Bacaan: Kej 15:15-12, 17-18; Flp. 3:17-4:1; Luk 9: 28b -36
oleh Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr
Kisah Injil di minggu ke dua prapaskah iniadalah Yesus yang berubah rupa dalam kemuliaan di atas gunung. Yang sangat istimewa pada penginjil Lukas ialah bahwa seluruh kisah ini diletakkan dalam situasi “doa”. “Yesus naik ke bukit untuk berdoa. Sedang Ia berdoa…”Luk 9:28-29). Maka pergantian wajah Yesus itu merupakan jawaban dari doa-Nya. Dalam doa Yesus mempersatukan diri dengan seluruh rencana Bapa. Bagaimana Bapa menyatakan Putera-Nya kepada manusia, dan Putera itu seharusnya diterima oleh manusia.
Seluruh kisah peristiwa kemuliaan di atas gunung itu jelas menujukkan kemuliaan kebangkitan Kristus, dan para rasul mampu melihat peristiwa yang mereka alami secara menakjubkan itu baru sesudah kebangkitan. Dalam terang kebangkitan Kristus kenangan peristiwa itu menjadi berarti. Kemuliaan itu dialami setelah penderitaan dan salib. Tiada kebahagiaan dan kemuliaan tanpa penderitaan, salib dan kematian.
Hadirnya Musa dan Elia, dua tokoh besar Perjanjian Lama, menegaskan bahwa sengsara dan wafat Yesus memang merupakan “karya pemenuhan janji mesianiah”. Memang Yesus harus mengalami semuanya itu. Sebagaimana menurut pandangan orang Yahudi semasa Yesus, bahwa hadirnya Elia dalam peristiwa itu merupakan “pratanda” akan hadirnya Mesias. Dan Yesus sendiri sudah menegaskan bahwa Mesias itu harus menderita, disalibkan, dibunuh, mati, namun bangkit jaya pada hari ketiga.
Pesan bagi kita, adalah bahwa penderitaan, kesedihan bahkan kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kesetiaan kita pada rencana dan kehendak Tuhan justru menjadi jaminan. Dalam Dia ada harapan, ada kepastian, ada kebahagian dan kemuliaan.Sering manusia berusaha mengelak, menolak, menghindar bahkan lari dari kesulitan, dari penderitaan yang menimpa. Tidak jarang pula, manusia/kita mempersalahkan Tuhan sebagai tidak adil ketika kita harus memikul beban-beban penderitaan, kesulitan dan berbagai macam tekanan dan tantangan. Doa yang harus menjadi kekuatan terkadang kita merasa tidak mampu lagi, kita meragukan kebaikan-Nya danmerasa Tuhan sudah tidak mendengarkan, Tuhan bahkan dianggap sudah mati, dan kita hilang harapan, hilang kepercayaan. Banyak orang berkeyakinan kalau mereka dekat dengan Tuhan dan percaya pada-Nya, hidupnya di dunia ini akan menjadi lebih mudah. Mereka yakin bahwa Allah akan memenuhi apa yang diinginkannya, asalkan diimani. Namun, situasi di dunia ini seringkali tidak seperti yang diinginkan oleh setiap manusia, termasuk yang beriman. Situasi menjadi lebih sulit ketika seorang yang merasa diri beriman yakin bahwa ia sudah melakukan kehendak Tuhan, tetapi kenyataan yang dialaminya tidak berlangsng sebagaimana yang diharapkannya.Apakah benar demikian? Perlu diingat bahwa iman seseorang terbukti ketika ia harus mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan atau keinginannya. Orang yang sungguh beriman tetap menaruh kepercayaannya pada Tuhan sekalipun harapan dan keinginannya tidak terpenuhi.Yesus melalui penderitaan, sengsara dan salib hingga kematian mengajak kita bahwa bila kita tetap setia dan percaya pada rencana dan kehendak Bapa, maka kemuliaan dan kebahagiaan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Yang setia dalam penderitaan bersama-Nya akan mendapatkan kemuliaan seperti yang dialami Yesus itu.Tuhan memberkati!**

