Umat Katolik meningkatkan iman dengan melindungi lingkungan hidup

ucan-gamb.jpg

Umat Katolik di Sri Lanka merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan mempromosikan ensiklik Paus Fransiskus, Laudato si’, sebagai cara meningkatkan iman mereka dengan melindungi lingkungan hidup.

Kithu Dana Pubuduwa, gerakan pembaruan Katolik terbesar di Sri Lanka, menyelenggarakan sebuah acara di Sri Prasansa Ramaya di Ragama, Keuskupan Agung Kolombo, 3-5 Juni, untuk fokus pada Laudato si’.

Acara ini terdiri dari pameran, konferensi mini melalui video, teknik budidaya pupuk organik, film pendek dan pementasan budaya.
“Kami membagikan terjemahan ensiklik itu kepada berbagai kelompok untuk membuat ide-ide dan melakukan melalui proses melihat, menilai dan bertindak sehubungan dengan krisis ekologi dan lingkungan yang kita hadapi saat ini,” kata Delryn Wanigaratne, anggota panitia acara tersebut.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang ditetapkan oleh Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa, diperingati setiap 5 Juni dan bertujuan membantu masyarakat mengambil tindakan untuk melindungi alam dan bumi.

Namun, penyelenggara acara itu mengatakan mereka ingin merayakan hari itu sebagai ulang tahun pertama Laudato si’, yang diterbitkan pada 24 Mei 2015.
“Jika orang-orang kami memiliki pendidikan ekologi dan spiritualitas, mereka tidak akan menggunakan pupuk kimia dan pestisida berbahaya yang telah meracuni lahan pertanian dan sumber air di negara ini,” kata Wanigaratne.

“Upaya kami adalah mempromosikan makanan bebas racun, melindungi lingkungan kita, tanah kita, air dan makanan kita dari racun akibat bahan kimia,” katanya.
“Ini adalah kesempatan besar untuk berdiskusi dengan para ahli,” kata Nimal De Silva, seorang mahasiswa yang menghadiri acara tersebut.

Sanjeewa Indrajith Wijesinghe dari Keuskupan Chilaw mengatakan ia mengadakan kampanye tanda tangan pada acara tersebut untuk dikirim kepada Presiden Sri Lanka guna membuat kebijakan melindungi lingkungan dan menolak proyek-proyek lokal dan internasional yang merugikan keanekaragaman hayati.

Ia mengatakan terlalu sering menggunakan bahan kimia dalam produksi pangan telah menimbulkan racun bagi lahan pertanian yang mempengaruhi kehidupan ribuan orang miskin dengan penyakit ginjal kronis, hilangnya fungsi ginjal.

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 15 persen penduduk berusia 15-70 tahun di Provinsi Tengah Utara dan Provinsi Uva telah dipengaruhi oleh penyakit ini.

Sumber: ucanews.com/ http://indonesia.ucanews.com/2016/06/07/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *