Sifat, objek dan Tugas Katekese (1)

catecheticalkkarchdiocese.blogspot.com_.jpg

Katekese: Kegiatan yang Bersifat Eklesial

Pada dasarnya, katekese merupakan suatu tindakan eklesial. Subjek katekese yang benar adalah Gereja, yang dalam melanjutkan misi Yesus Sang Guru, dan yang dijiwai oleh Roh Kudus, diutus untuk menjadi guru iman. Gereja mengikuti Bunda Allah dalam menyimpan harta Injil dalam hatinya. Dia mewartakannya, menghayatinya, dan meneruskannya dalam katekese bagi mereka semua yang telah mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus Kristus. Penerusan Kabar Gembira ini merupakan suatu tindakan hidup dari tradisi Gereja:

– Gereja meneruskan iman yang dihayatinya sendiri: pengertiannya tentang mimsteri Allah dan rencana keselamatan, pandangannya tentang panggilan tertinggi manusia, gaya hidup injili yang menyampaikan kegembiraan Kerajaan Allah, pengharapan yang menyelimutinya dan cinta yang dimilikinya bagi umat manusia dan makhluk ciptaan Allah.
– Gereja meneruskan iman dengan cara yang aktif: Gereja menaburkan iman di dalam hati para katekumen dan mereka yang menerima katekese memelihara pengalaman hidup mereka yang paling dalam. Pengakuan iman yang diterima oleh Gereja (traditio), yang lahir dan tumbuh selama proses kateketik, diberikan kembali , diperkaya oleh nilai-nilai dari kultur yang berbeda-beda. Oleh karena itu, katekumenat diubah menjadi suatu pusat pendalaman katolisitas dan ragi bagi pembaruan Gereja.

Dalam meneruskan iman dan hidup baru, Gereja bertindak sebagai seorang Ibu bagi umat manusia yang melahirkan anak-anak yang dikandung oleh kekuatan Roh Kudus dan lahir dari Allah. Justru “karena Gereja adalah Ibu, dia jugalah pendidik iman kita.” Pada waktu yang sama, Gereja sekaligus ibu dan guru. Melalui katekese, dia memberi makan anak-anaknya dengan imannya sendiri, dan memasukkan mereka ke dalam keanggotaan keluarga Gereja. Sebagai seorang ibu yang baik, dia memberikan mereka Injil dalam segala keaslian dan kemurniannya, sebagai makanan yang tepat, yang diperkaya secara kultural dan menjadi tanggapan atas cita-cita hati manusia yang paling dalam.

Objek katekese: Persatuan dengan Yesus Kristus

Tujuan definitif katekese bukanlah hanya membuat orang saling berkontak, melainkan juga dalam kesatuan dan kemeseraan, dengan Yesus Kristus. Segala kegiatan mewartakan Kabar Gembira dimengerti sebagai memajukan kesatuan dengan Yesus Kristus. Mulai dengan pertobatan “awal” seseorang kepada Tuhan, yang digerakkan oleh Roh Kudus melalui pewartaan Injil yang pertama, katekese berusaha mengukuhkan dan mematangkan kesetiaan pertama ini. Katekese mau membantu orang-orang yang baru bertobat “untuk mengenal Yesus dengan lebih baik, yang kepada-Nya dia menyerahkan diri: untuk mengenal misteri-Nya, Kerajaan Allah yang diwartakan-Nya, tuntutan-tuntutan dan komentar-komentar yang ada dalam Injil, dan jalan yang telah diletakkan-Nya bagi setiap orang yang mau mengikuti-Nya. Permandian, sakramen, tempat “kita diserupakan dengan Kristus”, menopang karya katekese ini dengan bantuan rahmat.

Persatuan dengan Yesus Kristus, dari dinamikanya sendiri, membawa murid-murid menyatukan diri dengan segala sesuatu yang mempersatukan Yesus Kristus sendiri secara mendalam: dengan Allah Bapa-Nya, yang mengutus-Nya ke dunia, dan dengan Roh Kudus, yang mendorong perutusan-Nya dengan Gereja. Tubuh-Nya yang menerima pemberian diri Kristus, dengan umat manusia dan dengan saudara-saudara-Nya, yang nasibnya ingin dirasakan-Nya juga.

Objek Katekese Diungkapkan dalam Pengakuan Iman akan Satu Allah: Bapa, Putera, dan Roh Kudus

Katekese adalah bentuk khusus pelayanan sabda yang mematangkan pertobatan awal untuk menjadikannya suatu pengakuan iman yang nyata, hidup, dan berbuah: “katekese memiliki asalnya dalam pengakuan iman dan membawa kepada pengakuan iman.

Pengakuan iman yang melekat pada permandian sungguh-sungguh bersifat Tritunggal. Gereja mempermandikan “dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” Allah Tritunggal yang kepada-Nya orang-orang Kristen menyerahkan hiudpnya. Katekese awal, baik sebelum dan sesudah permandian, mempersiapkan tindakan yang menentukan ini. Katekese lanjut membantu untuk mematangkan pengakuan iman ini, untuk memaklumkannya dalam Ekaristi dan untuk membarui komitmen yang tercakup di dalamnya. Pentinglah bahwa katekese menyatukan pengakuan iman akan Kristus, “Yesuslah Tuhan”, dengan pengakuan akan Tritunggal, “aku percaya akan Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus”, sedemikian rupa sehingga tidak ada dua cara berbeda untuk mengungkapkan iman. Dia yang berbalik kepada Yesus Kristus dan mengakui-Nya sebagai Tuhan melalui pemakluman Injil, memulai suatu proses, yang dengan bantuan katekese, membawa orang kepada pangakuan yang nyata akan Tritunggal.

Dalam pengakuan iman akan satu Allah, Orang Kristen menolak setiap pelayanan dari kemutlakan manusia: “kekuasaan, kenikmatan, ras, keturunan leluhur, status, kekayaan …. , dan oleh karena itu dibebaskan dari perbudakan manapun. Hal itu merupakan pemakluman akan kehendak-Nya untuk mengabdi Allah dan manusia tanpa ikatan apa pun. Dalam memaklumkan iman akan Tritunggal, yang adalah persatuan Pribadi-Pribadi, murid Yesus Kristus memperlihatkan serentak, bahwa cinta akan Allah dan sesama merupakan prinsip yang menyatakan keberadaan dan tindakan-Nya.

Pengakuan iman tersebut lengkap bila menunjuk pada Gereja. Secara individual, orang yang dipermandikan memaklumkan Credo, karena tidak ada tindakan apa pun yang lebih pribadi daripada ini. Akan tetapi, mereka menucapkannya di dalam Gereja dan melalui Gereja, karena mereka melakukannya sebagai anggota-anggota Gereja. “Aku percaya” dan “kami percaya” harus saling mencakup. Dengan memadukan pengakuan imannya dengan pengakuan iman Gereja, orang Kristen digabungkan dalam misi Gereja: menjadi “sakramen keselamatan universal” bagi hidup dunia. Dia yang mengakui iman memikul tanggung jawab yang sering kali menimbulkan penganiayaan. Dalam sejarah Kristen para martir adalah pewarta dan saksi-saksi iman par exellence. (Ignas Lede)

Disadur dari Conggregation For The Clergy, Buku Petunjuk Umum Katekese, diterjemahkan dari General directory for Catechesis oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Jakarta.
Gambar:http://indonesia.ucanews.com/wp-content/uploads/2011/11/catecheticalkkarchdiocese.blogspot.com_.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *