Simposium Nasional Tentang Pembelajaran Di Sekolah Dasar

simposium-1.jpg

Balitbang Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengadakan Simposium dua hari tentang pembelajaran di Sekolah Dasar. Simposium ini bertujuan untuk mendapatkan masukan tentang pola dan model pembelajaran, sistem penilaian, serta desain pembelajaran sesuai dengan semangat Kurikulum 2013.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, bp. Sucipto, dalam pembukaan simposium menekankan tentang pentingnya mempersiapkan kurikulum dari segala aspek sesuai tuntutan perkembangan zaman, dan tentu saja sesuai semangat UUD 45 serta semangat nawacita dari pemerintahan presiden Joko Widodo saat ini.
Para peserta yang hadir dalam simposium tersebut adalah para guru atau praktisi lapangan, para pemerhati pendidikan, para dosen ilmu pendidikan serta para narasumber untuk pelbagai matapelajaran, baik tematik maupun pendidikan agama dan budi pekerti.

Untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti, tampil sebagai pembicara atau narasumbernya adalah Bp. Daniel Boli Kotan. Di hadapan peserta simposium, Daniel menjelaskan tentang pola pembelajaran pendidikan agama Katolik yang berbasis pada pola katekese atau komunikasi iman. Dikatakan bahwa dalam pola katekese dengan langkah proses; penyadaran, pergumulan dan penghayatan iman, secara implisit terkandung pola pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang menggunakan 5M yaitu mengamati, , menanya, mencari informasi, mengasosiasi dan mengomunikasikan. Berkaitan dengan penilaian yang dikembangkan dalam Kurikulum 2013, diungkapkan bahwa di lapangan (sekolah-sekolah) sistem ini sangat merepotkan guru mulai dari proses sampai dengan input hasil akhir. Sistem penilaian hasil belajar ini perlu disederhanakan lagi agar guru tidak habis banyak waktunya untuk menyelesaikan tugas administratif dan meninggalkan tugas utamanya sebagai guru dan pendidik bagi para peserta didik di sekolah. Meski demikian hal-hal yang positif dari sistem penilaian hasil belajar tetap dipertahankan dan kita cukup mendesainnya kembali untuk memperlancar tugas guru di lapangan. Pada kesempatan lain, ibu Yenny Suria, guru dari SD Strada Bekasi menyampaikan pengalaman praksisnya di lapangan menggunakan pola pembelajaran saintifik dan katekese dalam kegiatan pembelajaran di sekolahnya. Dikatakan bahwa guru perlu kreatif menciptakan kegiatan belajar aktif dengan menggunakan berbagai pola pembelajaran.

Sebagai kesimpulan penyampaian materinya, Daniel Boli Kotan mengutip apa yang dikatakan Prof Dr. Yohanes Surya, bahwa “ Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar”. Artinya, bahwa apapun bentuk dan isi kurikulum, gurulah yang paling menentukan. Kurikulum yang bagus namun jatuh ke tangan guru yang tidak profesional menghasilkan SDM (peserta didik) yang amburadul. Namun apabila kurikulum yang jelek itu jatuh ke tangan guru yang profesional; kreatif dan dan inovatif maka akan menghasilkan SDM yang berbobot. Maka diusulkan ke depan, perlu pendidikan dan pelatihan guru-guru secara sistematik, merata dari Sabang sampai Merauke. Semua stakeholders dunia pendidikan harus kerja sama untuk membangun pendidikan di Indonesia secara bemutu melalui guru-guru yang profesional.

Setelah para narasumber menyampaikan materinya dilanjutkan dengan diskusi serta mengusulkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bentuk rekomendasi oleh peserta simposium kepada kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk dipertimbangkan dan ditindaklanjuti (admin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *