Renungan Hari Minggu Biasa XIV : “Bersukacitalah Karena Namamu Ada Terdaftar di Sorga”

Bacaan : Yes. 66:10-14c;  Gal. 6:14-18; Luk. 10:1-2, 17-20 atau Luk 10:1-9

oleh RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Yesus mengutus tujuh puluh murid berdua-dua ke tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Perutusan itu dengan suatu awasan karena medan perutusan tentu tidak mudah, tetapi para penerima warta sangat menantang, “seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”. Warta yang dibawa adalah warta damai. Dengan sejumlah syarat seorang utusan perlu mawas diri, jaga diri dan tau bawa diri. Entah apa yang akan dimakan, orang-orang yang menerima, tempat tinggal dan segala keperluan lain yang juga harus mendapat perhatian. Tentu saja banyak pengalaman menarik, mengagumkan, penuh sukacita bahkan tak luput dari tantangan, penolakan, bahaya dan penuh resiko. Disini mau dikatakan bahwa kisah ini menampilkan tiga aspek penting yakni: panggilan, perutusan dan tantangan.

Ketujuh puluh murid yang diutus ini diajarkan Yesus agar mereka memberikan salam damai kepada setiap orang yang dijumpai, kepada setiap rumah yang mereka masuki. Damai adalah hal penting bagi setiap perutusan. Damai tidak sekedar sebuah ucapan salam, ucapan bibir, tetapi damai adalah seorang pribadi. Damai adalah Yesus sendiri. Damai itu harus sungguh menjiwai setiap murid yang dipanggil dan diutus. Hidup dan pewartaannya lahir dari hati yang damai, sehingga yang menerima warta keselamatan itu sungguh mengalami damai sejati dalam diri Yesus sendiri.

Damai yang diterima tanpa rasa takut dan merasa bebas, penuh sukacita dan menjadi kepenuhan hidup setiap orang beriman. Mengusahakan dunia yang damai berarti mengusahakan sebuah dunia yang bebas dari ketakutan dan kebencian, iri dan dendam. Itu berarti para murid yang menjalankan perutusan Yesus tidak menjadi sumber perselisihan, pertengkaran, permusuhan, kebencian di antara orang-orang yang mereka jumpai dan yang mereka layani. Damai tidak tercapai bila ada kebencian, iri hati, cemburu, egoisme, sikap mau menang sendiri. Disinilah tantangan berat bagi para murid yang diutus. Yesus selalu menjadi jaminan.

Karena itu, ketika para murid itu kembali dari perutusan dengan penuh sukacita, kegembiraan yang mereka alami, Yesus ingatkan bahwa semuanya itu adalah karya Allah melalui diri mereka. Mereka adalah alat yang dipakai Tuhan agar damai sejahtera menjadi bagian dari hidup orang-orang yang diutus dan yang menerima warta damai itu. Sukacita itu menjadi sungguh sempurna bukan ketika setan-setan takluk, tetapi karena nama setiap pepmbawa damai itu, telah ada terdaftar di sorga.

Bagaimana dengan kita para murid Yesus jaman ini. Sudahkah kita menjadi pembawa damai dalam kehidupan pribadi, dalm keluarga, di tempat tugas dan perutusan kita masing-masing. Hal ini dapat dilihat pada diri orang-orang yang kita jumpai dan yang kita layani. Sejauhmana kehadiran kita membuat orang lain merasa aman, damai, sukacita atau sebaliknya. Semoga kita tidak menjadi sumber perselisihan, pertengkaran, permusuhan, dan  kebencian. Sebab damai yang sejati hanya bisa terjadi kalau kita mencintai satu sama lain, menghormati dan menghargai satu sama lain, saling memaafkan. Semoga Tuhan memberkati kita sehingga kita sanggup menjadi pembawa damai. Maka, bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.

**********

RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR  adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *