‘Fratelli Tutti’ bagi Ibu Pertiwi: Relevansi Fratelli Tutti bagi konteks Indonesia (Dr. Andreas B. Atawolo, OFM)

Fratelli Tutti (Semua Saudara) merupakan Ensiklik yang ketiga dari Paus Fransiskus, setelah Lumen Fidei dan Laudato si’. Ensiklik ini resmi ditandatangani Paus pada 3 Oktober 2020, di makam Santo Fransiskus Assisi. Bermula dari Assisi, Ensiklik ini tentu bermakna pula bagi Gereja Indonesia.

Dari Assisi. Tema sentral Fratelli Tutti ialah persaudaraan dan persahabatan antara manusia di dunia. Pada Pengantar Ensiklik, Paus Fransiskus mengatakan bahwa, sebagaimana Laudato si’, demikian pula Fratelli Tutti dijiwai oleh gairah persaudaraan universal yang dihayati oleh Fransiskus Assisi. Jika Laudato si’ menekankan persaudaraan antara manusia dan bumi, Fratelli Tutti menekankan persaudaraan antara manusia, sesama saudara ‘satu daging’.

Ketika Fransiskus Assisi menempatkan martabat segenap ciptaan sebagai saudari dan saudara, kebajikan yang terpancar darinya ialah cinta akan kehidupan; baginya hidup adalah hak yang melekat pada semua makhluk. Dikatakan ‘melekat’ karena sudah diberikan oleh Allah Pencipta, ketika Ia meniupkan nafas hidup kepada manusia. Kecintaan akan hidup manusia tampak jelas sebagai visi kepemimpinan Paus Fransiskus. Fratelli Tutti mengungkapkan dengan terang makna kasih persaudaraan yang dihayati Fransiskus Assisi: kita semua anak-anak dari satu Bapa Pencipta.

 Merangkul Dunia.

Fratelli Tutti terdiri dari delapan Bab isi, yang diawali dengan sebuah Pengantar dan diakhiri dengan Doa Kepada Pencipta dan Doa Ekumene. Bab I memaparkan realitas dunia yang digambarkan sebagai suasana gelap. Ketika badai Covid-19 menerpa perahu dunia, tersingkaplah topeng bernama ‘kemajuan global’, suatu kemajuan yang nyatanya tidak mampu menangkal krisis, karena mengutamakan keselamatan individu atau kelompok, tetapi mengabaikan persaudaraan.

Karena itu, di Bab II, ditegaskan bahwa sudah saatnya manusia meniru sikap ‘orang Samaria yang murah hati’ (Luk 10: 25-37): menjumpai dan merawat sesama yang terluka, bukan hanya melewatinya dari seberang jalan. Orang Samaria yang murah hati adalah lonceng keras yang memanggil manusia untuk mengasihi sesama sebagai saudari dan saudara, melampaui batas apa pun, terutama agama yang seolah-olah menjadi penghalang antara aku dan engkau. Mari keluar dari tabu agama, menjadi bebas seperti orang Samaria.

Mari bergandeng tangan merawat rumah kita

Bab III Fratelli Tutti mengedepankan seruan untuk keluar dari segala bentuk eksklusivisme: dari tingkat individu sampai organisasi internasional. Semua manusia, saudari dan saudara, dipanggil untuk saling mengasihi, sebab kita memang diciptakan untuk saling mengasihi. Corak dasar kasih (caritas) ialah memberi yang baik kepada sesama.

Makna dasar kata benevolentia ialah menghendaki yang baik bagi sesama. Visi keterbukaan ini dikemukakan pula di Bab IV, dengan tekanan khusus pada perhatian bagi para imigran yang mengungsi karena perang, terorisme, dan aksi kekerasan: Mereka perlu diterima, dilindungi, diberi hak untuk berkembang, dan menyatu ke dalam keluarga bangsa manusia.

Salah satu faktor yang memungkinkan keterbukaan universal ialah sistem politik. Politik dimaknai oleh Paus Fransiskus sebagai kesempatan istimewa melayani rakyat. Salah satu indikasi dari negara dengan sistem politik yang kuat ialah terjaminnya kesempatan kerja bagi warga, bukan hanya demi upah, tetapi sebagai media ungkapan diri manusia. Dalam Bab V Paus berbicara tentang politik kasih: para leader memikirkan keberlanjutan hidup seluruh rakyat. Istilah ‘rakyat’ hendaknya dimaknai secara konkret. Rakyat bukan suatu kategori abstrak, tetapi manusia sebagai pribadi.

Sebagai pribadi, manusia tidak sempurna pada dirinya. Secara hakiki ia adalah makhluk sosial. Tema sentral Bab VI ialah dialog. Kata-kata kunci dialog: mendekati, mengutarakan, mendengarkan, mencari titik temu. Dialog menjadi dasar bagi sebuah budaya baru, budaya perjumpaan. Kebajikan yang dijunjung tinggi dalam dialog ialah kebenaran. Maka sangat dibutuhkan kejujuran dan keterbukaan. Dialog merupakan proses terus-menerus, karena membutuhkan kehendak kuat dari semua pihak untuk saling menerima perbedaan. Kita perlu memiliki cita rasa perjumpaan, agar memiliki kerinduan untuk berjumpa dengan sesama yang unik dan berbeda.

Tujuan utama dialog ialah damai. Setiap kita adalah seniman perdamaian. Ketika saya memiliki damai dalam diri, saya siap menjadi pembawa damai. Maka damai adalah proses yang tak pernah berakhir. Dalam Bab VII Paus berbicara tentang damai batiniah, bukan rasa damai karena tidak ada perang atau asal melupakan trauma masa lalu. Pengampunan merupakan faktor penentu bagi perdamaian. Namun pengampunan tak mungkin terjadi tanpa belas kasih. Perdamaian membutuhkan proses rekonsiliasi, penegakkan keadilan, dan pemutusan rantai balas dendam.

Demi terwujudnya damai sebagai sebuah budaya perjumpaan yang baru di dunia, agama-agama memainkan peran yang sangat penting. Bab VIII Fratelli Tutti berbicara tentang dialog antara agama sebagai media bagi persaudaraan dunia. Dialog antara agama bukan sekedar toleransi atau diplomasi, melainkan jalinan persahabatan sosial bermotif kasih dan persaudaraan.

Inti ajaran agama ialah kasih dan damai. Perang, teror, kekerasan bukan agama. Mengapa Fransiskus Assisi berani menjumpai Sultan Malik Al Kamil di Mesir ketika Perang Salib berkecamuk? Karena ia memiliki damai dan sukacita dalam hati. Ia sudah berdamai dengan dirinya. Paus Fransiskus pun telah mengenang sejarah perjumpaan itu dengan menjumpai Imam Besar Ahmat Al-Tayeb pada 2019, demi menyampaikan pesan damai bagi umat manusia.

Sampai ke Indonesia. 

Fratelli Tutti jelas sangat relevan bagi Gereja dan Negara Indonesia. NKRI memiliki banyak keragaman: agama, budaya, suku, bahasa, dan sebagainya. Indonesia juga sudah memiliki corak persaudaraan sebagai bangsa, misalnya dalam tradisi kekeluargaan, kekerabatan, gotong royong. Pancasila adalah Dasar Negara yang menjunjung tinggi religiositas serta keadaban yang menempatkan nilai luhur manusia sebagai ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, pesan dari Assisi melalui Fratelli Tutti membahasakan nilai-nilai yang sudah dianut Gereja dan Negara kita.

Di lain pihak, tak dapat dipungkiri bahwa Fratelli Tutti adalah suara yang mengatakan bahwa NKRI masih memiliki tugas berat jika mau mengupayakan persaudaraan dan persahabatan sosial. Dua isu yang kiranya menjadi sasaran Fratelli Tutti ialah politik dan agama. Masyarakat Indonesia yang sangat beragam ini, sayangnya sering mudah diadu oleh populisme sempit. Populisme sempit yang dimaksud ialah politik yang suka melemparkan isu perbedaan sentimental antara agama, yang berdampak pada ketegangan bahkan kekerasan atas nama agama. Perpolitikan NKRI juga masih diwarnai aksi korupsi yang sudah menjalar ke berbagai sektor. Politik masih hanya menjadi media kekuasaan sesaat, belum sungguh menjadi ruang ungkapan kebajikan etis dan agama.

Oleh karena itu, Fratelli Tutti dapat menjadi acuan dialog yang ditawarkan Gereja Indonesia kepada para leader perpolitikan NKRI. Dengan memahami bersama pesan Fratelli Tutti, kita dapat menggali kembali kekayaan budaya dan agama milik Ibu Pertiwi, lalu menemukan langkah-langkah baru untuk membangun persaudaraan sosial dalam Gereja dan Negara kita. Langkah dialog dan perjumpaan yang konkret perlu diupayakan, baik pribadi, kelompok, maupun bersama sebagai Gereja.

Dr. Andreas B. Atawolo, OFM; Dosen , STFT Driyarkara, Jakarta

Sumber: https://christusmedium.com

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *