Dari Arena SAGKI 2015: Keluarga Katolik Sukacita Injil

mantari agama.jpg

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) ke-IV tahun 2015 dibuka dengan perayaan Ekaristi meriah, dihadiri oleh para Uskup se-Indonesia dan para utusan dari 37 Keuskupan dengan total peserta sebanyak 560 orang. Perayaan Ekaristi dengan selebran utama Ketua Presidium KWI, Mgr. Ignatius Suharya, Pr menjadi sangat agung karena didampingi oleh para Uskup seluruh Indonesia, berlangsung di Ruang Sidang Utama Via Ranata-Bogor (Senin,2/11/’15).

Dalam kotbahnya Mgr. Suharyo menegaskan, keluarga adalah kerahiman dan kemurahan hati Allah. Berdasarkan kutipan Injil yang dipilih untuk misa pembukaan ini, sebetulnya seksi Liturgi yang bisa menjelaskan. Namun saya hanya coba memahami teks Injil ini yang dibingkai dengan berita di awal yaitu khabar dari Malaikat Gabriel dan diakhiri dengan Malaikat pergi meninggalkan Maria seorang diri. Sedangkan ditengah-tengahnya ada dialog antara Malaikat Gabriel dan Maria.

Pertanyaannya, sesudah Malaikat pergi, siapakah yang mendampingi Maria? Maria berjalan sendiri dan dalam teks diceritakan bahwa Maria pergi mengunjungi saudaranya Elisabet dan masing-masing menemukan peran sendiri dalam rencana Allah. Saya bertanya dalam diri saya, mungkinkah perjumpan antara Maria dan Elisabet itu pencerminan dari Gereja Rumah Tangga? Karena saya sendiri bertanya maka saya pun berusaha menemukan jawabannya. Saya sendiri menjawab, Gereja RumahTangga adalah Gereja di mana ayah, ibu, kakek-nenek, dan anak-anak berkumpul dan berdoa serta mendengarkan firman Tuhan dan berusaha menjalankannya dalam hidup-sehari-hari, baik dalam hidup pribadi maupun dalam hidup yang lebih luas yang saling meneguhkan dalam semangat persaudaraan. Harapan saya semoga SAGKI tidak sekedar menjadi siding biasa tetapi bias memetik buah-buah perjumpaan sebagaimana perjumpaan Maria dan Elisabet saudaranya.“

Ketua umum SAGKI IV 2015 dalam laporannya mengatakan, “Sesuai Sidang Sinodal tahunan KWI pada tanggal 3-13 November 2014 lalu memutuskan bahwa tahun 2015 akan diadakan SAGKI ke-IV di Via Renata – Bogor. Temanya focus refleksi dan perhatian kepada panggilan dan perutusan keluarga kristiani, sebagai Gereja kecil, yang mempunyai peranan sangat vital bagi pertumbuhan Gereja dan masyarakat. Maka tema SAGKI 2015 adalah :Keluarga Katolik,Sukacita Injil : Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang Majemuk.”

Ketua Presidium KWI, Mgr. Suharyo dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas kehadiran Menteri Agama RI, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia sangat meneguhkan kita. Terima kasih juga bagi Bapak Kardinal dan para Uskup se-Indonesia serta para utusan yang datang untuk mengikuti SAGKI 2015. Menurut Mgr. Suharyo, alasan utama mengapa tema ini di bahas karena peranan keluarga sangat penting bagi kehidupan Gereja dan Masyarakat. Keluarga adalah sel utama dan pertama bagi Gereja dan masyarakat. Sel utama itu saat ini hidup di tengah-tengah kehidupan yang diwarnai oleh individualisme, konsumerisme, sehingga banyak keluarga mengalami tantangan besar dalam melaksanakan tugasnya. Melalui SAGKI 2015 ini, diharapkan keluarga-keluarga Katolik Indonesia bersama-sama membangun wajah Eclesia Domestica, di mana keluarga sungguh menjadi tempat membangun persekutuan yang sejati, pengampunan, mengamalkan kasih persaudaraan, belarasa dan menjadi tempat pengungsian bagi orang-orang yang kehilangan harapan. Keluarga Kristiani dipanggil dan diutus untuk menjadi pusat iman yang hidup dan dengan demikian member kesaksian akan keselamatan.”

Duta Besar Vatikan, Mgr Antonio Guido Filipazzi dalam sambutannya mengatakan : “Saya sangat bersukacita dengan SAGKI dan berharap SAGKI 2015 dapat menghasilkan buah berlimpah keluarga Katolik dalam sukacita Injil. Komitmen kita adalah supaya keluarga Katolik dapat menjadi sakramen sejati, menjadi Sekolah pertama dan tempat pewartaan iman bagi anak-anak. Selanjutnya keluarga juga menjadi tempat pendidikan doa yang pertama. Kita harus dapat membangun Gereja menjadi Keluarga yang sejati, tempat kita masing-masing merasa dekat dan dikasihi-Nya. Dan kita perlu menghindari kehadiran keluarga yang sekedar lahiria, topeng belaka. Karena itu Gereja perlu hadir untuk mendukung keluarga untuk hidup seperti Keluarga Kudus Nasaret. Semoga Yesus, Maria dan Yosef melindungi seluruh Keluarga Katolik Indonesia.

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifudin yang hadir bersama Dirjen Bimas Katolik RI, Eusabius Binsasi dalam sambutannya mengatakan: “Saya bersyukur karena akhirnya bias hadir dalam acara SAGKI ini meskipun dari pagi hingga sore jam 15.30 masih sibuk dengan rapat cabinet bersama Presiden RI. Akan tetapi demi mengikuti SAGKI saya datang ke meja sidang bapak Presiden untuk pamit lebih dulu untuk datang member sambutan dan membuka acara SAGKI 2015 di Via Renata. Saya tidak menduga bahwa bapak Presiden sangat antusias mengiyakan permintaan sayadengan mengatakan, “silakan, layani umat…”. Karena itu saya berjuang untuk datang ketempat ini meskipun agak jauh dari Jakarta dan macet.Saya juga bersepakat dengan apa yang dikatakan romo dan bapak Uskup tadi bahwa keluarga adalah sekolah yang pertama.

Saya juga sangat bersyukur karena SAGKI 2015 ini membicarakan tema tentang keluarga, karena kita dapat membedakan hal yang baik dan buruk itu dari keluarga, dari ibu dan bapak kita masing-masing. Hanya saja perkembangan zaman ini menunjukkan anak-anak tidak lagi bertanya kepada orangtua tetapi dapat mengakses informasi dari mana saja, tanpa bias menyeleksi dengan baik sesuai nilai-nilai kebajikan dan nilai-nilai agama.Karena itu keluarga menjadi sangat strategis untuk memaknai substansi atau esensi dari agama itu sendiri. Sebagai Menteri Agama RI, saya sangat yakin bahwa umat Katolik mempunyai pengalaman panjang dalam upaya membina keluarga untuk menjadi keluarga yang baik dan juga menjadi masyarakat yang baik. Sejujurnya saya mau mengatakan bahwa apa yang dilakukan umat Katolik, khususnya dalam mempersiapkan keluarga melalui KPP (Kursus Persiapan Perkawinan) adalah yang terbaik dari yang lainnya. Dan saya sudah bicarakan kepada semua Dirjen untuk bias mencontoh apa yang baik dari Gereja Katolik dalam hal mempersiapkan keluarga melalui modul-modul pendampigan yang baik. Atas nama Pemerintah saya sangat mengapresiasi SAGKI 2015 ini. Tantangan kita kedepan tidak ringan, seperti adanya usulan untuk melegalkan perkawinan sesame jenis atas dasar HAM, demokrasi dan kebebasan berekspresi. Hal ini bila tidak disikapi dengan baik akan menimbulkan gesekan-gesekan di tengah kehidupan bersama. Semoga SAGKI 2015 ini dapat berjalan dengan baik.”

Pertemuan hari pertama ditutup dengan orientasi acara dan doa completorium. Semua peserta juga diajak bersuka-cita dengan yel-yel SAGKI 2015 dan dengan lagu sambil bergoyang, “Keluarga Katolik, Sukacita Injil”.

Kontributor berita: Blasius Naya Manuk (peserta SAGKI 2015 dari Keuskupan Denpasar)
Credit foto: Blasius Naya Manuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *