Hak Kaisar dan Hak Allah

pajak-kepada-kaisar.jpg

Renungan Hari Minggu Biasa XXIX
Bacaan I :Yes 45:1.4-6
Bacaan II :Tes 1:1-5.
Injil : Mat 22:15-21)

Negeri kita sering dilanda kerusuhan bernuansa isyu agama. Tentu kita masih ingat kerusuhan yang pernah terjadi di Poso, Ambon, serta beberapa tempat di pulau Jawa dan sebagainya. Kerusuhan dengan isyu agama sering bisa berlangsung sangat keji dan lama. Kerusuhan seperti yang terjadi di Ambon telah menjelma menjadi perang antar agama. Korban sudah berjatuhan hampir setiap saat. Orang-orang kristen dengan pita merah di kepala bertuliskan laskar Kristus, maju membakar rumah-rumah dan membunuh sesama saudara yang beragama Islam sambil menyerukan nama Kristus. Bahkan di Maluku Selatan orang-orang katolik yang diprovokasi untuk berperang, menghadap pastor untuk meminta berkat bagi alat-alat perang mereka.

Sebaliknya orang-orang Islam dengan pita kepala berwarna putih bertuliskan Allahu Akhbar membakar gedung-gedung gereja dan membantai sesama saudaranya yang beragama kristen sambil meneriakkan seruan Allahu Akhbar!! Nama Kristus dan nama Allah telah disapa dan dipanggil untuk melegitimasi dan membenarkan pelbagai tindakan yang keji itu. Memang akan menjadi sangat berbahaya kalau orang memperalat Tuhan dan agama untuk kepentingan golongan, untuk merebut kepentingan politik dan ekonomi. Betapa Tuhan dan agama sudah sedemikian direndahkan. Agama sudah dicampur-adukkan terlalu jauh dengan urusan politik.

***

Dalam Injil hari ini kita mendengar bagaimana Yesus menasihatkan kepada kita, supaya kita tidak mencampuradukan antara agama dan politik, walaupun kita harus senantiasa berpolitik sebagai seorang yang beragama, yang bermoral. Injil Matheus mengisahkan tentang bagaimana orang-orang Farisi mau mencampuradukan soal agama dan soal politik. Mereka bertanya kepada Yesus: “Guru, bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak!” Itu pertanyaan politik. Kalau Yesus melayani pertanyaan dengan jawaban yang bernada politik, misalnya: harus membayar pajak kepada kaisar, maka Yesus akan berbentrokan secara politis dengan kaum nasionalis bangsa-Nya, yaitu kaum Zelot dari Galilea. Tetapi kalau Yesus menjawab: tidak perlu bayar pajak kepada kaisar, maka oleh penjajah Romawi Ia akan diawasi sebagai politikus, bahkan provokator. Maka Yesus tidak mau menjawab pertanyaan politis itu dengan jawaban politis. Yesus bukan seorang politikus, Ia adalah seorang agamawan, Ia seorang Nabi. Maka Ia memberi jawaban yang bersifat agama. Ia meminta kepada orang-orang Farisi itu untuk menunjukkan mata uang, sarana untuk pembayaran pajak itu. Selanjutnya Injil menceriterakan bahwa orang-orang membawa uang dinar kepada Yesus. Lalu Yesus bertanya: “Gambar dan tulisan siapa yang ada pada uang dinar itu”. Mereka menjawab: “Gambar dan tulisan kaisar”. Lalu Yesus berkata kepada para Farisi itu: “Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”.

Itu jawaban agama, bukan politik. Dengan kata lain Yesus mau mengatakan: Jangan campur-adukkan antara politik dan agama. Atau tepatnya jangan jadikan agama untuk kepentingan politik dan kekuasaan, tetapi orang harus berpolitik dengan moral agama. Makanya seorang beragama harus taat kepada pemerintah yang syah. Jawaban itu sama sekali tidak berbau politik, yang bisa menimbulkan efek politik!!.

***

Di negeri kita saat ini agama dan politik dicampur-adukkan sekenanya. Saat ini dengan gampang dapat disulut sentimen agama, fanatisme agama. Agama dijadikan sarana politik. Sarana perebutan kekuasaan. Kita sudah mengalami dan merasakan akibatnya. Dalam peristiwa Ketapang, peristiwa Kupang, dan Ambon, sedikit banyaknya agama telah disalahgunakan untuk kepentingan politik. Banyak sarana untuk kepentingan umum dan banyak nyawa manusia telah disia-siakan dengan mengatasnamakan agama.

Betapa ironisnya, sebab kita sebenarnya menyakini bahwa semua agama seharusnya membawa keselamatan bagi umat manusia, bukan perpecahan dan bencana. Sebagai umat kristiani, dalam hubungannya dengan warta Injil hari ini, sebaiknya kita menyakini dua hal ini:

Pertama: sebaiknya kita tidak mencampuradukan antara agama dan politik. Atau tepatnya jangan kita menggunakan agama untuk kepentingan politik. Untuk kita umat kebanyakan lebih baik menyakini diri supaya mengelakkan sentimen atau fanatisme agama untuk kepentingan apapun. Fanatisme agama bisa membawa kemacetan dan bencana.
Kita adalah umat katolik. Katolik artinya umum, terbuka. Sikap sektarian, mengkotak-kotakkan, dan tertutup tidak sesuai dengan sifat kita yang katolik!! Sebagai golongan minoritas kita hendaknya menjauhkan sikap fanatik, sebab sangat tidak katolik dan merugikan.

Kedua: walaupun kita tidak boleh menggunakan agama untuk kepentingan politik, namun kita harus tetap berpolitik yang beragama. Agama dan iman kita harus menjadi sumber etika bagi kita untuk berpolitik. Kita hendaknya berpolitik yang bermoral. Kita tidak bisa berpolitik tanpa moral agama. Agama meningkatkan mutu politik kita. Berpolitik tanpa agama bisa mencelakakan. Seperti Kristus, Gereja pun tidak perlu menentukan bidang kehidupan yang menjadi haknya kerajaan-kerajaan duniawi. Bidangnya sudah ditetapkan: Menjadikan umat manusia berdamai dengan Allah dan sesama. Gereja harus menjauhkan diri dari setiap usaha pencampuradukan persoalan di dunia, yang bisa menyulitkan dan menghilangkan tugas perutusannya.

Dan kita sebagai warga Gereja, harus bisa membedakannya sungguh-sungguh, walaupun sulit dipahami bahwa sebagai orang kristen kita dapat hidup dengan tidak menghiraukan kenyataan dunia politik. Tetapi yang jelas, kita tidak boleh mempergunakan dalil agama untuk kepentingan politik kita. Ini sudah ditolak oleh Kristus.

Sumber: Buku Homili Tahun A – Komisi Kateketik KWI, oleh Rm. Yosef Lalu, Pr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *