Renungan Minggu, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus : “Kamu Harus Memberi Mereka Makan”

Bacaan: Kej 14:18-20; 1Kor 11:23-26; Luk 9:11-17

Oleh RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Usaha dan perjuangan manusia yang sering terkuras habis adalah usaha untuk mendapatkan makanan. Dengan makan, orang bisa bertahan hidup; terlepas dari  jenis makanan yang dimakan, kadar gizi, dan lain sebagainya. Banyak orang tidak lagi berpikir apa yang akan dimakan, tetapi di mana orang bisa makan.  Itu berarti soal tempat dan suasana yang dibangun/dirasakan agar gairah atau semangat makan bertambah.

Menarik dari kisah injil hari ini yaitu bahwa banyak orang yang ikut Yesus, mendengarkan pengajaran-Nya,  bahkan sampai hari mulai malam, orang banyak itu tidak mendapatkan makanan yang dibutuhkan. Para murid bahkan meminta Yesus agar menyuruh orang banyak itu pulang dan mencari makan. Yesus dengan tegas meminta para murid-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan”. Sebuah perintah yang sekaligus menggugat kepedulian mereka untuk merasakan apa yang sedang dirasakan orang banyak itu. “Kamu harus memberi mereka makan” adalah perintah. Menuntut para murid bertanggungjawab atas orang banyak itu dengan memberi makan, dan bukan membiarkan atau menyuruh mereka pulang untuk mencari sendiri. Para murid ingin melepas tanggungjawab, ketika orang banyak itu ikut Yesus.

Hal berikut adalah, para murid merasa tidak mampu, karena yang ada pada mereka cuma lima roti dan dua ikan. Tetapi yang sedikit itu Yesus minta untuk dibawa kepada-Nya. Yesus memberkati, selanjutnya meminta para murid untuk membagi-bagikan kepada orang banyak itu. Yang sedikit itu, dibawa kepada Yesus dan selanjutnya menjadi berkelimpahan. Semua yang hadir makan sampai kenyang bahkan sampai sisa yang terkumpul dua belas bakul. Bagi Yesus, justru yang sedikit (lima roti dan dua ikan) sangat berarti. Orang harus menghargai yang sedkit. Tidak harus yang banyak baru berarti. Sesuatu yang besar atau banyak, harus mulai dari yang kecl atau yang sedikit. Sudah menjadi modal awal untuk menjadi banyak dari yang sedikit itu.

Perisitiwa ini mau menyadarkan para rasul, juga kita, bahwa: orang harus memiliki hati yang peduli, bukan melepas tanggungjawab atas orang banyak yang tidak memiliki (makanan); juga tidak perlu merasa tidak berarti atas yang sedikit; dan orang harus dengan hati yang tulus untuk membagi-bagikan kepada orang lain setelah mendapat berkat dari Tuhan Yesus. Kesadaran ini harus terus ditumbuh-kembangkan dalam diri para murid, juga dalam diri kita, agar mukjizat perbanyakan roti itu bisa terjadi. Menjadi berkat bagi orang lain.

Bertepatan dengan pesta hari ini, Yesus mengajak dan menyadarkan kita untuk belajar dari Yesus. Yesus tidak memberi roti yang hanya dapat mengenyangkan tubuh jasmani kita, tetapi lebih kepada lapar jiwa kita. Ketika kita lapar dan haus akan kedamaian, cintakasih, kebenaran, keadilan, persaudaraan, pengampunan, dll… Yesus  adalah sang Roti hidup, yang memiliki hati yang peduli, yang sangat bertanggungjawab atas keselamatan hidup kita, memberi seluruh diri-Nya, hidup-Nya bagi santapan jiwa kita. Yesus menjadi ekaristi, yang dibagi, dipecah-pecahkan bagi semua yang datang kepada-Nya. Pemberian diri dari Tuhan Yesus dalam Ekaristi adalah kepenuhan cinta ilahi. Dalam Ekaristi Ia tidak hanya memberi kita pahala-Nya, penderitaan-Nya, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya sendiri. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56). Pemberian diri Yesus kepada kita dalam bentuk makanan adalah tingkat cinta yang paling tinggi dan istimewa. Ia memberikan diri-Nya kepada kita untuk bersatu secara total dengan kita, sebagaimana makanan melebur menjadi satu dengan orang yang memakannya.

Maka, Ekaristi menjadi sumber dan puncak hidup beriman kita. Sumber karena tanpa Ekaristi kita tidak bisa hidup, dan segala perjuangan hidup kita mengarah dan berpuncak pada Ekaristi. Di dalam dan melalui Ekaristi, kita menimba rahmat, kekuatan dan berkat untuk terus membagikannya dan menjadi berkat bagi orang lain. Bila demikian, kita akan merasa aman, damai dan tenang, sebab,”hanya dekat Allah saja aku tenang, dari Dialah keselamatanku” (Mzm 62:2). Maka, kita patut bangga dan merasa bahagia dan syukur, ketika kepada kita dikatakan, “Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan Tuhan.”. Dialah Roti hidup, santapan jiwa kita.

 

***********

 

Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *