Renungan Hari Minggu IV Prapaskah: Kisah Anak yang Hilang

Bacaan: Yos 5:9a, 10-12; 2Kor 5:17-21; Luk 15:1-3, 11-32

Oleh RD. Frans Emanuel da Santo, Pr

 

Kisah injil ini diberi judul “kisah anak yang hilang”; namun sebenarnya kisah tentang Bapa yang baik hati, Bapa yang murah hati dan mengampuni. Konteks perumpamaan Yesus ini disampaikan ketika para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia; sementara orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut, tidak setuju karena Yesus bergaul dan makan bersama orang-orang yang dianggap sebagai orang berdosa. Melihat dan mencap orang lain berdosa dan merasa diri sebagai orang yang tidak berdosa justru merupakan sebuah kesalahan besar.

Sikap seperti ini justru dikecam oleh Yesus. Perumpamaan anak sulung dan bungsu dalam kisah injil ini mau mengkritik sikap para ahli Taurat dan Farisi. Si bungsu yang meminta pembagian harta warisan dan pergi menghabiskannya sampai hidupnya menderita, menyadarkan dirinya akan Bapa yang berkelimpahan kasih sayang dan kebaikan, penuh sukacita dan kebahagiaan. Ternyata, menjauhkan diri dari kebersamaan dengan bapa, sambil terus jatuh dalam gelapnya dosa, membangkitkan kesadaran baru untuk kembali. “Ia menyadari keadaannya”. Keadaannya sebagai orang berdosa. “Aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa…” Suatu ungkapan hati penuh penyesalan. Dan yang terjadi selanjutnya adalah, “bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya”. Kemauan dan keberanian untuk bangkit dan pergi kepada bapa adalah suatu sikap tobat yang luar biasa. Sikap ini harus menjadi sikap setiap orang beriman, sikap kita. Ketika kita jatuh dalam gelapnya dosa, jauh dari bapa dengan segala kelimpahannya; maka kita pun harus berani bersikap seperti si bungsu itu. Menyadari keberdosaan, berani bangkit dan kembali ke pangkuan bapa. Tanpa kesadaran, kemauan dan keberanian untuk bangkit dan kembali, kita akan terus tenggelam dalam kegelapan dosa yang tak pernah berahir.

Tobat tidak hanya dan tidak Cuma sampai pada menyesal, tapi harus bangkit dan kembali. Kembali kepada Bapa, yaitu kembali memulai hidup baru dalam semangat baru. Kita dipanggil untuk hidup dalam pertobatan yang terus menerus, karena Allah adalah Bapa yang dengan setia menunggu kembalinya kita. Ia melupakan semua salah dan dosa kita. Dialah Bapa yang maharahim, mahapengampun, penuh belaskasih. Masa prapaskah ini menjadi kesempatan bagi kita untuk bangkit dan kembali kepada Bapa. Tuhan memberkati kita.**

RD. Frans Emanuel da Santo, Pr

Sekr. Komkat KWI – Jakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *