Temu Komkat Regio Jawa 2026: Berjalan Bersama Keluarga Mewujudkan Katekese yang Misioner

Komisi Kateketik Regio Jawa kembali menggelar temu karya tahunan dengan mengusung tema utama tentang keluarga. Temu karya dihadiri 57 peserta – utusan Komisi Kateketik dari tujuh Keuskupan se-Regio Jawa (Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Surabaya, Keuskupan Malang, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bogor dan Keuskupan Bandung).

Temu karya yang dilaksanakan di Gedung Karya Pastoral Bumi Silih Asih, Keuskupan Bandung pada Selasa – Jumat (8 – 11 September 2026) ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, memperoleh pengetahuan tentang katekese keluarga yang misioner masa kini berdasarkan beberapa perspektif (teologis, psikologis dan pendampingan iman keluarga). Kedua, mendengarkan pengalaman pendampingan nyata pasangan suami istri (Pasutri) terhadap anak-anaknya (keluarga). Ketiga, merancang tindak lanjut temu karya Komkat Regio Jawa.

Temu karya diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Vikaris Jendral Keuskupan Bandung, RD. F. X. Wahyu Tri Wibowo dan konselebran para imam Ketua Komkat se-Regio Jawa serta Seketaris Eksekutif Komkat KWI, RD. Yohanes Kartiba. Dalam homilinya, Rm. Wahyu menegaskan bahwa keluarga tidak boleh hanya menjadi objek katekese. “Keluarga harus menjadi penggerak utama karya katekese,” tegasnya. Rm. Wahyu berharap temu karya ini menjadi kesempatan untuk saling berbagi dan menimba spirit untuk terus berkaya dengan sukacita.

Usai santap malam, acara dilanjutkan dengan sharing refleksi dari masing-masing keuskupan. Sharing ini berfokus pada karya katekese yang sudah, sedang dan akan dilakukan ke depan. Selain itu, disampaikan pula tantangan dan kesulitan yang dihadapi dalam  karya katekese. Program katekese tahun 2027 juga dipaparkan sesuai konteks dan Arah Dasar Keuskupan masing-masing.

Selanjutnya peserta mengikuti sesi pertama temu karya dengan narasumber RP. Constantius Eko Wahyu Djoko Santoso, OSC. Imam kelahiran Bandung, 11 Maret 1969 ini mengemas pemaparannya dengan sangat menarik. “Walk in Love: Building a Domestic Church,” menjadi tema yang diuraikan secara mendalam oleh Rm. Eko dengan merujuk pada dasar biblis (Mat.19:4-6 dan Kej.2:24) dan juga sejumlah Dokumen Gereja.

Selain itu, Romo Eko juga menyelipkan beberapa kisah pergumulan atau masalah keluarga Katolik dalam menjalani hidup berkeluarga. Menurut Romo Eko, masalah dalam hidup berkeluarga seringkali muncul karena tidak melibatkan Allah. Dengan menyitir pandangan seorang Pujanggga Gereja, St. Thomas Aquinas (1225-1274) tentang perkawinan, Romo Eko menegaskan bahwa perkawinan adalah relasi antara suami dan istri, sekaligus relasi mereka denga Allah. Oleh karena itu, imam yang dikenal sebagai motivator dan penceramah ini mendorong keluarga Katolik untuk selalu melibatkan Allah dalam keluarga. Mengakhiri pemaparannya, Romo Eko menegaskan bahwa sakramen perkawinan adalah karunia untuk pengudusan dan keselamatan pasangan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *