Metropolitan berasal dari metropolis [Yun: metro + polis] yang berarti “mother city” atau ibu kota, atau merujuk kepada kota yang besar. Hidup di kota besar dengan segudang kegiatan yang beragam membutuhkan suatu ketrampilan. Namun, ketrampilan saja tidaklah cukup untuk dapat bertahan di hiruk pikuk kehidupan metropolitan. “Serba cepat, serba instan” adalah istilah yang tepat yang menggambarkan kehidupan metropolitan. Orang mengatakan “siapa cepat, dia dapat.” Siapa yang dengan cepat mempunyai akses ke orang yang kuat, ke sumber finansial yang kuat, dan dapat mengambil kesempatan dengan cepat, maka dia akan sukses. Agaknya, kebiasaan untuk melakukan segala sesuatu dengan instan, secara tidak langsung menjauhkan orang dari hal-hal yang memerlukan pemikiran mendasar yang membutuhkan waktu dalam berproses, seperti: untuk apa aku hidup, apakah kebahagiaan, apakah tujuan akhir dari kehidupan, dll.
Selain gaya hidup yang serba cepat, kehidupan metropolitan diwarnai dengan teknologi dan berbagai macam pemakaian gadget. Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPMA), dalam penelitiannya tahun 2006 mengatakan bahwa anak-anak di Jakarta menghabiskan 7 jam sehari untuk mengkonsumsi media, baik televisi, komputer, videogame, dll. Millward Brown, perusahaan yang bergerak di bidang penelitian dan marketing komunikasi, pada tahun 2014, melakukan penelitian tentang berapa lama orang-orang mengakses segala macam peralatan elektronik, seperti: komputer, laptop, tablet, smartphone. Hasilnya? Sungguh mengejutkan! Indonesia menempati peringkat teratas dalam lamanya penggunaan peralatan elektronik, mengalahkan Filipina, Cina, Brasil, Vietnam dan Amerika. Setiap hari orang Indonesia menghabiskan 9 jam dibandingkan 7 jam orang Amerika dalam penggunaan peralatan elektronik.1 Di satu sisi, bukankah itu ironi, sebab ada umat yang protes kalau seorang Romo berkotbah lebih dari 20 menit dalam Misa? Atau, berapa banyak umat Katolik mau datang secara antusias ke seminar-seminar tentang iman Katolik? Rupanya, hiburan-hiburan duniawi dianggap lebih menarik daripada pembahasan-pembahasan teologis yang serius.
Banyak orang yang hidup di metropolitan juga tidak sayang untuk menggunakan uang dalam membeli gadget dan berusaha secara maksimal untuk meningkatkan ketrampilan. Berlomba-lomba, orang berusaha agar anak-anaknya mempunyai pendidikan yang baik. Bahkan, walaupun telah bersekolah sampai ke jenjang S2, orang metropolitan tidak sayang menggunakan uang untuk semakin mengasah kemampuannya, termasuk dengan kursus-kursus yang mahal. Namun, ada sebagian umat Katolik yang berkeberatan jika harus mengeluarkan uang sebesar 50 ribu rupiah untuk biaya makan dan makalah untuk seminar tentang iman Katolik. Kelihatannya ada paradigma bahwa untuk hal-hal sekular tidak perlu sayang uang, karena dapat berpotensi meningkatkan karir. Namun, untuk hal-hal yang bersifat spiritual sudah seharusnya gratis. Padahal, bukankah hal-hal yang bersifat spritual lebih utama dari hal-hal yang bersifat material?
Semua hal di atas semakin memperkuat tesis bahwa banyak orang di kota metropolitan lebih tertarik kepada hal-hal material, lebih memikirkan hal-hal yang dapat dibuktikan secara empiris, yang dapat ditangkap oleh panca indera. Orang mengejar sesuatu yang dapat terlihat, terasa, terdengar, pendeknya, segala sesuatu yang nampak kasat mata. Pemikiran untuk mencari hal-hal yang bersifat non-material atau metafisik —seperti: kebenaran, keadilan, keindahan—dipandang terlalu sulit, lamban, dan kurang menarik. Gadget yang sarat dengan informasi dan hiburan yang menyajikan hal-hal yang berlawanan dengan nilai-nilai kekristenan— menyebabkan secara perlahan paham ateisme dapat juga melanda kehidupan metropolitan. Suatu ironi, bahwa paham semacam ini bisa mengambil tempat di negara ini, yang percaya akan satu Tuhan.
Maka nampaknya teologi yang ingin memperkenalkan Allah dan implikasinya dalam kehidupan, memang menghadapi tantangan yang sungguh luar biasa besar di kehidupan kota metropolitan. Akankah pembahasan tentang kebaikan, kebenaran, keindahan, ke-Allahan, mempunyai daya pikat bagi orang-orang yang tinggal di perkotaaan? Apakah diskusi tentang teologis dapat juga menarik seperti diskusi tentang hal-hal politik, budaya, finansial dan pendidikan? Dan bagaimana pendekatan teologis yang baik untuk situasi seperti ini?
Sumber: www. katolisitas.org / by Stefanus Tay dan Ingrid Tay
1 Data tentang penelitian ini dapat diakses di: http://www.millwardbrown.com/adreaction/2014/report/Millward-Brown_AdReaction-2014_Global.pdf

