Bacaan :Kej. 2:7-9;3:1-7; Roma 5:12.17-19; Mat. 4:1-11.
Kita berada kembali dalam masa penuh rahmat yang disiapkan Gereja untuk menjalami ret-ret agung selama 40 hari, berjalan bersama Yesus yang menderita karena kelemahan, salah dan dosa kita umat manusia yang dipikul-Nya agar kitapun pada akhirnya boleh menikmati kebangkitan bersama-Nya di hari raya Paskah Tuhan. Kita mengawalinya dengan menerima/menandai diri kita dengan abu. Abu tanda kerapuhan kemanusiaan kita,sebagai pernyataan perendahan diri, penyadaran akan kelemahan diri, fana, mudah terseret nafsu duniawi, untuk berbalik kepada Allah melalui pertobatan, untuk hidup sesuai dengan kodrat anak Allah, untuk amal kasih, puasa dan doa, agar semakin nyata dan berbuah kasih Allah dalam diri dan hidup kita, dalam ketulusan dan kejujuran menghayati nilai-nilai Kerajaan Allah.
Injil di minggu pertama Pra-paskah ini, menunjukkan kepada kita bahwa Yesus karena ketegasannya ketika dicobai di padang gurun membuahkan ketaatan-Nya kepada Bapa dan mendatangkan keselamatan bagi kita yang ditebus-Nya. Ada tiga bentuk godaan yang ditawarkan oleh setan yaitu: (1) untuk membuat roti dari batu. (2) untuk menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah; dan (3) akan diberi semua kerajaan dunia bila mau menyembah setan. Dan dengan tegas Yesus menolak!
Dalam hidup, kita manusia pun mengalami banyak godaaan dan cobaan dengan banyak bentuk tapi isinya sama seperti yang dialami oleh Yesus, seperti harta kekayaan dalam bentuk jaminan ekomis, Kedudukan dan jabatan, kehormatan, kuasa dan pelbagai jaminan yang bersifat politis, juga kenikmatan dan kesenangan. Dal hal-hal seperti ini, apakah kita cukup kuat untuk mengatasi godaaan-godaan itu.
Kita sering digoda untuk mencari kesuksesan dan keenakan tanpa usaha. Kita digoda tidak bekerja tetapi mengharapkan hasil yang tinggi, menyontek dalam belajar, menjiplak karya orang lain dan mengharapkan hasil yang tinggi. Kita juga tergoda untuk mewujudkan kesombongan dan gila hormat dan karena itu menjatuhkan bahkan menghancurkan kehidupan orang lain, Juga godaan gila kuasa dan berkuasa dengan menindas orang lain dengan saling menyingkirkan dan menghancurkan. Boleh jadi godaan-godaan itu itu yang bagi kita sulit untuk menolaknya. Kita seringkali sangat tidak tegas menghadapi cobaan dan godaan serta sering berkompromi dan memaafkan diri sendiri.
Kita diingatkan bahwa harus mentaati kehendak Tuhan sebagai yang utama. Kita belajar dari Yesus untuk tegas dalam cobaan dan godaan, berani untuk mengatakan: Tidak atas godaan dan cobaan itu, maka kita bisa mengalahkannya. Kita ditantang, apakah kita masih ingat akan tugas dan tujuan pokok hidup kita. Ketika kita mengalami banyak hal yang saling berbenturan, maka jalan terbaik adalah menjaga kedekatan kita dengan Allah, mengalami Allah yang selalu hadir dalam setiap perjuangan kita, maka dengan demikian Allah menjadi keselamatan hidup kita memampukan kita untuk mengalahkan setiap cobaan dan godaaan-godaan itu.
Pertanyaan bagi kita, Ketika saya menghadapai godaan, bagaimana saya mengatasi godaan itu? Apakah saya mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri saya sendiri atau membutuhkan/mengandalkan bantuan rahmat dan kekuatan Allah?
“Ya Tuhan, janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat”. Amin **
Rm. Fransiskus Emanuel Da Santo,Pr; Sekretaris Komkat KWI

