
Konfrensi Waligereja Indonesia, melaksanakan serah terima dua jabatan sekertaris Komisi dari sekertaris yang lama kepada sekertaris Komisi yang baru. Jabatan sekertaris Komisi yang diganti ialah sekertaris Komisi Liturgi dan Komisi sekertaris Kateketik. Serah terima ini dilaksanakan pada hari jumat tanggal 4 juli 2025, bertempat di ruang Media Center, lantai empat kantor Konfrensi Waligereja Indonesia di Jakarta.
Sekertaris Komisi Liturgi yang sebelumnya dijabat Oleh Pastor Riston Situmorang, OSC digantikan oleh Pastor Yance Sengga, Pr dari Keuskupan Agung Ende. Pastor Riston, OSC menjabat sebagai sekertaris Komisi liturgi sejak tahun awal tahun 2022 sampai dengan pertengahan tahun 2025. Pastor Riston, OSC akan melanjutkan studi doctoral dalam bidang liturgi di Roma Italia.
Sekertaris Komisi Kateketik yang sebelumnya dijabat oleh Pastor Fransiskus Emanuel Da Santo, Pr digantikan oleh Pastor Yohanes Kartiba, Pr dari Keuskupan Agung Kupang. Pastor Festo menjabat sebagai sekertaris Komisi Kateketik sejak tahun awal tahun 2017 sampai dengan pertengahan 2025 dan akan Kembali ke Keuskupan Larantuka.
Serah terima jabatan ini dipimpin oleh Pastor Siswantoko, Pr, Sekertaris Eksekutif Konfrensi Wali Gereja Indonesia dan dihadiri oleh seluruh sekertaris Komisi beserta anggota dan juga para undangan.


Bolehkah saya meminta informasi atau penjelasan tentang pedoman bagi petugas Mazmur (pemazmur)?
Apa yang boleh dilakukan, dan apa yang tidak boleh (larangan), saat bertugas sebagai pemazmur?
Mazmur merupakan nyanyian pujian yang sekaligus mengungkapkan Doa Gereja untuk memuliakan Allah. Mazmur tanggapan adalah bagian integral dari Liturgi Sabda, sarana yang efektif untuk memaknai aspek spiritual dari mazmur bersangkutan dan membantu umat beriman untuk meresapi SABDA TUHAN yang baru saja didengarkan dalam Bacaan Pertama. Dalam konteks ini, Mazmur Tanggapan dimaknai sebagai sebuah SARANA PEWARTAAN. Bila seorang Lektor bertugas mewartakan Firman Allah dengan membacakannya, maka seorang Pemazmur adalah seorang pelayan liturgis yang bertugas untuk menyanyikan ayat – ayat Firman Allah. Maka penting bagi seorang Penyanyi Mazmur, agar selain berlatih dengan tekun dan menyiapkan diri dengan baik, perlu memperhatikan hal – hal berikut ini:
1). Tenangkan diri, damaikan hati dan awali dengan doa mohon bimbingan dan penyertaan Roh Kudus,
2). Bacalah Mazmur yang hendak dinyanyikan secara terus – menerus dengan pengucapan yang benar dan jelas,
3). Karena Mazmur Tanggapan berfungsi untuk membantu umat dalam merenungkan bacaan sebelumnya, maka sangat dianjurkan kepada pemazmur untuk membaca, merenungkan dan memahami isi bacaan pertama, temukan keterkaitannya (tentang ini, pemazmur bisa membandingkan sebagai contoh Mazmur Tanggapan Minggu Biasa XXVII yang diambil dari Mazmur 128: 1-6, dengan Bacaan Pertama dari Kitab Kejadian 2:18 – 24). 4). Bernyanyilah dengan sepenuh jiwa, sepenuh hati dan dengan seluruh akal budimu. Bernyanyi dengan seluruh dirimu sampai Anda sendiri juga merasakan bahwa Anda sedang BERDOA. St. Agustinus menulis, “Siapa yang bernyanyi, ia berdoa dua kali?” Mengapa? Karena ketika seseorang bernyanyi, bukan hanya mulut atau suaranya yang membunyikan syair, tetapi seluruh dirinya; roh – jiwa, hati, budi dan seluruh indranya menggemakan pujian atas KATA yang adalah SABDA yang mempribadi dalam diri Kristus Tuhan (Yoh. 1: 1 – 18). Jika Anda menyanyikannya dengan tenang dan penghayatan yang utuh, maka baik Anda maupun Pendengar (umat beriman) akan merasakan sesuatu yang istimewa yang tak dapat dibahasakan dengan kata. Inilah yang disebut dengan pengalaman transenden, suatu pengalaman surgawi yang tak dapat dijelaskan dengan akal budi, tetapi apa dihayati dengan iman. Praestet fides supplementum Sensuum defectui (Iman yang menolong budi, indra tak mencukupi). Dalam musik hal ini dapat disebut sebagai bagian dari apa yang dinamakan dengan sensus musicorum (rasa musik) yang turut mempengaruhi sensus fidei (rasa, pengalaman dan penghayatan iman). Musik dalam kesatuan antara KATA dan NADA, menemukan aspek keilahiannya, melalui mana dia menjadi instrumen yang membantu umat manusia untuk merasakan dan mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya. Inilah yang sekaligus membedakan Musik Liturgi dari Musik non liturgy (musik pop rohani). Kedalaman makna Musik liturgi tampak dalam salah satu karakternya di mana MELODI atau NADA yang selalu mengabdi pada SYAIR, bukan sebaliknya seperti dalam musik pop yang lazimnya lebih mengutamakan melodi daripada syair? Mengapa? Karena dalam musik liturgi, SYAIR adalah KATA dan KATA adalah SABDA (Yoh. 1: 1 – 18). Ketika Anda bermusik liturgi, Anda sedang menyanyikan, memuliakan dan menyembah SANG SABDA. Jadi, patutlah disayangkan jika Anda sampai menyanyikan lagu pop rohani sekalipun dalam Liturgi Ekaristi misalnya. Untuk maksud itu:
1). Perhatikan keras – lembutnya suara (dinamika) yang disesuaikan dengan makna kalimat musik yang ada, perhatikan tempo (cepat – lambatnya kalimat lagu/ayat yang dinyanyikan, perhatikan aspek ritardando, rallentando (melambat), accelerando (mempercepat), frasering (pemenggalan kalimat musik/lagu secara tepat sehingga para pendengar dapat meresapi atau menangkap pesan yang mau disampaikan dari ayat-ayat mazmur yang ada) dan cara memaknai serta menyambung nada (legato) yang tepat. 2). Penggunaan “Vibrato” dalam bernyanyi. Dalam bernyanyi, Vibrato itu ibarat “bumbu penyedap” yang dapat memperindah dan memberi hidup pada syair. Namun harus dikontrol supaya tidak berlebihan dan tidak dibuat – buat karena bisa berakibat kurang jelasnya syair yang dinyanyikan dan dapat pula mengaburkan maknanya. Seperti sebuah masakan, jika diberi bumbu penyedap yang berlebihan, maka akan berakibat fatal pada hasil masakannya
3). Berusahalah untuk dengan trampil menggunakan suara terang dan gelap yang disesuaikan dengan warna atau suasana ayat – ayat mazmur yang dinyanyikan (bdk. penjelasan tentang Bentuk)
Semoga sedikit membantu