Paus Fransiskus: Allah Mau Kita Menjadi Benar Bersama-Nya

AP3830279_Articolo.jpg

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa melakukan kehendak Allah tidak berarti tidak boleh marah pada Allah.

Paus Fransiskus mengatakan kepada umat beriman bahwa relasi mereka dengan Allah harus sejati sehingga saat kita mengatakan kepada-Nya: “saya di sini!” Ini memang nyata.

Mengomentari bacaan hari ini – surat kepada orang Ibarni – Paus Fransiskus mengatakan ketika Kristus datang ke dunia: “kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, kurban bakaran dan kurban dosa Engkau tidak berkenan, Lihatlah: aku di sini, aku datang untuk melaksanakan kehendak-Mu, ya Allah.”

Kata—kata Yesus ini menurut Paus Fransiskus, merangkum sejarah keselamatan.

Setelah Adam, yang bersembunyi karena takut akan Allah, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Allah memanggil dan mendengar jawaban manusia yang berseru kepadanya: “Aku di sini. aku bersedia.”

Paus mengingat rangkaian jawaban positif dimulai dari Abraham, Musa, Elia, Yesaya, Yeremia… sampai ke Maria “ini aku” dan yang terakhir dari Yesus.

Dialog itu bagi Paus Fransiskus adalah dialog yang sungguh-sungguh, bukan hanya karena serangkaian jawaban seketika itu saja, melainkan karena “Allah berbicara kepada mereka yang dipanggil.

“Allah selalu berada dalam dialog dengan mereka yang Dia undang ke jalan-Nya… dan Dia memiliki kesabaran yang berlimpah.”

Sebagai contoh, Paus Fransiskus merujuk pada kita Ayub yang memuat sebuah dialog panjang antara Ayub yang tidak paham, dengan Tuhan yang menjawab pertanyaan semua pertanyaan Ayub.

“Pada akhirnya, apa yang Ayub katakan kepada Allah? ‘Ah Tuhan, Engkau benar: saya mengetahui Engkau hanya karena perkataan orang lain tetapi sekarang mataku telah melihat Engkau: inilah aku”

Hidup Kristiani, merupakan kelanjutan dari jawaban “ini aku”. Kelanjutan dari kehendak untuk melakukan kehendak Tuhan.

Dalam Misa ini, Paus Fransiskus mengajak kita untuk merefleksikannya dalam cara kita sendiri dengan mengatakan “ini aku” kepada Tuhan.

“Apakah saya bersembunyi seperti Adam dan tidak memberi jawaban? Atau, ketika Tuhan memanggil, langsung menjawab ‘ini aku’ atau ‘apa yang Engkau ingini dariku?’ Apakah saya lari seperti Yunus, yang tidak mau mengerjakan apa yang Tuhan minta darinya? Atau apakah saya berpura-pura melakukan kehendak Tuhan, padahal hanya tipuan, seperti para ahli hukum yang Yesus lawan karena mereka berpura-pura? Atau apakah saya seperti kaum Lewi dan Imam yang meninggalkan orang miskin yang dirampok dan meninggalkannya sampai mati…. jawaban seperti apa yang merupakan jawaban saya pada Tuhan?”
Dengan menunjukkan bahwa Tuhan memanggil kita setiap hari, mengundang kita untuk datang kepada-Nya, Paus mengatakan bahwa kita dapat “berbicara dengan Allah.”

“Seringkali orang mengatakan kepada saya bahwa ketika mereka berdoa mereka marah dengan Tuhan…ini juga adalah doa! Tuhan senang ketika kamu mengatakan kepada-Nya apa yang sungguh kamu rasakan karena Dia adalah Bapa” kata Paus Fransiskus.

Daripada bersembunyi, menjadi palsu atau lari, Paus Fransiskus menyimpulkan, bahwa setiap dari kita memiliki cara untuk mengatakan “aku datang” kepada Tuhan dan melakukan kehendak-Nya dalam hidup kita.

“Semoga Roh Kudus memberikan kita berkat untuk menemukan jawaban itu” kata Paus Fransiskus menutup homilinya. (Berita Vatikan, Terj. Ignasius Lede).

Sumber: http://en.radiovaticana.va/news/2017/01/24/pope_francis_god_wants_us_to_be_true_with_him/1288008
Gambar: http://media02.radiovaticana.va/photo/2017/01/23/AP3830279_Articolo.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *