PERINGATI PESTA ST. FRANSISKUS ASISI, KOMKAT AGATS SELENGGARAKAN LOMBA DRAMA TEMA EKOLOGI

Agats – Rabu (30/9/2026) Komisi Kateketik (Komkat) Keuskupan Agats mengadakan lomba drama dalam rangka memperingati Pesta St. Fransiskus Asisi pada Minggu (4/10/2026). Di bawah tema, “Katekis Pelajar Berekspresi: Fransiskus Manusia Damai, Saudara Bagi Sesama,” lomba ini diselenggarakan khusus bagi para pelajar tingkat SMP dan SMA/SMK Sekota Agats. Lomba yang dilaksanakan di aula Pusat Pastoral Keuskupan ini melibatkan 5 sekolah yaitu SMP YPPK Yohanes Pemandi Agats, SMP Negeri 3 Agats, SMP Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS) Agats, SMA Negeri 1 Agats, dan SMAK Seminari Yohanes Penginjil Agats. Selain kelima sekolah yang datang sebagai peserta, hadir juga para guru pendamping, para kepala sekolah, para suster, dan Bapak Uskup Keuskupan Agats.

Dalam sambutannya, Ketua Komkat, Sr. M. Dorothea, FSGM, menjelaskan latar belakang dan tujuan terselenggaranya lomba. “Lomba ini kita adakan dalam rangka memperingati Pesta St. Fransiskus Asisi. Meskipun lomba, yang hendak kita capai di sini adalah semangat persaudaraan di antara kita serta penghayatan nilai-nilai injili dalam kehidupan yang terinspirasi dari St. Fransiskus Asisi,” ungkap Sr. Dorothea, FSGM. Lebih lanjut, sebelum membuka secara resmi kegiatan perlombaan, Bapak Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, mengungkapkan rasa bahagianya karena telah diundang untuk datang menyaksikan lomba tersebut. “Bapak Uskup diundang untuk menyaksikan ekspresi-ekspresi kalian. Karena itu, saya menyambut dengan sangat senang ketika diundang untuk datang dan menyaksikan ekspresi-ekspresimu,” ungkap beliau. Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan pentingnya sebuah ekspresi dalam drama, terutama untuk menghidupkan cerita. “Ekspresi itu penting. Maka ekspresikan dirimu, agar pesan-pesanmu yang diharapkan untuk sampai kepada orang lain bisa diwujudkan. Jika ekspresi-ekspresi itu bagus, maka pesan dalam cerita tentu dapat tersampaikan. Ini adalah suatu bentuk latihan yang baik,” jelas beliau.

Meski hanya melibatkan 5 sekolah, kegiatan perlombaan berjalan dengan sangat baik. Masing-masing sekolah menampilkan yang terbaik dari segala persipan yang telah dilakukan. Tema ekologi yang diberikan ternyata mampu menuai kreatifitas para peserta dalam menyusun naskah drama. Dari setiap cerita yang ditampilkan tampak sejumlah perpaduan antara budaya Asmat dan teks kitab suci, hingga menyentuh persoalan sosial termasuk krisis air yang sedang berlangsung di Agats. Selain ide cerita yang bagus, para peserta juga lihai dalam mengatur suasansa panggung, menghayati peran, hingga mengaduk nuansa drama dengan musik latar yang sesuai. Namun, dalam perlombaan tetap harus memutuskan satu sebagai yang terbaik dari semua yang terbaik. Karena itu para juri, RP. Ambrosius Weke, RD. Fridoardus Sariman, dan Bapak Robert Piran, tetap harus menentukan para juara berdasarkan kriteria penilaian yang telah disediakan oleh panitia lomba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *