Kontekstualisasi Berkatekese

Mgr Paskalis 1.jpg

Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM (Ketua Komkat KWI)

Konstektualisasi Katekese adalah usaha – usaha menghidupkan pribadi Yesus Kristus dan ajaran-Nya (mengaktualkan Yesus Kristus), bagaimana membuat orang sekarang ini menyakini bahwa Yesus membawa kebenaran, kebaikan dan keindahan hidup kepada semua manusia sepanjang masa (kita dan bangsa Indonesia). Permasalahan yang dihadapi sekarang“Apakah umat Katolik sebagai pelaku aktif Katekese mau membangun hidupnya untuk tujuan mewujudkan hidup bangsa dan masyarakat Indonesia berdasarkan kepercayaan akan Yesus Kristus”?. Untuk itu dalam rubrik kali ini akan sekilas melihat tentang Katekese Kebangsaan sebagai Konstualisasi Katekese untuk menjawab permasalahan tersebut.

Soal Berkatekese

Katekese adalah pewartaan Sabda namun memerlukan lingkungan yang sesuai dan penyajian yang menarik, memakai simbol – simbol yang menyapa, penyisipan dalam proses yang lebih luas dan terintegrasi dengan seluruh dimensi pribadi.
Berkatekese adalah seni mengkomunikasikan memori – memori kita akan Allah namun juga mengkomunikasikan isi ajaran iman kita yang bersumber pada sabdadan magisterium Gereja. Dalam konteks mengkomunikasikan tersebut kita perlu memakai berbagai macam cara dengan tujuan menimbulkan effek tanggapan pada lawan berbicara kita.

Paus Fransiskus menekankan agar Katekese memberikan jalan – jalan keindahan (EG 167). Mewartakan Kristus berarti percaya kepada-Nya dan mengikuti-Nya bukan hanya sesuatu yang tepat dan benar namun juga indah bahkan di tengah kesulitan hidup.
Berkatekese Kebangsaan

Mengkomunikasikan isi iman kita mesti membangkitkan gerakan – gerakan kecintaan serta komitmen membangun kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan nilai – nilai Kerajaan Allah. Fokus utama Katekese Kebangsaan adalah pribadi Yesus Kristus bukan pada nilai – nilai pancasila atau permasalahan – permasalahan kebangsaan juga dalam proses berkatekese hendaknya dapat menciptakan insan – insan yang mewujudkan iman kepercayaannya dalam hidup yang selaras dengan nilai – nilai yang diperjuangkan di bangsa Indonesia yang tersirat dalam UUD 1945 dan Pancasila. Implikasinya Bahan – bahan berkatekese haruslah selalu menukik pada teks – teks biblis ataupun magisterium gereja yang menunjang opsi kebangsaan. Pengembangan Katekese Kebangsaan akan membantu kita untuk mengembangkan Gereja yang relevan dan bermakna bagi masyarakat Indonesia (Gereja yang menanggapi tantangan – tantangan zaman).

Spiritualitas Pendukung Katekese Kebangsaan

Proses Katekese Kebangsaan selalu mendorong umat untuk terlibat dalam pertarungan Gereja dalam menghadapi tantangan – tantangan zaman. Oleh karena itu diperlukan sebuah dorongan rohani untuk merealisasikan proses tersebut.

-Spiritualitas Inkarnatoris
Penghayatan Rohani manusia berangkat dari peristiwa Allah yang menjadi manusia yang terungkap dalam diri Yesus Kristus. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:!6) . Allah sendiri memilih untuk hadir dalam hiruk – pikuk manusia dan berjuang bersama manusia. Kehadiran Allah di tengah – tengah manusia mengubah cara manusia memandang dunia, dunia bukan lagi terpisah dari ruang – ruang suci, kehadiran Allah mengubah dunia menjadi situs rahmat dimana kita dapat berjumpa dengan Allah. Maka tidak perlu lagi mencari tempat – tempat yang sepi karena Allah hadir di tengah dunia yang hiruk pikuk ini.

Spiritualitas ini berlawanan dengan dinamika hidup keagamaan dewasa ini, kerohanian kerap kali identik dengan urusan – ursan saleh yang tidak ada hubungannya dengan pergumulan kehidupan sehari –hari. Ini bukan berarti berdoa dan beribadah, namun hal ini hanya sebagian saja, sebagian yang lain adalah berkeluk dalam dinamika masyarakat.

Spiritualitas ini mengarah pada cara bertindak, kehadiran Allah menganugrahkan mata yang baru untuk melihat realitas secara baru memandang dunia dengan kehendak Allah untuk menhadirkan keselamatan, kita diajak untuk memperbaharui diri, menyegarkan cakrawala pikir, dan menata sikap dan keputusan kita dalam segala bidang kehidupan

Berkatekese yang didasari spiritualitas inkarnatoris akan mendorong orang untuk terlibat dalam gerakan – gerakan yang membangun nilai – nilai Pancasila dan UUD 1945.

-Spiritualitas Mistik – Politik
Spiritualitas ini bersandar pada pengalaman mistik politis, mistik berarti akrab dengan Allah sampai terasa secara efektif menggerakan orang, pengalaman mistik politis adalah pengalaman intim relasional dengan Allah yang membuahkan keterlibatan sosial demi keselamatan dan kebaikan sesama manusia. Pengalaman mistik dan politik merupakan hal yang mendasar jika ingin mencapai iman yang cerdas, tangguh dan misioner. Kedalaman hidup beriman ditandai dengan seberapa dalam relasi dengan Allah. Katekese Kebangsaan harus mengarah pada memori akan Allah / pengalaman keakraban dengan Allah sehingga dapat menggerekan umat. Katekese kebangsaan ingin mendaratkan iman kita dan mengatasi polarisasi antara hal yang sakral dan duniawi. Pengalaman akan Allah melalui Yesus Kristus harusnya tidak terpuruk pada ruang – ruang privat yang terasing namun pada kepedulian pada gerakan dan dinamika kebangsaan. Oleh karena itu Katekese kita selalu bercorak meneguhkan yang menyasar pada keterlibatan optimal dalam konteks ini adalah pada hal – hal politik terutama pada keterlibatan dalam proses pemilihan, sehingga umat juga di dorong untuk memberikan kontribusi dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih baik lagi.

Katekese Kebangsaan selalu memperteguh komitmen kekatolikan, Karya Katekese menghantar umat untuk semakin yakinuntuk selalu bertindak, bertutur sebagai seorang pengikut Kristus dalam kandungan Gereja Katolik. Komitmen kekatolikan itu meliputi kesetiaan budi dan hati nurani seorang Katolik untuk menerima ajaran – ajaran dan teladan dari Yesus Kristus. Mempraktekan dalam segala bidang kehidupan yang diperoleh dari sumber – sumber ajaran Gereja. ajaran – ajaran Kekatolikan membuka horizon cara berpikir kita untuk mencintai Tuhan, sesama dan alam semesta. Ajaran – ajaran Gereja menyumbangkan sesuatu yang positif kepada masyarakat. Ajaran dan teladan hidup Yesus itu diaktualkan dan diberi wujud baru sepanjang masa oleh Gereja Katolik dengan prinsip Ecclesia semper reformanda est. Gereja berusaha terus menerus menjadi Lumen Gentium serta membawa terang dan pengharapan bagi bangsa Indonesia, “Kamu adalah terang dunia, kamu adalah garam dunia” (Mat 5:13-16) bukan hanya menjadi garam dan terang Gereja saja namun dunia.

Katekese Kebangsaan memperteguh komitmen kebangsaan/keindonesiaan hal ini merupakan konsekuensi logis dan konstitutif dari komitmen akan iman kekatolikan untuk Gereja Katolik Indonesia. Tekad mengembangkan tanah air Indonesia merupakan perwujudan iman, menjadi Katolik 100%, Indonesia 100% dan menjadikan semboyan tersebut sebagai pelecut rasa cinta umat Katolik kepada bangsa Indonesia. Pengamalan Iman Katolik mencakup secara dasariah pengamalan nilai – nilai Pancasila. Iman yang diwujudkan dalam tindakan – tindakan yang benar dalam konteks Indonesia akan membuat nilai – nilai Pancasila terimplementasikan dalam kehidupan sehari – hari.

************

Catatan: Tulisan ini pernah disampaikan Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM, Ketua Komkat KWI pada Pertemuan Komisi Kateketik Regio Jawa, bulan Februari 2018, di Bandung. Telah diringkas David Kristian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *