Komisi Kateketik Keuskupan Weetebula menyelenggarakan workshop Kurikulum 2013, mapel Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti . Kegiatan yang berlangsung di Pusat Pastoral Katikuloku Sumba Tengah ini melibatkan para kepala bidang pendidikan Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur. Kegiatan workshop yang berlangsung dari tanggal 26 s.d. 29 April ini dibuka dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh bapak Uskup Weetebula, Mgr Edmund Woga CSsR didampingi imam-imam co-selebrant, P. Simon Tenda, CSsR (Direktur Puspas), P. Leo Sugiyono, MSC (sekretaris Komkat KWI), serta dua imam lainnya dari Puspas Keuskupan Weetebula.
Sr. M. Xaverine, PRR, Ketua Komkat Keuskupan Weetebula dalam sambutannya pada acara pembukaan yang juga dihadiri pemerintah daerah setempat yang diwakili asisten satu bupati Sumba Tengah menjelaskan bahwa kegiatan ini terasa sangat penting bagi para guru Pendidikan Agama Katolik di seluruh daratan Sumba yang merupakan wilayah teritorial keuskupan Weetebula. Karena itu semua unsur yang berkepentingan dalam pendidikan diajak bekerja sama mempersiapkan SDM (guru) sesuai tuntutan perubahan kurikulum 2013. Para pengawas pendidikan sedaratan Sumba yang terdiri dari empat kabupaten, para kepala bidang pendidikan Bimas katolik empat Kabupaten dilibatkan dalam kepanitiaan. Melalui para birokrat pemerintahan inilah maka para guru diundang dan yang hadir sebanyak 150 orang terdiri dari guru SD, SMP dan SMA/SMK. Sr. M. Xaverine, PRR dalam kesempatan yang sama ini meminta perhatian pemerintah kabupaten, khususnya kabupaten Sumba Tengah untuk mengangkat guru-guru Pendidikan Agama Katolik, karena di wilayah kabupaten ini hanya terdapat 19 guru, sementara murid-murid yang beragama katolik cukup banyak di sekolah-sekolah. Asisten satu bupati menanggapi dalam kata sambutannya bahwa ia akan menyampaikan permintaan Ketua Komkat K.Weetebula itu pada Bupati Sumba Tengah untuk diperhatikan pada waktu-waktu mendatang.
Uskup Weetebula, Mgr Edmund Woga CSsR dalam sambutannya menggaraisbawahi tugas dan peranan katekis (guru pendidikan agama Katolik) sebagai terang dan garam di tengah masyarakat, khususnya bagi anak-anak yang mereka didik. Iman tanpa perbuatan adalah mati, demikian juga gura agama hendaknya memberikan teladan hidup yang baik dalam hidupnya. Apa yang diajarkan bapak-ibu guru hendaknya dipraktikan dalam hidup sehari-hari di kelas, di sekolah dan di lingkungan masyarakat dan dimanapun anda berada. Sementara P. Leo Sugiyono, MSC dalam sambutannya mengatakan bahwa atas nama Ketua Komkat KWI, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, Komkat KWI berterima kasih kepada bapak – ibu para katekis yang telah berkarya mewartakan Kristus kepada semua anak didik. Di tangan bapa—ibu para katekis, generasi muda Katolik dipersiapkan secara iman dan moral untuk perjalanan hidup mereka selanjutnya yang penuh dengan tantangan.
Workshop Kurikulum 2013 ini dipandu oleh P. Leosugiyono, MSC dan Bp. Daniel Boli Kotan dari Komkat KWI Jakarta. Materi workshop berupa panorama pembaruan (revisi) Kurikulum 2013, filosofi Kurikulum 2013, desain kurikulum, penilaian hasil belajar, rancangan rencana pembelajaran (RPP). Selain teori, peserta pelatihan dilatih membuat penilaian dan RPP. Puncak kegiatan workshop ini adalah praktik mengajar dalam bentuk micro teaching yang dibawakan oleh salah seorang guru dengan hasil yang sangat baik berdasarkan evaluasi dari para pengawas dan kedua narasumber. (DBK).

