Pada Rabu (04/01/2017) Paus Fransiskus melanjutkan refleksinya tentang harapan Kristiani, membicarakan tentang luka yang tidak dapat dihibur dari orangtua yang kehilangan anak. Paus Fransiskus fokus pada figur Rahel, Istri Yakub, dalam Perjanjian Lama yang dijelaskan oleh Nabi Yeremia sebagai tangisan pahit pedih untuk anaknya di pengasingan.
Dalam Kitab Kejadian, kita belajar bahwa Rahel meninggal saat melahirkan, memberikan hidup kepada anak keduanya, Benyamin. Tetapi Nabi Yeremia berbicara tentang kesedihannya yang tidak terhiburkan saat kehilangan anaknya yang dikirim ke pembuangan.
Tidak ada kata-kata atau tindakan, yang dapat menghibur seorang Ibu yang berhadapan dengan tragedi kehilangan anak.
Ada banyak ibu hari ini, yang menangis dan tidak bisa dihibur, tidak mampu menerima kematian sia-sia seorang anak. Luka Rahel, merangkum penderitaan semua ibu dan air mata semua orang yang menangis karena sebuah kehilangan yang tidak dapat tergantikan.
Cerita ini mengajarkan kepada kita betapa lembut dan sulit untuk menghibur duka orang lain. Sebelum bicara tentang harapan, kita harus menangis bersama mereka dan jika kita tidak dapat menemukan kata-kata untuk menghibur, lebih baik diam, menawarkan sebuah sikap atau sebuah kepedulian.
Allah kemudian menjawab tangisan Rahel, berjanji bahwa anaknya akan kembali ke tanah kelahiran mereka. Tangisan pahit dari seorang perempuan yang meninggal saat melahirkan menjadi benih dari hidup yang baru dan meneruskan harapan baru.
Dalam cara yang sama, kematian Kristus di Salib menawarkan hidup dan harapan kepada anak-anak di Betelehem yang tak tahu apa-apa tetapi dibunuh oleh Raja Herodes di hari kelahiran Yesus.
“saya tidak tahu bagaimana menanggapinya. Sederhananya saya mengatakan, lihat pada salib: Allah memberikan kita anak-Nya, Dia menderita dan semoga kamu bisa menemukan jawaban di sana”.
Anak Allah masuk ke dalam penderitaan manusiawi kita, merasakan luka kita dan menyambut kematian. Dari salib, dia memberikan hidup baru kepada Maria, menjadikan Maria sebagai Ibu semua orang beriman. Melalui tangis Maria dan Rahel, Yesus menggenapi nubuat Nabi dan mewariskan harapan baru. (Berita Vatikan, Terj. Ignasius Lede)
Sumber: http://en.radiovaticana.va/news/2017/01/04/pope_tears_of_a_mothers_pain_become_seeds_of_life_and_hope/1283490
Gambar: http://media02.radiovaticana.va/photo/2017/01/04/AP3802801_Articolo.jpg

