Bacaan I : Yes 63: 16B-17;64:1.3b-8
Bacaan II : 1 Kor 1:3-9
Bacaan Injil: Mrk 13:33-37
Diceriterakan bahwa ada seorang ketua Dewan Perwakilan Rakyat yang sedang memimpin rapat dewan. Ketika sidang berjalan dengan serunya, tiba-tiba hari menjadi gelap. Lalu terjadilah tanda-tanda alam yang serba aneh. Anggota dewan pada saling berbisik: “Mungkin dunia akan kiamat”. Suasana bingung dan takut semakin mencekam. Beberapa anggota dewan menginterupsi supaya sidang dihentikan, mereka mau pulang ke rumah untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Ketua Dewan, seorang Katolik dengan tenang berbicara: “Saudara-saudara, menurut jadwal, sekarang masih jam sidang. Sekiranya saat ini sungguh-sungguh dunia kiamat dan Tuhan akan datang mengadili kita, saya lebih senang Tuhan menemukan saya pada saat saya sedang menjalankan tugas saya: memimpin sidang dewan yang terhormat ini………”
***
Kita tidak tahu, kapan akhirat dunia ini akan tiba dan kita juga tidak perlu mengetahuinya. Memang selalu ada di antara orang kristen yang suka berspekulasi, coba memperhitungkan dan memberitakan tanggal-tanggal tertentu, kapan dunia akan berakhir. Tetapi perbuatan macam ini bodoh dan tidak berguna.
Dalam Injil hari Minggu pertama masa Adventus ini kita diperingatkan untuk berjaga-jaga menghadapi kedatangan Tuhan. Tuhan akan datang pada peristiwa pengadilan terakhir. Tuhan akan datang pada pesta Natal. Tetapi Tuhan akan datang pada segala peristiwa hidup ini, asal kita peka dan berjaga-jaga untuk melihat dan menyambut kedatangan-Nya. Masa Adventus bukan hanya terbatas pada empat minggu menjelang pesta Natal, tetapi seumur hidup kita. Kita harus selalu ada dalam suasana Adventus, sebab Tuhan selalu bisa datang dalam setiap kejadian, setiap peristiwa, juga dalam setiap peristiwa yang paling sederhana sekalipun, asal kita cukup peka dan cukup beriman. Setiap peristiwa sebenarnya bisa menjadi peristiwa kedatangan Tuhan.
***
Kedatangan Kristus kembali memberikan arah dan tanggung jawab bagi kita. Pada awal tahun baru liturgi ini kita perlu dibangunkan dan disadarkan kembali akan arah dan tanggung jawab hidup kita itu. Setiap kita beralih dari tahun ke tahun, kita menyongsong DIA, dan tentu dengan persiapan yang baik. Kita tidak bisa membuat alibi. Kita harus menyongsong-Nya pada awal tahun gerejani ini juga. Tahun yang silam sudah silam, dan kini ada kesempatan baru yang harus diisi. Itu menuntut dari kita semacam persiapan yang harus lebih baik, lebih jujur dan lebih ikhlas.
Masa Adven, masa persiapan untuk Natal adalah masa yang tepat untuk kita membarui sikap waspada. Semoga kita meninjau kembali hidup kita, menyesali dosa dan kesalahan kita, meminta ampun atasnya dalam sakramen tobat dan mengambil niat yang teguh untuk memberi orientasi baru bagi hidup kita, agar kita pantas disebut anak-anak Allah, agar kita tidak perlu takut menghadapi Allah sebagai hakim pada saat apa saja.
Ada suatu ceritera rakyat dari Jerman yang menceriterakan tentang seorang yang bernama Jedermann. Jedermann ini punya motto hidup: “Teguklah kenikmatan dan kesenangan dalam hidup ini sepuas-puasnya selama masih ada kesempatan”. Hidupnya diisi dengan memburu kenikmatan dan kesenangan. Pada suatu malam, ketika dia sedang merayakan suatu pesta pora bersama teman-temannya, malaikat maut mengetuk pintu ruangan pesta itu dan mengatakan bahwa ia datang untuk menjemput Jedermann untuk menghadap pengadilan Tuhan. Jedermann terkejut setengah mati. Ia meminta kepada malaikat maut supaya penjemputannya ditunda sampai tahun depan. Tetapi malaikat maut menolak. Kalau ia menjemput seseorang, penjemputannya tak dapat ditunda. Jangankan tahun depan, bulan depan, bahkan hitungan hari dan jam pun tak dapat ditunda. Putus asa Jedermann meminta apakah ia boleh membawa teman untuk membelanya dihadapan pengadilan Allah. Malaikat maut mengizinkan, tetapi tidak ada seorang pun dari teman-temannya yang rela dibawa oleh malaikat maut pada malam itu juga ke depan pengadilan Allah. Mereka belum siap. Jedermann lalu teringat pada pacarnya, pacarnya pernah menulis dalam surat cintanya bahwa mereka akan selalu bersama-sama sehidup semati. Tetapi pacarnyapun menolak untuk mengikuti Jedermann ke pengadilan Allah pada malam itu juga, sebab ia pun belum siap. Sehidup ya……, semati tunggu dulu……jangan begitu mendadak, tak terduga!!
Kisah-kisah itu menunjukkan betapa sering manusia tidak siap. Tidak waspada. Manusia sering tidak siap untuk menerima hari Tuhan. Tuhan bisa menyapa dan mendatangi kita kapan saja, di mana saja dan dengan cara dan untuk maksud apa saja. Bahkan Ia mendatangi kita pada setiap peristiwa konkret hidup kita. Tetapi sering kita tidak siap dan tidak peka untuk menanggapi sapaan dan kunjungan-Nya.
Rm. Yosef Lalu, Pr dalam buku Homili Tahun B
Terbitan Komisi Kateketik KWI

