Allah Adalah Kasih, Maka Tritunggal (Dr. Andreas Atawolo, OFM)

Allah Tritunggal Maha Kudus adalah ajaran paling sentral dalam iman Kristen. Ajaran yang terkesan sulit ini sebenarnya indah dan konkret jika direnungkan dari pengalaman manusia, khususnya tindakan mengasihi.

Teks Injil Yohanes. “Allah adalah Kasih” (1 Yoh. 4: 16). Allah Bapa mengasihi secara total hingga menjadi manusia, rela menderita wafat di salib dan mati seperti manusia. Sebagai wujud kasih total, yang diberikan Allah kepada manusia bukan suatu benda atau ajaran, tetapi diri-Nya sendiri. Ia tidak hanya mengajar tentang mengampuni tetapi Ia sendiri pun mengampuni musuh-musuh-Nya.

Pribadi dan tindakan Yesus Kristus adalah wujud kasih Bapa yang total. Dalam diri Yesus Kristus, manusia melihat dan mengalami bahwa Bapa sebagai sumber kasih, yang sebenarnya misteri tak terpahami itu, mau menjadi manusia, yaitu dalam diri Yesus Kristus. Sabda menjadi daging.

Jadi, Bapa mengasihi Putra sedemikian total sehingga sumber kasih dan wujud kasih itu sama. Maka Yesus berkata kepada Filipus: “Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14: 8). Dan tidak ada orang yang dapat sampai kepada Bapa tanpa melalui Yesus (bdk. Yoh 14: 6).

Bapa mengasihi, Putra adalah wujud kasih Bapa: sumber kasih dan wujud kasih itu setara. Di sini kita sedang menyebut Bapa dan Putra. Tetapi kita juga menyebut kata ‘kasih’. Relasi antara Bapa sebagai pemberi dan Putra sebagai penerima terletak dalam kasih. Keduanya diikat oleh kasih. Mereka satu dan setara karena kasih.  Jadi ada tiga hal yang kita sebut: Pengasih, yang dikasihi, kasih itu sendiri.

Kasih yang menyatukan Bapa dan Putra itu, dalam bahasa Injil juga disebut ‘karunia’. Dalam bahasa Indonesia kita sangat terbantu dengan istilah ‘kasih karunia’. Kata ini jelas mengingatkan kita akan Diri Ilahi yang disebut Roh Kudus. Sekarang kita dapat mengatakan bahwa Roh Kudus adalah kasih karunia yang menyatukan Bapa dan Putra. Bapa mengasihi, Putra dikasihi, Roh Kudus kasih itu sendiri. Roh mempersatukan Bapa dan Putra. Roh menjadikan kasih stabil dan utuh.

Persekutuan antara ketiga Diri Ilahi ini dapat dirangkum dengan kata-kata ini: “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu” (1Yoh. 5: 7).

Agustinus dari Hippo (354-430). Dalam bukunya yang terkenal, De Trinitate (Tentang Trinitas) ia mengutip frase 1 Yoh. 4: 16, Allah adalah kasih. Bahasa Latin dari kata  caritas berarti kasih. Kita ingat saja, misalnya, Paus Benediktus XVI yang telah menggunakan frase tersebut sebagai judul Ensikliknya: Deus Caritas Est, yang berarti Allah adalah Kasih. Dalam jilid ke VIII buku De Trinitate, Agustinus menegaskan keyakinannya  bahwa ‘ketika orang melihat kasih, ia melihat Trinitas’.

Salah satu sumbangan penting Agustinus ialah ajarannya tentang Roh Kudus. Dalam buku De Trinitate, jilid XV, ia menyebut Roh Kudus sebagai Donum Commune, artinya ‘kasih-karunia bersama’, maksudnya antara Bapa dan Putra. Dengan istilah itu Agustinus hendak menekankan bahwa dalam Roh Kudus, kasih Bapa dan Putra menjadi sebuah persekutuan (communio) yang tak terperikan. Sekarang kita dapat mengatakan bahwa yang mengasihi, yang dikasihi, dan kasih itu sendiri menjadi sebuah persekutuan paling luhur.

Ajaran Dogmatis. Dalam Kredo Panjang, yang diajarkan dalam Konsili Nikea-Konstantinopel, pada tahun 381, Gereja Katolik menyatakan keyakinannya bahwa Yesus lahir dari Bapa, tidak dijadikan atau diciptakan. Kata lahir menegaskan bahwa Putra itu berasal dari dalam diri Bapa, bukan ciptaan istimewa yang dijadikan oleh Bapa pada suatu saat kemudian. Karena lahir dari Bapa, Yesus memiliki kodrat yang sama dengan Bapa: Ia ilahi sebagaimana Bapa itu ilahi pula.

Konsili yang sama juga mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Pribadi Ilahi yang sehakikat dengan Bapa dan Putra. Dan sebagai Pribadi Ilahi, Roh juga ikut dalam karya keselamatan bagi manusia. Roh Kudus bukan sebuah kekuatan anonim, melainkan Pribadi Ilahi. Dengan demikian, Gereja mempertahankan imannya akan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam kesatuan kodrat ilahi.

Pengalaman Manusia. Kalau orang mengatakan ia mengasihi, maksud yang paling wajar ialah bahwa ia mengasihi seseorang yang lain. Memang manusia juga merasa dapat mengasihi benda kesayangan atau hal lain, tapi itu bukan kasih yang dimaksudkan di sini. Ungkapan kasih paling jelas terjadi antara dua pribadi manusia. Dalam pengalaman manusia ini, kita bisa menerapkan model persekutuan Tiga Pribadi Ilahi tadi: saya mengasihi, kamu dikasihi, kita bersatu dalam kasih.

Contoh pengalaman manusia yang paling jelas ialah kasih antara suami dan istri dalam keluarga. Si A dan B saling mengasihi. Mereka bersatu dalam kasih. Dalam bahasa Gereja Kristen, kasih antara suami dan istri itu disebut sakramen. Maksudnya relasi mereka itu sakral atau dijiwai sebuah nilai yang kudus dan sakral, yaitu mengungkapkan atau memperlihatkan model persekutuan kasih Allah. Dan anak yang dilahirkan dari sebuah perkawinan adalah buah kasih suami dan istri.

Logika Berbagi. Contoh terkait kesatuan dalam Roh sebagai kasih-karunia dapat kita ambil dari pengalaman di masa sulit karena wabah korona. Di masa sulit ini Anda sungguh membutuhkan pertolongan sesama, misalnya berupa sembako atau uang. Ada orang yang murah hati memberi donasi untuk Anda. Setelah Anda menerima sumbangan itu ternyata Anda melihat bahwa kebutuhan Anda sudah tercukupi. Lalu hati Anda tergerak untuk membagi donasi itu kepada orang lain yang lebih membutuhkannya. Orang yang Anda kasihi itu sekarang  merasakan kasih Anda.

Jadi, kasih yang sudah Anda terima dari orang lain tadi, sekarang Anda bagikan kepada sesama.  Anda telah menerima donasi dari donatur dan sekarang Anda menjadi donatur bagi sesama. Itu lah wujud kasih. Kasih yang tulus itu sifatnya memberi dan berbagi, tidak mengambil sebagai milik sendiri. Kasih itu identik dengan karunia (donum), sebaliknya egoisme itu identik dengan dominasi.

Buah Kasih. “Allah adalah Kasih, dan barang siapa tetap berada dalam kasih, ia tetap berada dalam Allah, dan Allah dalam Dia” (1Yoh 4: 16). Kasih kita manusia itu terbatas. Kasih kita masih diwarnai egoisme. Kita lebih mudah mengambil daripada memberi. Maka kata tetap berada itu ajakan bagi kita. Roh Kudus menolong kita supaya tetap berada dalam kasih dan kasih kita berbuah; Roh Kudus memurnikan kasih kita agar tidak cemburu dan mementingkan diri, melainkan rela berkorban.

******

P.Dr. Andre Atawolo, OFM adalah Doktor Teologi Dogmatik lulusan Universitas Kepauasan Antonianum, Roma. Kini berkarya sebagai dosen  Teologi Dogmatik di STFT Driyarkara-Jakarta. 

Sumber: https://andreatawolo.id/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *