Kisah Seorang katekis di Singapura

katekis singapura.jpg

Berkat upaya seorang katekis veteran, 11 orang yang sebagian besar adalah lansia, menerima Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi dan Sakramen Krisma pada 10 Agustus di Gereja Keluarga Kudus, Singapura.
Pelayanan Andrew Goh, katekis senior berusia 77 tahun itu adalah unik karena ia memberikan pelajaran agama sesuai bahasa para lansia sejak tahun 1993.
Tahun ini, ia telah membantu 60 lansia menerima Sakramen Baptis, katanya.

Pastor Damian De Wind memimpin upacara pemberian sakramen-sakramen tersebut, yang dihadiri sekitar 60 anggota keluarga dan teman-teman mereka.
“Saya sangat senang!” kata Maria Chan berusia 73 tahun setelah ia menerima sakramen inisiasi tersebut.

Yusuf, saudara Chan, mengatakan bahwa ia berterima kasih kepada Goh karena ia telah membantu adiknya menjadi Katolik.
“Terima kasih kepada Andrew, saudariku akhirnya dibaptis,” katanya.

Orang Katolik lain yang baru menerima sakramen itu, Derrick Wong, 65, juga memuji Goh atas karyanya, seraya menambahkan bahwa Goh telah memberi dia perikop-perikop Kitab Suci untuk belajar.
Goh menggunakan berbagai alat bantu visual untuk berbagi Kabar Baik dengan para lansia tersebut. Alat-alat itu termasuk gambar-gambar berwarna, biji sesawi, garam, roti, anggur, tali dan salib.
Goh mengatakan bahwa ia telah mengajar lebih dari 1.200 lansia dan mempersiapkan mereka untuk pembaptisan.

Dengan menggunakan sepeda motornya, ia memberikan pelajaran di rumah-rumah, kedai kopi dan kelas mingguan di Gereja Novena dan Gereja Keluarga Kudus.
Pelajaran, yang diberikan di dua gereja itu dilakukan dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa mereka. Sekitar 40 orang yang hadir setiap sesi, namun jumlahnya terus bertambah, katanya.

Orang-orang mendengar kelas katekese Goh melalui mulut ke mulut.
“Bahkan mereka yang dibaptis masih datang kembali untuk mengikuti pelajaran saya,” kata Goh.

Dia tidak mengalami tantangan karena “saya sangat mengasihi Tuhan sehingga dia membantu saya.”
Namun, tidak seorang pun yang bisa mengambil alih pelayanan ini khusus dari Goh setelah ia “pensiun”.
“Anda harus memiliki panggilan, jika tidak maka tidak ada gunanya. Saya berharap orang-orang yang ingin menjadi katekis bisa datang untuk belajar. Saya juga bisa mengajar bahasa mereka. Ini sangat sederhana,” kata Goh.

Sumber: UCA News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *