Renungan Hari Minggu Biasa ke-7: “Menjadi Orang Kristen Yang Sempurna”

Bacaan : Im. 19:1-2,17-18; 1Kor. 3:16-23; Mat.5: 38-48 (Thn A)

Menjadi orang yang sempurna adalah mustahil dalam hidup ini, Karena manusia memiliki sejumlah keterbatasan, kerapuhan dan kekurangan. Apalagi menjadi orang Kristen atau orang Katolik yang sempurna adalah juga tidak mungkin. Menjadi manusia yang sempurna dengan segala macam tuntutan adalah mustahil. Apakah benar demikian? Apakah tidak ada yang bisa mencapai kesempurnaan? Ternyata, menjadi orang Kristen/Katolik yang sempurna adalah tuntutan penting yang diminta oleh Tuhan Yesus. Walaupun tuntutan itu tidaklah mudah namun adalah sebuah keharusan, dan keniscayaan yang sebenarnya bisa dicapai oleh manusia beriman. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”. Itu berarti hal ini dimungkinkan oleh orang yang sungguh menghayati dan menjalankan kehidupan beragama dan berimannya dengan belajar pada kesempurnaan Bapa di surga.

Ketidak sempurnaan manusia yang menghayati iman dan keagamaannya itu bila ia masih memiliki dan menghayati prinsip hidup: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Artinya prinsip balas dendam. Hidup yang dibangun atas prinsip balas dendam, tidak melahirkan damai dan kebahagiaan. Hanya akan melahirkan permusuhan. Orang beriman tidak benar membangun hidupnya sehari-hari dalam permusuhan, dalam kebencian, dalam percekcokan dengan orang lain. Kesempurnaan itu bisa diraih apabila orang hidup dalam kasih, penuh persaudaraan dan persahabatan, tanpa permusuhan dan balas dendam, Dengan sangat tegas Yesus katakan: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga..”  Disinilah letak kebebsaran seorang beriman ketika ia bisa hidup dalam persahabatan, hidup dalam damai dan rukun, saling mengampuni, hidup dalam kasih.

Semuanya ini merupakan keutamaan Kristiani. Ini adalah ciri khas dan kualitas kemuridan yang sejati yang harus sampai pada tingkat keutamaan belaskasih, yaitu memberikan dengan rela, karena kemurahan hati kita.

Kita sering mengalami berbagai perlakuan diskriminatif atas nama agama. Masih saja ada pelecehan agama di mana-mana; bahkan kita juga mengalami dalam hidup bersama ada percekcokan-percekcokan entah dalam keluarga, di tempat kerja. Masih juga ada orang yang suka hidup dalam permusuhan, dalam kebencian antara saudara satu sama lain, masih saja ada dendam dan selalu melihat orang lain sebagai musuh dan bukan sebagai saudara, dll.. Hal-hal seperti ini justru menghalangi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup dalam dan bersama Allah. Karena itu Yesus bertanya kepada masing-masing kita: “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu apakah upahmu? Apa lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?”

Kita harus bisa menjadi sempurna dalam hidup beragama dan beriman kalau kita hidup dalam Kasih. Bahkan mengasihi musuh. Karena Kasih adalah ciri khas dan kualitas kemuridan yang sejati, yakni menjadi sempurna seperti Bapa di surga sempurna. Dasar dari kasih kristiani ialah keyakinan dan kepercayaan bahwa semua orang adalah putera dan puteri dari  Bapa kita yang sama di surga, Memang mencintai musuh selalu tidak mudah. Namun setiap orang yang sungguh kristiani harus sanggup menghayati dan melaksanakannya. Kalau tidak ia bukanlah seorang kristiani lagi. Cinta Kristiani mempunyai nilai plus, antara lain keikhlasan untuk mencintai musuh itu. Tidak mudah memang. Tapi pasti bisa. Tuhan memberkati.

*******

 

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komkat KWI, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *