Renungan Hari Raya  Pentakosta: “Utuslah Roh-Mu ya Tuhan, dan jadi baru seluruh muka bumi”

Bacaan: Kis. 2:1-11; Rm.8:8-17/1Kor 12:3b-7,12-13; Yoh.14:15-16. 23b-26

oleh: RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

 Hari ini adalah hari lahirnya Gereja; hari turunnya Roh Kudus ke atas para Rasul. Peristiwa Pentakosta turunnya Roh Kudus adalah sebuah titik awal yang membangkitkan semangat para rasul yang sebelumnya takut, bersembunyi, tidak berani tampil, kini dengan keberanian yang dipenuhi Roh Kudus mewartakan Yesus yang bangkit kepada segala bangsa.

Hari raya Pentakosta dirayakan orang Yahudi tujuh minggu atau 50 hari sesudah Paskah, mereka mengenangkan pembebasan dari perbudakan di Mesir. Bagi mereka hari raya ini memiliki duka makna: 1) mengenangkan pemberian Hukum Taurat kepada Musa di Gunung Sinai, dan 2), mengucap syukur atas panen yang mereka dapatkan dari tanah mereka (Im. 23:15-21). Dari gandum hasil panenan itu mereka membuat dua roti yang melambangkan dual oh batu yang bertuliskan hukum Allah. Dalam ibadat hari raya ini dibacakan kisah tentang peristiwa Sinai: Tuhan menampakkan diri kepada umat-Nya dalam badai dan api untuk memberikan hukum Allah kepada mereka (Kel 19-20). Pentakosta merupakan satu dari tiga hari raya Yahudi (dua yang lain, Paskah dan Pondok Daun) yang mewajibkan semua orang laki-laki berziarah ke Yerusalem. Karena itu tidak mengherankan bahwa pada hari-hari itu banyak orang Yahudi dari berbagai negeri datang ke kota itu untuk mengambil bagian dalam pesta Pentakosta. Turunnya Roh Kudus  atas para Rasul bertepatan dengan Hari Raya Pentakosta Yahudi. Karena itu, orang Kristen memperingati Pentakosta untuk mengnenangkan peristiwa yang dialami oleh para rasul itu.

Para rasul bersama beberapa perempuan serta Maria dan saudara-saudara Yesus berkumpul dan berdoa di suatu rumah (Kis 1:13-14). Ketika itulah Roh Kudus turun atas mereka. Roh Allah yang digambarkan dengan lidah-lidah api itu bertebaran dan hinggap pada tiap-tiap rasul. Hal ini menunjukkan bahwa penerimaan Roh Kudus bukanlah pengalaman masal saja, juga bukan pengalaman beberapa orang terpilih, tetapi pengalaman semua murid secara pribadi.

Roh Kudus merupakan daya ilahi yang dengan-Nya Allah tampak dan berkarya dalam dunia manusia. Roh Kudus  yang adalah kekuatan dan daya ilahi itu menampakkan diri dalam berbagai rupa dan bekerja dalam berbagai cara, Kadang Roh itu hadir sebagai daya ajaib, kadang memberi memberi kemampuan untuk mengajar, memimpin, melayani, dan sebagainya. Dalam peristiwa ini kehadiran-Nya berkaitan dengan bahasa, pewartaan, dan kuasa untuk berbicara (ay.4). Roh Pentakosta merupakan Roh Nubuat: Ia membantu para murid memahami Firman Tuhan dan mendorong mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain. Roh Pentakosta adalah Roh Pewartaan (bdk. Kis 4:8,31). Para rasul yang dipenuhi dengan Roh Kudus menjadi mampu berkata-kata tentang perbuatan-perbuatan besar dari Allah, yaitu segala yang dilakukan Allah melalui Yesus Kristus. Roh ini juga menjadi kekuatan yang diberikan kepada para murid untuk menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8). Orang-orang Galilea itu sanggup berbicara tentang Yesus Kristus dengan bahasa yang dapat dipahami oleh orang-orang yang datang dari segala penjuru dunia.

Roh Kudus menolong para rasul untuk menjadi saksi Kristus, mewartakan kabar gembira yang dibawa Yesus; dan Roh Kudus telah mengubah mereka, menjadi semakin berani. Karena itu, setiap orang (kita) yang percaya kepada Kristus dan mengikuti-Nya juga dipanggil untuk menjadi saksi-Nya; Roh Kudus mendorong orang beriman untuk berani memberi kesaksian tentang karya keselamatan Kristus. Kita pun yang menerima Roh Kudus yang sama, kiranya bersedia untuk diperbaharui, menjadi manusia baru. Hidup dalam semangat baru, semangat Roh Kudus, semangat kasih dan pengampunan, semangat keberanian dan sukacita untuk terus mewartakan Kristus di jaman penuh tantangan ini dengan keyakinan bahwa, Roh Kudus yang diutus oleh Bapa dalam nama Yesus, “Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”. Roh Kudus itu bukan sekedar penghibur, tetapi berperan menjadi pembela, sehingga para murid, kita semua mendapat kekuatan untuk memperjuangkan apa yang benar dan bernilai di hadirat Allah.

Kita berdoa, Utuslah Roh Kudus-Mu ya Tuhan, dan perbaharuilah hati dan hidup kami, kuduskanlah kami, dan mampukanlah kami untuk mencintai dan memberi, kini dan sepanjang masa. Amin.

***********

 

Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *