babak selanjutnya. Menarik apa yang dikatakan Sr. Cristina, ketika ditanya bagaimana kira-kira pendapat Paus Fransiskus mengenai penampilannya itu. Ia mengatakan: “Saya tidak tahu. Saya sedang menunggu telepon dari Paus, karena beliau minta kami untuk pergi ke luar, untuk menjalankan evangelisasi, untuk mengatakan bahwa Allah tidak mengambil tetapi memberi”.The Guardian mencatat video itu sudah ditonton oleh lebih dari tiga juta penonton di You Tube. Dan kalau sekarang ini Sr. Cristina masih tampil di semifinal, pastilah lebih banyak orang menontonnya melalui dunia virtual.

Sr. Cristina merasa tampilnya di The Voice of Italy merupakan jawaban atas kata-kata Bapa Suci Fransiskus yang menganjurkan untuk pergi ke lorong-lorong kota dan mewartakan Injil. Dunia media khususnya dunia internet memberikan tantangan baru bagi Gereja dalam mewartakan Injil.Bagaimana arahan Gereja mengenai hal ini?Tulisan ini mencoba menelusuri Pesan-pesan Paus pada Hari komunikasi se dunia sejak tahun 2001 sampai sekarang.

1. Duc in altum

Dalam Pesan untuk Hari Komunikasi se dunia tahun 2001, dengan tegas Bapa Suci Yohanes Paulus II mengatakan: “saya dengan tegas memutuskan untuk mengundang seluruh Gereja untuk dengan berani melintasi ambang pintu yang baru ini, untuk mengayuh ke kedalaman Jaringan (Net) ini, sehingga sekarang sebagaimana dulu interaksi antara Injil dan budaya dapat memperlihatkan kepada dunia ’kemuliaan Allah di wajah Kristus’ (2 Kor 4:6)”[2]. Dengan jelas, Bapa Suci Yohanes Paulus II mengajak seluruh Gereja memasuki dunia virtual, dunia jejaring, agar dapat semakin berdialog dengan budaya dan mewartakan wajah Kristus kepada seluruh dunia. Sementara itu, Bapa Suci Fransiskus juga menegaskan: ”Janganlah segan-segan menjadi warga dunia digital. Sangatlan penting perhatian dan kehadiran Gereja dalam dunia komunikasi untuk berdialog dengan manusia masa kini untuk menganr dia berjumpa dengan Kristus”[3].

Ada beberapa alasan yang dikatakan dalam pesan-pesan tersebut. Internet dipahami sebagai “sebuah ‘forum’ sebagaimana dipahami dulu pada jaman Romawi kuno …  sebuah ruang yang terbuka untuk umum tempat percaturan politik, kegiatan bisnis, ritual keagamaan, tempat interaksi kehidupan sosial kota, dan juga panggung tempat dipertontonkan segi-segi yang paling baik maupun yang paling buruk dari kodrat manusia”[4]. Artinya sebuah tempat terbuka, tempat perjumpaan macam-macam hal, suatu forum yang terletak di daerah paling padat penduduk, sehingga menjadi tempat perjumpaan macam-macam hal, dari soal-soal politik, keagamaan, sampai soal-soal kehidupan privat semua dapat dijumpai di sana. Ini disebabkan oleh globalisasi yang membuat “tak ada satupun ruang lingkup dalam pengalaman hidup manusia yang lolos dari pengaruh media.Media telah menjadi bagian integral dalam hubungan antarpribadi dan perkembangan hidup sosial, ekonomi, politik dan religius”[5].Internet merupakan media baru yang menjadi tempat mengkomunikasikan macam-macam hal. Salah gejala yang sangat mencolok dalam dunia internet ialah adanya jejaring sosial, yang menjadi medan komunikasi dari banyak orang. Ruang baru yang terbuka ini terlebih-lebih ditandai dengan jejaring sosial yang “menciptakan ‘agora’ baru, suatu alun-alun publik tempat manusia berbagi gagasan, informasi dan pendapat, dan yang dalamnya  relasi-relasi dan bentuk-bentuk komunitas baru dapat terwujud”[6].

Masuk ke dalam dunia baru, perlulah mengenali apa yang menjadi ciri dunia baru itu. Salah satu ciri dunia baru yang dibangun lewat internet, baik melalui jejaring sosial maupun situs-situs lainnya adalah model komunikasi yang baru, yaitu model komunikasi yang terbuka, serba cepat, informasi mudah didapatkan. Bapa Suci Benedictus menegaskan demikian: “Dalam dunia digital, menyampaikan informasi kian dipahami dalam suatu  jejaring sosial dimana  pengetahuan terbagi dalam konteks pertukaran pribadi. Perbedaan yang jelas  antara penyedia informasi dan pengenyam informasi menjadi relatif; dan  komunikasi  tidak hanya nampak sebagai pertukaran data tetapi juga sebagai suatu bentuk berbagi”[7]. Melalui jejaring sosial, komunikasi bisa menjadi sangat sederajad, karena orang tidak lagi dibatasi oleh status sosial ataupun macam-macam kategori yang ada.Orang dapat secara leluasa mengekspresikan dirinya, entah melalui pemasangan foto selfi atapun tulisan-tulisan status yang dengan mudah diganti.

Bapa Suci Benedictus XVI menyatakan bahwa berkembangnya dunia digital tidak hanya mengubah cara komunikasi, tetapi juga cara berperilaku, khususnya kaum muda. Ditegaskan demikian: “Pergeseran itu secara istimewa  dialami oleh kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri.  Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan  peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa seringkali dirasakan cukup asing”[8]. Generasi muda adalah generasi yang paling kena pengaruh perkembangan dunia digital ini.Merekalah anak-anak zaman yang lahir dalam suasana perkembangan teknologi digital.Bapa Suci menegaskan, “Daya dasyat media baru ini telah digenggam oleh orang-orang muda dalam mengembangkan jalinan, komunikasi dan pengertian di antara individu maupun secara bersama. Mereka telah beralih ke media baru  sebagai sarana berkomunikasi dengan teman- teman, berjumpa dengan teman-teman baru, membangun paguyuban dan jejaringan, mencari informasi dan berita, serta sarana berbagi gagasan dan pendapat”[9]. Pendek kata, bagi orang muda dunia maya, jejaring sudah merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.

2. Media untuk Mewartakan

Perkembangan dunia digital terutama internet memberikan banyak peluang bagi kehidupan manusia.Bapa Suci Yohanes Paulus II langsung melihat internet sebagai sebuah sarana baru bagi pewartaan Injil, internet “menyediakan peluang-peluang yang bagus sekali untuk pewartaan Injil, asalkan dilandasi kompetensi dan kesadaran yang jelas akan kekuatan dan kelemahannya”[10]. Dan peluang itu pertama-tama adalah peluang untuk menyimpan dan menyediakan informasi berkaitan dengan hal-hal iman, bahkan dikatakan bahwa internet dapat menyediakan pendukung yang akan menghantar orang berjumpa dengan Kristus dalam jemaat. Dikatakan demikian: “Di Jejaring tersedia luas sumber-sumber informasi, dokumentasi, dan pengajaran tentang Gereja, tentang sejarah dan tradisinya, doktrin-doktrin dan keterlibatannya dalam segala bidang kehidupan di seluruh dunia. Dengan demikian, jelaslah bahwa kendati Internet tidak pernah akan bisa menggantikan pengalaman yang mendalam akan Tuhan, yang hanya bisa diberikan melalui penghayatan liturgis dan sakramental Gereja yang hidup, Internet pastilah bisa menyediakan pengganti dan pendukung yang unik dalam menyiapkan perjumpaan dengan Kristus dalam jemaat, dan dalam mendukung anggota beriman yang baru pada permulaan perjalanan imannya”[11]. Internet sebagai sumber informasi mengenai hal-hal iman tampak dalam munculnya website seperti katolisitas.org, yang dapat menjadi tempat orang belajar mengenai iman dan berinteraksi dengan sesama orang beriman.

Bapa Suci Benedictus XVI juga menekankan mendesaknya penggunaan model komunikasi baru ini dalam pewartaan Injil. Beliau berpendapat bahwa komunikasi digital, sebagai “suatu bidang pastoral yang peka dan penting, yang memberikan kemungkinan baru bagi para imam dalam menunaikan pelayanan kegembalaannya demi dan untuk Sabda” dan kemudian menantang para imam “untuk mewartakan Injil dengan menggunakan generasi teknologi audiovisual yang paling mutakhir (gambar, video, fitur animasi,blog dan website) berdampingan dengan media tradisional dapat membuka wawasan baru dan luas demi dialog evangelisasi dan katekese”[12]. Dan dengan demikian para imam dapat menjawab kebutuhan orang-orang muda yang hidup di dunia baru itu.

Bapa Suci Benedictus XVI juga menekankan pentingnya bersaksi melalui dunia maya: “Lantas, cara hadir yang khas kristiani di dunia digital adalah bentuk komunikasi yang jujur dan terbuka, bertanggungjawab dan hormat akan orang lain. Memaklumkan Injil melalaui media baru berarti tidak sekadar memasukkan isi religius secara terbuka ke dalam berbagai pentas media, tetapi menjadi saksi setia di dunia digital itu sendiri dan cara seseorang mengkomunikasikan pilihan-pilihan, apa yang utama, serta keputusan-keputusan yang sepenuhnya selaras dengan Injil bahkan ketika hal itu tidak  terungkap secara khusus”[13]. Komunikasi di dunia digital dapat dengan mudah menjadi komunikasi yang tidak jujur, mengingat orang dengan mudah tampil lain atau tidak menampilkan diri secara sepenuhnya. Maka salah satu bentuk kesaksian ialah menampilkan sikap jujur dalam komunikasi itu sendiri.Kesaksian kristiani dalam dunia digital dapat berupa keikutsertaan dalam situs-situs ataupun jejaring yang bertujuan untuk mengembangkan kemanusiaan demi tercapainya kesejahteraan umum. Inilah medan baru menunjukkan kesaksian hidup Kristen.

Secara khusus Bapa Suci Benedictus mengajak memerhatikan kesempatan evangelisasi melalui jejaring sosial. Dikatakan demikian: “Di dalam dunia digital terdapat jejaring-jejaring sosial yang memberikan peluang-peluang sezaman untuk berdoa, meditasi, dan berbagi firman Allah. Akan tetapi jejaring sosial itu dapat juga membuka pintu terhadap dimensi lain dari iman. Banyak orang benar-benar menemukan, tepatnya berkat kontak awalnya di internet, pentingnya pertemuan langsung, pengalaman komunitas-komunitas dan  bahkan peziarahan, unsur-unsur yang  senantiasa penting dalam perjalanan iman”[14]. Di sini, jejaring sosial dapat menjadi awal yang mengarahkan orang pada iman, yang tentu saja kemudian diperlukan perjumpaan langsung dengan jemaat dan menjadi bagian dari jemaat.

Dengan demikian, dunia internet memberikan banyak peluang untuk mewartakan Injil. Bapa Suci Benediktus menegaskan demikian: “Dengan demikian, Sabda Allah dapat berjalan melintasi berbagai persimpangan yang tercipta oleh simpang siurnya aneka ragam ‘jalan tol’ yang membentuk ‘ruang maya’ dan menunjukkan bahwa Allah memiliki tempat-Nya yang tepat pada setiap zaman, termasuk di zaman kita ini. Berkat media komunikasi baru, Tuhan dapat menapaki jalan-jalan perkotaan kita sambil berhenti di depan ambang rumah dan hati kita dan mengatakan lagi: Lihatlah, Aku berdiri de depan pintu dan mengetuk, Jika ada yang mendengar suaraku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke dalam rumahnya dan makan bersama dia dan dia bersama aku” (Why.3:20)”[15]. Ini adalah peluang, agar warta Injil masuk dan merasuki dunia virtual, dunia baru yang dihidupi oleh generasi anak-anak zaman sekarang. Secara lebih tegas Bapa Suci Fransiskus mengatakan bahwa dengan berjejaring, Gereja dapat menjadi rumah terbuka bagi semua orang: “Juga berkat jejaring, pesan kristiani bisa berjalan “sampai ke ujung bumi” (Kis1:8). Membuka pintu-pintu gereja, berarti membukanya juga untuk masuk ke dalam dunia digital, agar orang dapat masuk apapun kondisi hidupnya, agar Injil dapat keluar dari tempat ibadat untuk berjumpa dengan semua orang. Kita terpanggil untuk memperkenalkan Gereja sebagai rumah semua orang.Apakah kita mampu menampilkan Gereja yang wajahnya seperti ini?Komunikasi turut memberi bentuk kepada panggilan missioner seluruh Gereja, dan jejaring sosial adalah salah satu tempat dimana panggilan itu diwujudkan agar menusia mengalami keindahan iman dan keindahan perjumpaan dengan Kristus.Dalam dunia komunikasipun dibutuhkan suatu Gereja yang mampu menghangatkan dan mengobarkan hati manusia”[16].

3. Menginjili Dunia Virtual

Paus Yohanes Paulus II melalui ensiklik Redemptoris Missio melihat dunia komunikasi baru sebagai areopagus zaman sekarang yang juga memerlukan penginjilan: “Areopagus pertama dari zaman modern adalah dunia komunikasi, yang memupuk kesatuan umat manusia dengan membuatnya laksana “dusun yang besar”… Keterlibatan dalam media, kendati demikian, tidak melulu bertujuan untuk memperkokoh pewartaan Injil.  Ada suatu realitas yang jauh lebih dalam di sini: Oleh karena evangelisasi budaya modern itu sendiri dalam kadar yang amat besar tergantung dari pengaruh media, tidak cukuplah untuk memanfaatkan media guna menyebarkan warta kristiani dan ajaran-ajaran otentik Gereja. Diperlukan pula integrasi antara warta tersebut dengan ‘budaya baru’ yang tercipta dari komunikasi modern. Ini merupakan perkara yang amat kompleks oleh karena ‘budaya baru’ itu muncul tidak hanya dari isi yang disampaikan, tetapi lebih dari fakta adanya cara-cara baru berkomunikasi, dengan bahasa-bahasa yang baru, teknik-teknik yang baru dan psikologi yang baru pula[17].” Oleh karena itu diperlukan evangelisasi bagi dunia baru itu serta pengintegrasian pesan Kristiani dalam dunia baru.

Dunia internet selalu merupakan dunia yang berwajah ganda.Banyak unsur positif yang berguna dalam pengembangan hidup bersama, entah dalam membangun solidaritas dan kesetiakawanan, serta persahabatan antar manusia.Namun pola komunikasi dunia internet “berubah menjadi sistem yang bertujuan mendorong manusia untuk menyerah kepada agenda yang didikte oleh kepentingan-kepentingan digdaya masa sekarang … kalau komunikasi digunakan untuk maksud-maksud idiologis atau demi reklame agresif produk-produk konsumen”[18].Komunikasi justru menentukan kenyataan, membangun peristiwa. Bapa Suci Benedictus XVI menegaskan: “Pada masa sekarang, kian hari, komunikasi nampaknya tidak sekadar menghadirkan kenyataan tetapi justru menentukan kenyataan, memperlihatkan kekuatan dan daya mempengaruhi yang dimilikinya. Sudah menjadi nyata, misalkan, bahwa dalam situasi-situasi tertentu media tidak dipakai untuk maksud-maksud yang tepat untuk menyebarkan informasi, tetapi justru untuk ’menciptakan’ peristiwa”[19].Maka, menginjili dunia komunikasi baru berarti menampilkan komunikasi yang otentik, yang membela pribadi dan martabat manusia secara utuh, dan bukan memanipulasi kenyataan. Maka, menginjili dunia internet berarti membawa jejaring ini menjadi sarana memajukan kesetiakawanan manusia, membangun persaudaraan dan persahabatan antar manusia: “Dalam konteks ini,  sungguh membanggakan bila jejaringan digital baru beriktiar memajukan kesetiakawanan umat manusia, damai dan keadilan, hak asasi manusia dan penghargaan terhadap hidup manusia serta kebaikan ciptaan. Jejaringan ini dapat mempermudah  bentuk-bentuk kerjasama antar manusia dari  konteks geografis dan budaya yang berbeda serta membuat mereka mampu memperdalam rasa sepenanggungan demi kebaikan untuk semua. Karena itu, secara tegas kita harus menjamin bahwa dunia digital, dimana jejaringan serupa itu dapat dibangun, adalah dunia yang sungguh terbuka untuk semua orang”[20].

Agar dapat menjadikan komunikasi virtual sebagai suatu proses untuk mengembangkan pribadi manusia, perlulah berdialog dengan realitas virtual itu sendiri, perlulah mempelajari bahasa virtual sendiri. Dalam hal ini, diperlukan keberanian untuk mengenali dunia baru itu sendiri.Sejak awal hidupnya, keberhasilan evangelisasi ditentukan oleh kemampuan untuk mempelajari bahasa dan budaya baru dan mengintegrasikan pesan Kristiani ke dalamnya. Bapa Suci Benediktus XVI menuliskan demikian: “Pada awal kehidupan gereja, para rasul  bersama murid-muridnya  mewartakan  kabar gembira tentang Yesus kepada dunia  orang Yunani dan Romawi. Sudah sejak masa itu,  keberhasilan karya evangelisasi menuntut  perhatian yang seksama dalam memahami kebudayaan dan kebiasaan bangsa-bangsa kafir  sehingga kebenaran Injil  dapat menjamah hati dan pikiran mereka. Demikian juga pada masa kini,  karya pewartaan Kristus  dalam dunia teknologi baru menuntut suatu pengetahuan yang mendalam tentang dunia jika teknologi itu dipergunakan untuk melayani perutusan kita secara berdayaguna”[21]. Dialog dengan budaya baru merupakan proses yang tidak dapat dielakkan kalau Injil mau diwartakan ke seluruh dunia.

Akhir kata

Mengakhiri uraian ini, baiklah kita dengarkan apa yang disampaikan Bapa Suci Fransiskus dalam akhir pesannya untuk Hari Komunikasi se dunia 2014: “Janganlah segan-segan menjadi warga dunia digital. Sangatlan penting perhatian dan kehadiran Gereja dalam dunia komunikasi untuk berdialog dengan manusia masa kini untuk menganr dia berjumpa dengan Kristus. Gereja yang mendekati dan yang menyertai manusia dalam perjalanan hidup, ia reka berjalan bersama dengan semua orang tanpa kecuali. Dalam konteks ini, revolusi media komunikasi dan informasi merupakan tantangan besar yang mengasyikan, yang meminta energy segar dan imajinasi baru untuk mengkomunikasikan keindahan Allah kepada manusia”[22]. Ini merupakan tantangan riil bagi kita yang bekerja di bidang pendidikan katekese.

***********

Catatan tentang Penulis:

M. Purwatma, Pr 

Adalah Doktor Teologi dari Pontificia Universitas Urbaniana, Roma 1990, dosen pada Fakultas Teologi, USD Yogyakarta.

Tulisan sudah pernah disampaikan pada pertemuan dosen kateketik yang diselenggarakan oleh Komkat KWI  Mei 2014

Catatan Kaki:

[1]http://www.theguardian.com/tv-and-radio/2014/mar/21/singing-nun-cristina-scuccia-star-the-voice-italy-audition; diunduh 27 Mei 2014

[2] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2001

[3] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2014

[4] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2002

[5] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2008

[6] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2013

[7] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2011

[8] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2009

[9] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2009

[10] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2002

[11] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2002

[12] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2010

[13] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2011

[14] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2013

[15] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2010

[16]  Pesan Hari Komunikasi se dunia 2014

[17]Redemptoris Missio, no. 37.

[18] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2008

[19] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2008

[20] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2009

[21] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2009

[22] Pesan Hari Komunikasi se dunia 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *