Renungan Hari Raya Kamis Putih : “Berbuat Seperti Dia”

Bacaan: Kel. 12:1-8,11-14; 1Kor.11:23-26; Yoh. 13:1-15.

Pada hari raya Kami Putih ini, melalui bacaan-bacaan hari ini, kita diperkaya dengan sejumlah pesan untuk hidup kita saat ini dan ke depan. Dalam perjamuan Paskah Yahudi menunjukkan bagaimana bangsa terpilih siap mengadakan perjalanan hidupnya di bawah bimbingan rencana Allah. Dipersembahkan dalam pesta itu “doma” yang juga menjadi tanda pembebasan dan pesta. Sementara roti tak beragi yang berasal dari lingkup petani merupakan persembahan hasil bumi, yang datang dari uaha manusia dengan berkat Allah. Ciri khas dalam perayaan ini ialah tergesa-gesa. Keselamatan Allah tidak bisa ditunda-tunda.

Rasul Paulus dalam bacaan kedua, membicarakan perayaan Paska baru. Di dalam Paska yang baru ini dikenangkan juga karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus yang menyerahkan diri secara utuh kepada Allah. Dan Injil memberikan kepada kita gambaran bagaimana Yesus dalam perpisahan dengan para murid-Nya meninggalkan kenangan hidup kepada mereka. Kenangan itu ialah tindakan-Nya membasuh kaki para murid. Di sini justru pengorbanan Yesus kelihatan dalam pengabdian dan kasih.

Paskah Yahudi adalah perayaan siap siaga untuk perjalana, untuk menghadapi perjuangan panjang. Paska Yahudi merupakan pesta keselamatan yang harus diperjuangkan. Kurban disembelih, anak domba dengan segala tuntutannya, harus disantap habis, semua harus mengambil bagian dalam perjamuan itu. Inilah  kenangan akan perjalanan umat Israel yang dibimbing Yahwe sendiri menempuh kehidupan baru. Maka dituntut kesiapsiagaan penuh, seperti orang yang bersedia mengadakan perjalanan panjang. Dan darah anak domba Paska itu menjadi tanda keselamatan.

Maka bila kita kaitkan dengan perjuangan Yesus Kristus, maka kita melihat Yesus Kristus sebagai anak domba yang dipersembahkan. Hidup dan perjuangan-Nya menjadi monumen kasih dan keselamatan. Maka bersama dengan Sang Anak Domba kita sampai pada kemuliaan abadi.

Yesus dalam perjamuan terakhir bersama murid-murid-Nya, Yesus dengan tenang menghadapi masa depan-Nya, dan sebagai “hadiah perpisahan” Ia meninggalkan suatu kenangan yang mengejutkan para murid-Nya: kenangan tindak cinta kasih. Yesus membasuh kaki para murid. Demi pengabdian kasih itulah Yesus rela menjadi hamba, rela menjadi kecil untuk kepentingan semua. Dengan demikian pembasuhan kaki menjadi tanda kasoh Kristus yang habis-habisan tetapi juga tanda penyelamatan. Teladan kasih yang tuntas. “Aku telah memberikan suatu teladan bagimu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (ay.15). Itulah cinta-Nya yang putih, dan menyelamatkan. Yesus tetap mencintai mereka dengan membasuh kaki mereka dan memberikan Tubuh dan darah-Nya. Kedua tindakan ini artinya sama yaitu wujud kehendak Allah untuk menunjukkan cinta-Nya sehabis-habisnya. Dan yang menarik lagi dalam dua kesempatan ini Yesus meminta agar kitapun melakukan hal yang sama.

Yesus memanggil kita untuk menyerahkan diri seutuhnya. Ia menghendaki agar cinta kita sama utuhnya, sama sempurnanya seperti cinta-Nya sendiri. Ia menghendaki agar kita membungkuk sampai ke tanah dan pergi ke tempat-tempat yang membutuhkan pembasuhan. Dengan saling memberikan diri sebagai makanan dan minuman ini, Ia menghendaki agar kita menjadi satu tubuh dan satu Roh yang dipersatukan oleh cinta Allah.***

 

By Rm. Fransiskus Emanuel Da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *