Hari ketiga pelatihan Katekese Digital Komkat Regio Nusra, oleh Purwono Nugroho Adhi selaku nara sumber, memperkenalkan dasar-dasar E-Katekese kepada peserta, khususnya penguasaan dua akun multimedia digital yakni “Prezi.Com” dan “Cliptomaze.com”. Penguasaan kedua akun ini sangat membantu ketrampilan peserta untuk bisa mengakses multi media digital, seperti bisa melakukan foto-foto dengan membuat narasi atau mazmur modern sesuai obyek foto tersebut dan bisa dibagikan kepada siapa saja. Namun menurut Rm. Edy Menori, Pr (Ketua Komisi Komsos Keuskupan Ruteng) yang turut hadir sebagai peserta dalam pelatihan katekese digital, berpendapat: “Yang perlu diingat adalah bahwa media digital sebenarnya bukanlah tujuan tapi sebagai sarana. Karena itu inti dari pelatihan ini sesungguhnya bertujuan agar kita para katekis atau pewarta Sabda, bisa hadir atau masuk dalam media digital untuk mewartakan Kristus kepada semua orang.”
Kultur Baru
Ahli komunikasi yang pernah mengenyam pendidikan terakhir pada Institut Pastoral Komunikasi St. Thomas di Manila-Philpina ini mengingatkan bahwa Paus Yohanes Paulus II dalam Redemptoris Misio mengatakan bahwa “era digital” merupakan kultur baru. Tugas kita adalah bagaimana menghadirkan khabar gembira atau Sabda ke dalam kultur baru tersebut. Untuk itu tiga hal yang perlu diperhatikan menurut Paus Yohanes Paulus II adalah “new psikologis, new teknis dan new aproachs”. Karena itu lebih lanjut, romo Edy Menori yang juga bergelut dalam dunia pendidikan sebagai Ketua Yayasan Sukma – Keuskupan Ruteng mengatakan, “seharusnya pelatihan katekese digital ini perlu menghadirkan juga orang lain yang memiliki keahlian dalam bidang pastoral komunikasi agar bisa memberikan perspektif pastoral komunikasi dengan berbagai ajaran sosial Gereja Katolik yang begitu banyak dalam Konsili Vatikan II dan nilai-nilai Injili dalam Kitab Suci. Dengan demikian pelatihan kita tidak hanya sekedar menguasai ketrampilan menggunakan sarana digital, melainkan juga memberikan konten atau isi pewartaan khabar gembira melalui media digital.”
Dijelaskan oleh romo Edy Menori bahwa dalam ilmu komunikasi pada umumnya, kita mengenal istilah Sender (pengirim pesan/orang yang mengirim pesan), Chanel (alat/sarana) dan Receiver (orang yang menerima pesan). Pusat yang menjadi perhatian utama dalam komunikasi pada umumnya adalah Reseiver atau penerima pesan/pasar dan sudah pasti bersifat money oriented. Sedangkan komunikasi Kristiani alurnya sebagai berikut, mulai dari Word/Sabda -Messenger/Pewarta Sabda – (Channel) – dan Receiver / penerima /umat. Sebagai pusat dalam komunikasi kristiani adalah Sabda. Sabda itu tetap. Massengernya harus mengubah hidupnya sesuai pesan Sabda untuk dibawah kepada receiver. Artinya Messenger adalah saksi yang menghadirkan Kristus melalui cara hidupnya baik dalam perkataan atau perbuatan. Karena itu, berkaitan dengan era digital ini, romo Edy berharap kita harus bisa masuk di dalamnya untuk mewartakan Sabda Tuhan melalui sarana atau media digital yang ada.
Kegiatan pelatihan katekese digital ini meskipun sangat terganggu dengan keterbatasan sarana pendukung seperti internet yang kurang bagus, namun acara ini tetap berjalan dengan baik. Para peserta dibagikan dalam 6 kelompok berjuang bersama-sama dengan sarana yang terbatas untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dan dalam sesi terakhir dapat mempresentasikan hasil kerja mereka dan dievaluasi bersama. Kesan peserta secara umum cukup baik. Harapan mereka ke depan jika mengadakan pelatihan seperti ini lagi, maka perlu menyiapkan sarana pendukung yang lebih memadai, teristimewa akses internet yang lebih baik. *** Blasius and Daniel.

