Hari Minggu Prapaskah IV: Iman dan Tantangan (Bersama Rm. Yosef Lalu, Pr)

blind-man.jpg

Hari Minggu Prapaskah IV

Bacaan I : 1 Sam 16:16.6-7
Bacaan II : Ef 5:8-14

Bacaan Injil: Yoh 9:1-41

IMAN DAN TANTANGAN

Diceriterakan bahwa ada seorang anak Indian yang bernama Bison Kecil, yang rajin sekali datang ke gereja untuk mendengar pelajaran agama Katolik dan ingin sekali untuk menjadi katolik. Pastor yang memberinya pelajaran agama Katolik sangat senang dengan Bison Kecil, karena ia selalu mendengar pelajaran dengan penuh perhatian. Pada suatu hari, karena ia menjawab semua pertanyaan agama dari pastor dengan sangat tepat, pastor menepuk-nepuk bahunya karena sangat gembiranya. Tetapi Bison Kecil berteriak dan meringis menahan rasa sakit. Ketika Pastor menyingkap bajunya, kelihatan pundak dan belakang Bison Kecil penuh luka. Pastor sangat terkejut dan bertanya:

Mengapa pundak dan belakang luka-luka?”

Dipukul oleh bapa”

Mengapa bapa memukulmu?”

Setiap kali saya datang untuk mendengar pelajaran agama, pasti bapa memukul saya. Ia tidak mau saya menjadi katolik”.

Mengapa engkau hanya diam dan menahannya?”

Bukankah pastor mengatakan bahwa Yesus rela menderita dan mati untuk kita. Mengapa saya tidak boleh menderita sedikit untuk Dia”.

Memang mengimani dan mengikuti Kristus sering ada resikonya. Namun bukan semua orang bisa terima resiko itu.

Mungkin ada banyak orang yang kalau mendapat tantangan dan kesulitan dalam mengimani Kristus, mereka mengambil langkah surut atau agak berkelit, tidak berani dan jelas-jelas menunjukkan imannya.

***

Dalam Injil hari Minggu ini kita mendengar bagaimana si buta bertahap-tahap mulai mengenal dan mengimani Yesus melalui banyak halangan dan tantangan.

Mula-mula orang buta itu tidak tahu siapakah sebenarnya Yesus itu. Sesudah Yesus menyembuhkan matanya yang buta, ia lantas bisa melihat dengan mata jasmaninya, tetapi kemudian ia bisa melihat dengan mata hati, akhirnya ia bisa melihat Tuhan dengan mata iman. Mula-mula ia melihat Yesus dengan mata jasmaninya. Kepada para Farisi yang bertanya kepadanya tentang Yesus, ia berkata: “Orang yang disebut Yesus mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat!”. Sesudah itu ia melihat Yesus dengan mata hati. Ia berpihak kepada Yesus yang telah menyembuhkannya. Kepada orang-orang Farisi yang mediskreditkan Yesus sebagai orang berdosa, ia membela Yesus: “Ia adalah seorang Nabi”. Mungkin dia berpikir: “Bagaimana mungkin seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian”.

Akhirnya orang buta itu melihat Yesus dengan mata imannya. Kepada Yesus yang menanyakan kepada dia, apakah ia percaya kepada Anak Manusia, ia menjawab tanpa ragu: “Aku percaya Tuhan”. Injil selanjutnya menceriterakan: Lalu ia sujud menyembah-Nya. Selanjutnya Yesus berkata: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barang siapa yang dapat melihat, menjadi buta!”.

Dalam berpihak dan mengimani Yesus orang buta itu mendapat banyak halangan dan tantangan. Ia tidak takut untuk berdebat dengan para ahli dan Farisi, para rohaniwan pada masanya. Ia tahu akan resikonya. Resiko terbesar ialah bahwa ia dikucilkan dari umat terpilih. Dan memang akhirnya mereka “mengusir dia keluar”. Orang tuanya menjadi kecut. Mereka melemparkan seluruh tanggung jawab pada dirinya. Ia menerima tanggung jawab itu. Ia beriman kepada Yesus dengan sadar dan penuh tanggung jawab.

***

Beriman kepada Yesus Kristus di jaman ini dan di negeri ini mungkin saja mengandung banyak resiko. Sebagai golongan minoritas, kita bisa jadi bulan-bulanan permainan politik dari para elit politik. Sudah banyak gereja-gereja kita dibakar. Mungkin sudah banyak anggota umat kita diteror, terbunuh dan diperkosa.

Dalam kerusuhan Mei tahun 1998 pada banyak gedung ditulis dengan huruf besar-besar: “Ini milik pribumi Muslim!!”. Kita yang mungkin non pri dan non muslim dengan rasa takut berpikir: “Apakah kita non muslim bisa dibumi-hanguskan?? Apakah dengan menjadi Kristen kita tidak boleh merasa aman lagi??”

Dalam situasi sulit dan kritis macam itu, bisa terjadi bahwa kita lantas menghitung untung rugi untuk menjadi umat beriman kristiani. Kita mulai berdagang dengan Yesus Kristus. Bukanlah mustahil bahwa dalam situasi seperti sekarang ini ada orang-orang yang ingin menjadi katolik atau sudah menjadi katolik akan mengambil jalan surut, sebab menjadi katolik ternyata lebih banyak susah daripada senangnya. Tetapi bukanlah mustahil pula bahwa dalam situasi seperti sekarang ini banyak orang yang semakin memperteguh imannya. Adalah membanggakan dan membahagiakan bahwa dalam situasi sulit dan penuh tantangan semacam ini, gereja-gereja kita masih penuh dengan umat yang berhari minggu, malah bertambah. Memang bukan suatu indikasi yang mutlak tentang sikap iman umat, namun dapat dilihat sebagai salah satu indikasi tentang semakin terujinya iman umat kita. Memang iman sering ditempuh dengan tantangan, kesulitan, bahkan penganiayaan. Mutiara itu akan semakin berkilat kalau di gosok. Demikian kiranya dengan iman kita.

Dalam sejarah gereja kita sudah terbukti bahwa gereja akan semakin bersih dan bercahaya kalau ia ditantang dan dianiaya, kalau banyak umat menjadi martir, jadi saksi imannya!!

***

Sejarah gereja Rusia mengungkapkan kepada kita banyak kisah menarik dari umat Katolik di negeri itu. Kisah-kisah yang menyedihkan, mengharukan, tetapi sekaligus membanggakan.

Ceritera berikut terjadi di tanah Rusia, pada masa penganut agama kristen dikejar-kejar dan dianiaya secara kejam.

Pada saat itu biasanya orang-orang kristen secara bersembunyi-sembunyi berkumpul di salah satu rumah untuk berdoa bersama-sama dan untuk saling meneguhkan.

Pada suatu hari polisi rahasia berhasil menggrebek sebuah rumah dan berhasil menangkap sekumpulan orang-orang kristen yang sedang berkumpul.

Di antara orang-orang itu terdapat seorang gadis cantik bernama Natassa. Ia adalah penggerak kelompok. Ia selalu berbicara tentang Yesus dan warta kabar baik Kerajaan Allah. Seperti orang-orang yang lain Natassa dimasukkan dalam sel, diinterogasi, dipukul dan dipermalukan secara keji. Kemudian Natassa dilepaskan kembali dengan ancaman tidak boleh berkumpul lagi.

Tetapi selang beberapa saat kemudian polisi-polisi rahasia menangkap lagi orang-orang kristen yang sering berkumpul untuk saling meneguhkan. Ternyata Natassa ada di antara mereka. Natassa disiksa dan dianiaya secara kejam. Kali ini ia harus kapok. Dalam keadaan setengah hancur ia dilepaskan.

Tetapi ketika polisi menangkap lagi sekumpulan orang-orang kristen yang sedang berkumpul, ternyata Natassa berada pula di tengah mereka. Kali ini gadis Natassa sungguh dihancurkan oleh penganiayaan yang di luar batas kemanusiaan lalu dibuang ke tempat kerja paksa. Sejak saat itu nama Natassa tak terdengar lagi.

Tetapi seorang polisi yang turut menyiksanya selalu teringat padanya. Ia menyesal telah menyiksa gadis cantik yang demikian tekun pada keyakinan dan tugasnya. Bertahun-tahun ia mencari Natassa tetapi tidak ketemu.

Kemudian ia menulis sebuah buku yang menjadi sangat masyur yang berjudul: “Maafkan Saya Natassa”.

Rupanya tantangan dan penderitaan sudah menjadi bagian dari hidup seorang kristiani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *