Setelah Keuskupan Manado ditetapkan KWI pada sidang tahun 2015 lalu sebagai tuan rumah Indonesian Youth Day (IYD) 2016, Keuskupan Manado pun bergerak cepat mempersiapkan segala sesuatu baik secara fisik maupun rohani untuk mensukseskan pelaksanaan kegiatan Orang Muda Katolik se-Indonesia itu. Panitia IYD Keuskupan Manado dikomandani Rm. John Montolalu, Pr yang juga sebagai Sekertaris Keuskupan Manado. Secara fisik, sedang dibangun sebuah venue utama yang berbentuk amphitheater di Desa Lotta, berdampingan dengan wisma Lorenzo pusat kateketik-pastoral Keuskupan Manado. Persiapan secara rohani pun digiatkan antara lain dengan doa novena dan mengiringi Salib IYD sambil mendaraskan Doa Kerahiman Ilahi dan Rosario dari stasi-ke stasi .
Seiring perkembangan jaman, IYD ini nampaknya sangat penting. Para waligereja Indonesia pun merestui dan mendukung kegiatan OMK ini. Disadari bahwa orang muda dalam perjumpaannya dengan kenyataan dunia, perlu saling berjumpa,memberi kesaksian dan saling meneguhkan. Salah satu wujud perjumpaan ini adalah melalui kegiatan Indonesian Youth Day, yang menghimpun sebanyak mungkin orang muda Katolik dari seluruh penjuru nusantara, untuk berjumpa, memberi kesaksian dan saling meneguhkan.
Berikut adalah informasi dari Kantor Berita Katolik Asia (UCAN) tentang persiapan panitia nasional IYD yang diselenggarakan oleh panitia nasional IYD sepekan yang lalu di kantor KWI Jakarta. (Daniel B.Kotan).
Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) akan segera menyelenggarakan Indonesian Youth Day (IYD) Ke-2 untuk mengajak Orang Muda Katolik (OMK) merayakan kemajemukan.
“Indonesian Youth Day adalah perayaan, pertemuan orang muda untuk mensyukuri keberagaman kita demi kebaikan bersama,” kata Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi, ketua Komisi Kepemudaan KWI, pada konferensi pers yang diadakan di Kantor KWI di Jakarta, Kamis (19/5).
Menurut prelatus itu, Komisi Kepemudaan KWI memutuskan untuk mengambil tema “OMK: Sukacita Injil di Tengah Masyarakat Indonesia yang Majemuk” karena “kemajemukan itu menjadi anugerah, berkah bagi keberagaman kita, bagi kebersamaan kita untuk mengelola kehidupan yang semakin baik.”
“Maka dalam pertemuan raya atau IYD, kita akan membangun solidaritas dan kebersamaan dan mensyukuri keberagaman kita yang dibingkai oleh pendiri bangsa kita dengan Pancasila,” lanjutnya.
Berbicara kepada ucanews.com seusai konferensi pers, Uskup Prapdi mengatakan bahwa tema itu dipilih sesuai dengan situasi bangsa ini.
“Di mana-mana sekarang ini banyak konflik horisontal, apa pun masalahnya. Artinya, mungkin adanya pemahaman mengenai perbedaan itulah yang belum begitu dipahami. Perbedaan itu sebenarnya kehidupan. Kalau kita sama, kita tidak akan hidup. Dengan cara seperti itu kita menyadari bahwa kita berbeda,” lanjutnya.
Meskipun demikian, Uskup Prapdi mengatakan bahwa kondisi OMK di negeri ini sedang mengalami perkembangan.
“Di setiap wilayah itu sedang ada sebuah gerakan menuju adanya perkembangan yang baik. Tetapi ada kesenjangan sangat besar. Misalnya di Kalimantan dan Papua, OMK-nya sangat berbeda dengan OMK di Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan sekitarnya. Bekal yang ada dari keluarga itu kemungkinan besar ada yang begitu terbatas,” katanya, seraya menekankan perlunya mengoptimalkan peran keluarga sebagai basis hidup beriman.
Ketua Umum IYD 2016 Pastor John Montolalu mengatakan bahwa sedikitnya 3.000 OMK dari 37 keuskupan akan berpartisipasi dalam program yang akan digelar di Keuskupan Manado di Sulawesi Utara pada 1-6 Oktober nanti.
“Dipilih Manado karena sesuai dengan tema. Keuskupan Manado melayani tiga propinsi: Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Untuk Propinsi Sulawesi Utara, mayoritas penduduknya Kristen (Protestan). Propinsi Gorontalo dan Propinsi Sulwesi Tengah mayoritas penduduknya Muslim. Umat Katolik yang ada di situ terhitung minoritas,” katanya kepada ucanews.com.
“Tapi sambil mengalami bahwa kita minoritas di situ, kenyataannya umat Katolik boleh merasakan aman, nyaman hidup bertetangga dengan agama-agama lain. Itulah pesan dari kerukunan yang ada di wilayah Keuskupan Manado,” lanjutnya.
Menyinggung soal IYD 2016, Pastor John mengatakan bahwa peserta akan mengikuti program live-in selama tiga hari pertama di rumah-rumah penduduk baik yang beragama Katolik maupun non-Katolik. Program selanjutnya adalah formasi dalam bentuk seminar atau katekese.
“Diharapkan semua anggota kontingen yang sudah ambil bagian di dalamnya pulang dengan satu semangat baru. Diharapkan mereka menyebarkan kekayaan yang mereka sudah dapatkan selama mereka ada di Keuskupan Manado dan belajar jadi misionaris di tengah lingkungan OMK, umat Katolik dan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Citra Scholastika, seorang penyanyi muda, mengakui bahwa OMK membutuhkan suatu wadah yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi mereka untuk tetap berpegang teguh pada iman.
“Tema mengenai sukacita Injil di tengah masyarakat yang majemuk sangatlah cocok diterapkan kepada OMK di Indonesia mengingat berbagai kultur, suku, etnis dan agama ada di Indonesia. Saya harap banyak dari teman-teman OMK yang bisa ikut berkontribusi dan mambawa pulang nilai-nilai baik,” katanya.
IYD Ke-1 diselenggarakan pada 20-26 Oktober 2012 di Sanggau, Kalimantan Barat, dengan tema “Berakar dan Dibangun Dalam Yesus Kristus, Berteguh Dalam Iman.”
(Katharina R. Lestari, Jakarta)
Sumber artikel dan gambar: ucanews.com/ http://indonesia.ucanews.com/2016/05/20

